Antara tokoh politik dengan tokoh agama

Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya sekelompok makhluk hidup tertentu tidak dapat hidup. Lalu apakah kebenaran itu? Barangkali sejenis keyakinan yang telah menjadi syarat kehidupan (Nietzsche)

Dalam mengkritik agama Kristen, Nietzsche pada dasarnya mengkritik gaya perwakilan yang khas agama Katolik. Para pendeta mengklaim mempresentasikan komunitas, namun, dengan menggunakan sifat bajik untuk diri mereka sendiri, mereka mengontrol massa sambil berpura-pura berbicara atas nama mereka. Ini dia sebut sebagai ‘efek sabda dewa’: dengan menenggelamkan dirinya ke dalam kelompok (pelayan masyarakat’, dan sebagainya) sang pendeta lebih signifikan dibandingkan kelompok itu, serta memperoleh status khusus karena berbicara atas nama kelompok tersebut.

Hal ini ternyata terjadi pula pada pemuka agama lainnya. Ambil saja Islam—yang memiliki kiyai, berceramah di depan massa, sambil mengatakan bahwa ia adalah pembawa kebjikan. Pada kenyataannya, rumah-rumah kiyai memiliki kemewahan yang sangat jauh dengan masyrakat sekitarnya di perkampungan. Mereka meminta orang bersedekah kepadanya, tetapi ia sendiri menumpuk harta untuk dirinya sendiri.
Bagi saya pribadi, tentu tidak semuanya seprti itu, nemun jika melihat kenyataannya, profesi kiyai, pendeta, dukun, dan hal-hal yang berbau mistis lainnya, sangat menggiurkan. Dan lucunya, bobroknya selalu ketahuan.

Para pemimpin negeri Indonesia saya anggap belajar dari kebajikan sang kiyai atau pendeta semacam yang disebutkan Nietzsche di atas. Ia mengatasnamakan rakyat, sebagai pelayan rakyat, namun yang diatasnakamakan itu dihisapnya sampai tak bisa berkutik. Contoh yang paling kongkret adalah, pembangunan gedung dengan nilai Rp, 1,8 T dilengkapi kolam renang, panti pijat, tempat refreshing, dan segala bentuk yang berbau maksiat lainnya—untuk kepentingan siapa sebenarnya itu semua?
Ketika ada orang-orang yang mencoba mempertanyakan hal itu, mereka tutup-tutupi dengan dalih hukum, UUatau peraturan pemerintah lainnya, yang memang sangat nyaman bagi segelintir orang. Hal ini persis seperti yang dikatakan Nietzsche tentang pendeta yang menggunakan ayat-ayat Tuhan, pengadilan terakhir, konsep-konsep baka, kekelana jiwa dan lain sebagainya sebagai dalih untuk menakut-nakuti umatnya.
__________________________________________
Catatan :
Umat manusia terlibat dalam kehidupan, dan ini menciptakan tuntutan-tuntutan. Bahasa, adalah salah satu tuntutan kehidupan., yang pada gilirannya nanti bahasa memberikan tuntutan kepada kita: ontologi kita, metafisika kita, atau bahkan filsafat kita. Karena itulah Nietzsche mengatakan, kekuasaan bahasa telah membinasakan pemikiran, karena kita telah mengacaukan ungsinya. Kita tidak penah bisa lepas dari tirani bahasa, karena itu kita harus mampu menggunakan dan mengembangkan bahasa, karena bahasa adalah sebuah tuntutan dasar manusia.

0 komentar :

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak, untuk saling membangun melalui kritik yang elegan

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll