Oleh: Syahrul Q
- Masa Kerajaan Nusantara
Fakta mencatat, bahwa sejak lama, masyarakat nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berperang ratusan tahun, baik itu perang antara kerajaan yang satu dengan yg lainnya maupun perang saudara. Sejarah menulis juga tentnag ada raja yg zalim dan semena-mena terhadap rakyatnya, ada pula raja yg memang memakmurkan rakyatnya. Namun demikian, semua peperangan itu adalah untuk kepentingan kekuasaan. Pada akhirnya, peperangan demi peperangan secara langsung dapat dirasakan oleh rakyat yg semakin sengsara, akibatnya, terciptalah watak yang oleh Pramudya AT sebut sebagai “kehilangan prinsip”.
Perang antar agama (yg juga politik kekuasaan), antara Siwa dan Wisnu, yg berlangsung sekian lama membuat masyarakat mencoba mencari persamaan2 diantara keduanya lalu memadukan keduanya tanpa prisnip, dengan tujuan damai, tanpa terjadi lagi bentrok social yg sangat menakutkan dan merugikan. Hal ini tertera dalam syair2 yg ditulis oleh orang yg hebat pada masanya, antara lain Hayam Wuruk, Tantular, Prapanca dan lainnya. Islam masuk seratus tahun kemudian setelah Majapahit runtuh, diterima ‘juga tanpa prinsip’, dengan mencoba mencari persamaan antara Siwa, Wisnu, dan Islam, sehingga Islam diambil syariatnya semata.
Nyatanya, ‘kehilangan prinsip’ inilah yang melahirkan para oportunis sejak zaman itu, yg pada akhirnya mengalahkan Jawa dengan kedigdayaannya saat melawan colonial Belanda. Hal ini begitu mengherankan, bukankah Jawa atau Nusantara lainnya telah mengenal tulisan, menggunakan simbol2 dalam kehidupannya, yg artinya lebih dulu maju dari pada bangsa Eropa? Namun berhubung perilaku raja2 pribumi sendiri yang terlalu kejam dan bersikap feudal inilah yang menghilangkan kepercayaan dan keyakinan pada masyarakatnya.
- Masa Kebangkitan
Pada masa ini diawali oleh seorang yang bernama Tirtohadisuryo, atau dengan inisial Raden Mas TAS, membuat sebuah orgnisasi modern berlabel Syarikat Priyayi. Beliau mengawalinya dengan mengajak orang-orang terpelajar saat itu. Beliau beranggapan bahwa orang-orang terpelajar atau priyai yang harus memulai gerakan. Sayangnya, masyarakat waktu itu banyak yang merasa bukan priyayi dikarenakan istilah priyayi masih begitu rancu. Di samping orang-orang terpelajar, Priyayi juga bisa diartikan sebagai orang2nya Kolonial Belanda.
Beberapa Tahun kemudian setelah Syarikat Priyayi hancul oleh koruptor dalam tubuh organisasi tsb, maka Raden Mas TAS mengulanginya dengan membentuk organisasi baru, yaitu Syarikat Dagang Islam. Beliau ingin membuat organisasi yang bebas dan merdeka, telepas dari pengaruh Belanda. Menurutnya, semua orang adalah pedagang, dan kebanyakan rakyat Nusantara beragama Islam. Maka dari itu, perlu dibentuk organisasi yang beranggotakan bebas, dan siapa saja boleh mengikutinya menjadi anggota. Organisasi modern ini langsung disambut oleh masyarakat, dan berangotakan luar biasa banyak. Pemerintah colonial saat itu sudah mulai khawatir dengan gerakan ini, karena memiliki kekuatan massa yang luar biasa, serta didukung oleh media pribumi yg tentu saja dipimpin langsung oleh Raden Mas TAS sendiri.
Sebelum Syarikat Dagang Islam (SDI) terbentuk, Lahir pula oraganisasi lain yang cukup terkenal, yaitu Boedi Utomo. Organisasi ini juga beranggotakan para priyayi yang berasal dari Jawa. Artinya, selain Jawa tidak boleh menjadi anggota, apalagi yang bukan priyayi.
Hal yang menarik dan aneh adalah, Boedi Utomo disokong, disubsidi dengan dana yang cukup oleh pemerintah colonial Belanda. Pada akhirnya, organisasi ini menjadi semakin popular, dan pada masa sekarang, hari lahirnya dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional.
Pertanyaannya adalah, mengapa Boedi Utomo didukung pemerintah Kolonial Belanda? Bukankah organisasi ini bermaksud membawa masyarakat ke arah kemerdekaan?
Pemerintah Kolonial ternyata memang sudah memperhitungkan kelahirannya Boedi Utomo. Bahkan bisa jadi, Belandalah yang memprakarasai lahirnya Boedi Utomo. Boedi Utomo merupakan organisasi kedaerahan, bersifat local dan mengusung feodalisme Jawa. Sehingga pada masa berikutnya, akan terlahir pula organisasi2 modern lain yang akan mengusung kedaerahannya masing2, yang hanya mementingkan segolongan orang-orang tertentu, tanpa melihat keberadaan daerah lainnya. Organisasi bersifat kedaerahan ini tentunya juga akan lebih mementingkan RAS tertentu. Bukankah persoalan RAS inilah (seperti yg tertulis pada paragraph sebelumnya) yang justru menghancurkan watak pribumi nusantara?
Perkiraan pemerintah colonial tepat. Masing-masing organisasi kedaerahan lainnya yang lahir pada masa seiring dengan Boedi Utomo ternyata memang mementingkan lokalitas mereka. Pada kenyataannya, ketika berhadapan dengan kelompok daerah yang lain, akan terbentur berbagai kepentingan kekuasaan golongan, daerah, yang justru ngotot-ngototan merasa paling benar sendiri dan melupakan eksistensi nasionalisme yang diusung oleh Raden Mas TAS.
