t e m u i c i n t a . . . .

 “Aku suka kamu” Kataku lirih di dekat telinganya.
Ia tidak merespon sama sekali. Matanya hanya menatap kosong. Aku sendiri bingung dengan keadaan yang seperti itu. Aku berharap ia tersenyum lalu menyambut rasaku yang kian bergelora untuknya. Atau kalau tidak, mungkin ia bisa mengatakan … maaf, aku tidak bisa menerima hubungan ini, karena titik titik.. karena ini atau itu dan seterusnya…, tapi ini tidak. Ia hanya terdiam membisu, seakan aku tidak ada di dekatnya. Kata-kata yang kulontarkan hanyalah sebaris kata tanpa makna.
Sesaat kemudian, terjadi keheningan yang sangat. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, meski banyak hal yang ingin aku utarakan terutama tentang perasaanku, tentang diriku, atau kalau memungkinkan aku bisa bertanya tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang masa lalunya (yang mungkin kelam), atau tentang apa saja yang bisa memecah suasana. Aku sudah tidak lagi memiliki tema yang cocok untuk dibicarakan dalam kondisi seperti itu. Haruskah aku menggenggam tangannya agar ia terjaga dari pandangan kosong itu, lalu aku bisa lebih meyakinkannya pada kesungguhanku. Atau mungkin aku bisa menarik dagunya, lalu menantap matanya dengan lekat agar ia menyadari ketulusanku. Ah, tentu saja itu tidak sopan. Apalagi suasana café waktu itu begitu ramai. Yang terpenting adalah  aku sudah mengatakannya…, dan aku hanya bisa menunggu responnya. Tapi…,
“Sudah malam, ayo kita pulang.” Katanya singkat seraya menghabiskan lemon tea yang sepertinya tidak begitu ia sukai. Aku langsung berdiri, dalam keadaan yang serba salah. Aneh saja rasanya, layaknya anak kecil yang patuh dan penurut terhadap setiap kata ibunya. Aneh juga ketika suasana café yang semestinya begitu romantis berubah drastis, didera perasaan apatis, dan aku, aku kalau boleh ingin rasanya menangis, tapi tentu itu terlalu dramatis.
*   *   *
Malam begitu hening terasa. Hawa dingin menelusup melalui jendela kamar yang memang sengaja kubuka. Tubuhku terbaring lesu menatap langit-langit yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kucoba memejamkan mata yang terasa berat karena kantuk mendera. Dan aku begitu merasa tersiksa, karena lelap tak kunjung menerpa. Ya, pikiranku masih melayang mengembara, menelusuri jejak malam yang hitam pekat jelaga. Lalu tanpa sadar kusebut lirih namanya, bangkitkan rindu yang tak terkira.
Ada apa dengan semua ini? Sebegitu dramatiskah efek dari peristiwa sore tadi? Tidak! Aku tidak boleh terpengaruh oleh hal sepele semacam itu. Sebaiknya aku baca buku, atau mengerjakan segala sesuatu yang belum selesai. Tapi, semangatku seperti hilang ditelan gelisah. Aku tidak berdaya.
Memang, harus kuakui tentang kehadirannya. Ketika ia berada didekatku, aku merasakan kedamaian yang selama ini aku cari. Saat aku bersamanya, aku merasakan aliran darah semangatku tumbuh, dan merasa hidup. Dia mungkin tidak secantik perempuan-perempuan kota yang memenuhi pelataran mall. Kulitnya tidak seputih para  selebritis yang suka nampang di layar kaca dengan make-up berlebihan. Wajahnya juga tidak semanis bintang Korea yang digandrungi para remaja kini. Dia hanyalah perempuan sederhana. Tapi jujur, aku suka melihat matanya yang kadang memancarkan sinar kedamaian. Aku sering membayangkan alisnya yang tebal, menghiasi raut wajahnya yang mungil. Aku senang melihat keindahan rambutnya yang rapi tertata. Aku juga seringkali terkesan ketika melihat jari-jari mungilnya yang dihiasi kuku-kuku bersih nan indah. Intinya, aku mengagumi segala hal yang melekat pada dirinya.
