Aku berteduh dari gerimis yang panjang di sebuah pinggiran toko. Udara malam terasa dingin dan begitu lama. Berbatang-batang rokok telah kuhabiskan sebagai pengisi waktu, namun, “… gerimis sialan ini belum juga reda!” gumamku. Untung saja ada toko yang masih buka dan menjual berbagai minuman kaleng, sehingga mulutku tidak terlalu sumpek dengan asap rokok.
Sebuah sepeda motor mendekat. Pakaian mereka tampak basah meski mengenakan jas hujan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.
Namun kuakui, sepsang kekasih remaja itu cukup serasi. Laki-laki memiliki tampang cukup macho, sementara yang perempuan cantik dan sexy. Ah, ya sexy. Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.
Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat , mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.
“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.
Gerimis mulai sedikit mereda. Aku mencoba menata diri, bersiap hendak pergi meninggalkan emperan toko itu. Seorang pelayan toko tersenyum padaku, seraya menutup tokonya. Jarum jam ternyata sudah menunjuk pukul 10 malam. Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.
Aku nyalakan sepeda motor. Dan tepat saat itu, seorang gadis lewat di depanku. Aku melihatnya takjub. Kususun keberanianku, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya.
“Boleh aku antar?” sapaku malu-malu. Entah dari mana kebernaianku seperti itu. tidak biasanya aku melakukannya.
“Nggak usah, Mas. Deket kok.” Jawabnya singkat sambil melihatku aneh. Mungkin di dalam hatinya ia protes. Kenal juga nggak. Sok-sok nawarin ngantar.
“Santai aja mbak. Aku ikhlas kok” tawarku serius. Dadaku serasa berdebar kencang. Ada perasaan takut ditolak mentah-mentah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika tawaranku itu ditolak, sepasang remaja tadi tentu akan mengolokku habis-habisan, meski cuma dalam hati mereka.
“Nggak usah dech, Mas. Lagian aku bawa payung kok.” Katanya.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
Aku tersenyum kepadanya, sambil mantap lekat ke dalam matanya. Kuberharap ia dapat membaca permohonanku melalui pandangan mata kuyuku.
“Baiklah.” Katanya tiba-tiba.
Perasaan senang bercampur gembira menelusup hangatkan nadiku yang beku. Namun sayang sekali..., hanya beberapa meter ke depan, belok kiri sedikit, lalu masuk ke gang, dan ia meminta untuk berhenti.
“Stop di sini Mas. Di sini kostku” katanya lembut.
“Oke dech…, terima kasih sudah sudi menemaniku.” Ucapku lirih.
“Ah, semestinya aku yang berterima kasih” katanya membantah. “Tapi mengapa mas mau mengantarku? Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa tidak mengenal…”
“Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku memotong pertanyaannya.
“Hahahaha …. Mas ini lucu. Yang jujur saja dah… eh yang bohong aja duluan.”
“Kalo jawaban bohongnya, karena aku mengagumimu, kataku menggoda seraya melihat tubuh rampingnya yang sederhana tanpa rias molek. Wajahnya memang manis, dengan alis tebal, meski matanya tampak lesu, mungkin karena lelah setelah seharian bekerja.
“Hahahaha….” Ia tertawa semakin keras. “Kalau jawaban jujurnya?”
“Karena kau mengenakan rok.” Jawabku singkat.
“Loh, kok? Apa hubungannya dengan rok?” Tanyanya keheranan.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju. Ya. Aku tidak sempat mengenal namanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hidupnya. Aku juga tidak sempat meminta nomor HP atau sejenisnya agar bisa bertemu kembali atau mengenalnya lebih dekat. Tapi sudahlah.
Malam ini aku bertemu dengan seorang perempuan yang kuanggap luar biasa. Ia mengenakan rok selutut. Bagiku, perempuan itu tampak bersahaja, namun terkesan begitu feminim. Gerimis pun mereda. Aku tersenyum dalam lelapku.
2 komentar :
sederhana....
tp kerennn.. menusuk
Rok, kira2 kalo secara semitis, bisa jadi symbol apa ya dalam cerpen ini?
sy yakin, yang dimaksud dengan rok di sini, bukan sekedar rok, pakaian. ah iya... pakaian... di situ kuncinya hehehe
kerennnn
Posting Komentar
Mohon tinggalkan jejak, untuk saling membangun melalui kritik yang elegan