Konflik RAS paling terasa hingga masa ini.
- Masa Kemerdekaan
Oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir, dibentuk kembali nasionalisme keindonesiaan, dan menanggalkan sifat lokalitas atau kesukuan. Kita semua, adalah satu, yaitu Indonesia. Bukan Jawa, bukan Sumatra, Bukan Bali, atau bukan yang lainnya, tapi satu, Indonesia. Namun sayang, persoalan nasionalisme ke-Indonesia-an ini dihancurkan lagi oleh Rezim ORBA, yang justru membangkitkan kembali nasionalisme Jawa seperti yang diusung oleh Boedi Utomo di atas.
Seluruh Nusantara harus menjadi Jawa, atau lebih tepatnya lagi, tunduk pada Jawanisme. Hal-hal yang berbau keaderahan boleh berkembang, tetapi dengan catatan "disesuaikan" dengan Jawa. Keputusan Presiden Pada Tahun 1975 adalah hal yang paling nyata. Semua kepengurusan daerah harus seperti di Jawa, seperti lurah, bupati, dan lain sebagainya, meski di daerah-daerah tertentu sudah terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang lebih dipercaya dan diamini masyarakat setempat.
DI Yogyakarta, (mungkin karena) berkat jasanya melawan Belanda, (atau mungkin tempat besarnya pak Harto), dibiarkan tetep menjadi daerah Istimewa, yang mempertahankan keistanaan atau kerajaan. Namun Istana yang di Yogyakarta, bukanlah sebuah Negara atau bangsa kecil, tetapi lebih berbentuk pada museum kebudayaan semata. Fenomena hingga saat ini, UU tentang DI Yogyakarta, belum pernah bisa tuntas, bukan?
Aceh adalah masyarakat yang keras, dan melawan kebijakan Jawanisme sejak lama. Terbentuklah front kemerdekaan Aceh yang sangat menentang kesemena-menaan orang-orang Jawa yang bermukim di sana. Hal ini berarti GAM terbentuk oleh perlawanan terhadap Jawanisme itu sendiri. Lalu dengan alasan yag persis sama, seperti pemerintah colonial dulu, siapa saja yang melawan nasionalisme (Jawa) ini akan dianggap sebagai teroris, dan dicap penjahat nasional. Dibantailah masyarakat Aceh dengan kejam.
Alasan-alasan seperti inilah yang membolehkan terjadinya pembunuhan serta pembantaian terhadap rakyat sendiri. Bukankah Soeharto berada pada peringkat ke-8, manusia terkejam di seluruh dunia? (Hitler no.2).
- Masa Sekarang
Dengan terkuaknya kasus GAM, ternyata banyak juga masyarakat Nusantara yang menentang kebijakan2 yg bersifat Jawanisme itu, seperti di Papua, Maluku, Timtim (yang sudah keluar dari Indonesia), Riau, dan banyak lagi. Sementara daerah lainnya yang masih berada dalam kekuasaan Indonesia secara utuh, sering bergumam..., menginginkan kebebasan bertindak secara lokalitas.
Lahirlah apa yang disebut sebagai otonomi daerah, yang ternyata justru menciptakan raja-raja kecil dengan membawa sikap dan sifat feodalisme Jawa yang sudah berkembang sekian ratus tahun itu. Selama 32 tahun masa Orba, telah mampu membentuk karakter baru, yaitu karakter “lupa” pada asal, lupa pada sejarah. Jika Raja-raja nusantara dulu yang berperang terus-menerus menciptakan watak, “kehilangan prinsip”, ORBA menciptakan watak, “lupa daratan…..”. Bukankah kedua watak ini menciptakan masyarakat oportunis?
Kenyataan pahit yang dirasakan rakyat Indonesia hingga saat ini adalah, hasil telur dari Orba ini masih tetap bekuasa, dan menggunakan segala cara agar tetap berada di atas. Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 bukan sesuatu yang dapat menggeser kekuasaan colonial di Indonesia, tetapi justru lebih melanggengkan colonial itu sendiri.
Bukankah Pramudya pernah mengingatkan, “yang colonial itu selalu iblis”. Bukankah pemerintahan Orba dan hasil didikannya sampai SBY sekarang adalah colonial juga? Yang dengan berbagai cara, berbagai alasan, berusaha untuk tetap mempertahankan kekuasaan, meski scenario politik yang dibuat ternyata bolong dan bocor, lalu membutuhkan tumbal sulam, (maaf salah… tambal sulam, maksud saya hehehe)
___________________________________________
Catatan:
1. Kepada pemimpin pribumi, Belanda bermanis mulut meski sebenarnya memperlakukanmereka kurang lebih sebagai pelaksana perintah saja (Schrieke, 1955:283) Kaum Priyayi dipekerjakan untuk mengawasi pengisapan atas petani kecil, sementara istana-istana, keranton, hanya dijadikan museum hidup (Richard Schehner)
2. Betapa bedanya bangsa Eropa dengan Hindia. Di Eropa, setiap orang yang memberikan sesuatu bagi umat manusia akan mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan dalam sejarahnya. Di Hindia, nampaknya setiap orang ‘takut’ tak mendapatkan tempat dan ‘berebutan’ untuk menguasainya (Pramudya AT)
3. Perzinahan Kapitalisme dan Feodalisme di indonesia telah melahirkan anak haram bernama Orbaisme, dan kini anak cucunya sedang menikmati hasil keringat bumi pertiwi , tanpa pernah mengleluarkan keringat bagi bumi pertiwi itu sendiri.
0 komentar :
Posting Komentar
Mohon tinggalkan jejak, untuk saling membangun melalui kritik yang elegan