Ingin rasanya menulis bait-bait puisi untuknya seperti kalimat-kalimat yang dilontarkan Romeo kepada Juliet. Tapi sayang, dia tidak begitu suka membaca sastra. Atau seandainya jika memungkinkan aku bisa ke kediamannya, sekedar mengatakan bahwa aku merindukannya, lalu memberikan sekuntum bunga, seperti pangeran yang tengah memadu kasih dengan putri idamannya. Tapi tentu saja ia sudah terbuai lelap, dan bermimpi indah tentang masa depannya yang indah pula.
Ah, iya, masa depan. Mungkin itulah yang menggangu pikirannya. Hal itulah yang membuat mata indahnya seringkali menatap kosong. Dia tidak mungkin menerimaku sebagai kekasih hatinya, karena aku hanyalah laki-laki yang belum memiliki masa depan yang jelas. Aku hanyalah seorang laki-laki yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi tentang revolusi kebangsaan, idealis, anti kapitalis, memusuhi feodalis, dan buruknya lagi seorang yang mengaku dirinya penulis, tapi tidak pernah bisa populis.
Oh tidak. Tidak mungkin perempuan sesederhana itu mengukur-ukur segala kekuranganku, apalagi membandingkanku dengan laki-laki lain yang lebih menjanjikan. Tidak. Dia tidak seperti itu. Tetapi jika ia membandingkanku dengan laki-laki yang pernah bersemayam di hatinya???  Lalu dia mengingat betapa indahnya kenangan yang pernah ia lewati, betapa bahagianya rasa yang pernah ia jalani, dan betapa romantisnya waktu yang pernah ia lalui.
Jika hal itu yang memenuhi pikirannya, berarti aku belum kalah. Aku hanya perlu menemukan sesuatu yang bisa mengetuk pintu hatinya, agar bisa terbuka kembali, lalu dengan suka cita, aku akan membahagiakan hatinya. Tapi bagaimana jika yang ada di pikirannya justru tentang masa lalu yang telah mengkhianatinya? Bukankah seorang perempuan teramat sulit melupakan perasaan perih yang menusuk kalbunya? Selugu apapun seorang perempuan, jika pernah disakiti, maka ia akan merasa sangat sulit untuk menerima laki-laki lain, apalagi jika rasa sakit itu hingga kini masih menganga, menyayat lubuk hatinya, hingga tak mungkin lagi terobati. Kemudian aku, kehadiranku, kedekataknku, mungkin justru mengusik hatinya yang lelah. 
Badanku gemetar.  Perutku mulai terasa mual. Kepalaku begitu sakit tak terperi. Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku. Tapi pandangan mataku berkunang-kunang. Aku terjatuh lagi, dan ingatanku terasa menguap, meski sempat aku dengar suara sendu azan subuh dari muazin yang masih mengantuk. Lalu semuanya gelap. Sepi.
*   *   *
Matahari mungkin sudah sore saat aku terjaga. Aku tidak peduli. Toh, aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Aku tidak memiliki semangat lagi, tidak memilkirkan apa-apa lagi. Oh, ternyata benar kata orang, begitu sakit rasanya ketika cinta yang begitu tulus ditolak oleh seseorang yang selama ini diimpikan. 
Tiba-tiba HP ku bergetar mengagetkanku dari kelesuan. Ada sebuah sms masuk… Maz, dari tadi aq telpn kok gak diangkat2? tdr yah? Ntar mlm tmani aq ke prnkhn tmnku jam7 yah. Jgn tlat! awas! Sontak aku bangun. Gairah hidup kembali menjalari setiap nadi-nadiku. Aku tersenyum, meski kebingunganku masih menggantung. “Ah, begitu misteriusnya perempuan satu ini”, gumamku. Tapi mungkin karena itulah aku menyukainya. 

3 komentar :

Anonim 25 Januari 2011 pukul 16.05  

Hal yang paling misteri dari ciptaan Tuhan adalah perempuan

Anonim 29 Januari 2011 pukul 23.01  

judul blog sm isi tulisan kok gak singkron ya?
tp cerpen2nya aku suka

Syahrul Qodri 31 Januari 2011 pukul 11.40  

Terima kasih atas tanggapannya...... hehehehe


"Anonim mengatakan...
judul blog sm isi tulisan kok gak singkron ya?
tp cerpen2nya aku suka"
<<<
memang ada cerpen2 yang kelitannya sangat personal, tetapi personalnya itu (mungkin) bisa sebagai sebuah representasi dari personal2 lainnya, khususnya di Indonesia.
Salam

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak, untuk saling membangun melalui kritik yang elegan

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll