Postmodernisme, Berfikir Kembali Untuk Indonesia

Oleh: Syahrul Q

Kata modern sering kali dipandang sebagai perkembangan paling akhir, terkini, atau paling up-to date. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan istilah modern berarti bahwa ada perkembangan-perkembangan yang mengikutinya. Selama beberapa dasawarsa terakhir, di berbagai bidang (seni, arsitektur, literature, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya), terjadi perkembangan-perkembangan yang oleh beberapa ilmuan disebut dengan postmodern. Hal ini bukan semata lahir setelah modern, tetapi ada sejumlah masalah dengan modern  yang dikemukakan dan ingin diatasi oleh postmodern.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang postmodern, ada baiknya menengok sejenak  perjlanan strukturalis menuju postsrukturalis. Charles Lemert (1990) yang menanggap awal poststrukturalis adalah pidato Jacques Derrida pada tahun 1966. Di dalam pidato tersebut, ia memproklamirkan terbitnya zaman poststrukturalis baru. Bertolak belakang dengan strukturalis, khususnya yang mengikuti peralihan linguistic dan yang melihat orang dikekang oleh struktur bahasa, Derrida mereduksi bahasa menjadi tulisan yang tidak mengekang subjek. Derrida juga melihat institusi sosial hanya sebagai tulisan dan dengan demikian tidak mampu mengekang orang, hal ini berarti Derrida mendekonstruksi bahasa dan institusi sosial (Trifonas, 1996) dan ketika dekonstruksi ini telah dilakukan, yang akan ditemukan di sana adalah tulisan.

Kalau strukturalis melihat tatanan dan stabilitas dalam system bahasa, Derrida melihat bahasa sebagai sesuatu yang tidak teratur dan tidak stabil. Konteks yang berbeda memberikan makna yang berbeda pada kata. Akibatnya, system bahasa tidak mungkin memiliki kekuatan untuk mengekang orang seperti pandangan kalangan strukturalis. Derrida menawarkan perspektif subversive dan dekonstruktif. Objek kebencian Derrida adalah logosentrisme (pencaian system pemikiran universal yang mengungkapkan  apa yang benar, tepat, cantik, dan lain sebagainya, “menjadi pendapat general”) yang telah mendominasi pemikiran sosial Barat. Logosentris tidak hanya menutupi filsafat, namun juga ilmu-ilmu humaniora.

Selain Derrida, pemikir lain yang terkait dengan poststrukturalis dan kaitannya dengan postmodernisme adalah Michel Foucault. Karya awalnya mengenai praktik-praktik diskursif merupakan upaya menyusun teori tentang koherensi internal yang tidak memperlakukan kebudayaan sebagai totalitas, melainkan sebagai domain-domain atau formasi spesifik kebudayaan -kebudayaan dengan cirinya yang diskursif.

Pada karyanya yang berjudul Madness and Civilization (1961), Foucault sepertinya menganalogkan penderita kegilaan yang harus dirawat oleh dokter di rumah sakit jiwa, merupakan refleksi dari realitas praktik subjektifitas diskursus yang nyata. Penderita penyakit gila dikungkung dan dikendalikan semua aktifitas pemikiran maupun kehidupannya. Sebab semua pemikiran maupun aktifitas pasien gila dianggap sebagai sebuah kesalahan yang harus diluruskan. Adanya kondisi inferioritas bagi si pasien sebagai akibat justifikasi bahwa pemikiran serta perilaku pasien harus dinormalkan, menjadikan semua sistem rumah sakit termasuk aturan sang dokter menjadi sang penguasa. Dengan demikian sang dokter sebagai pihak yang berkuasa dengan leluasanya mengkonstruksi pemikiran pasien gilanya sesuai dengan arah yang dikehendaki. Dalam hal ini yang lebih mendominasi dan berlaku adalah kehendak sang dokter, bukannya keinginan-keinginan mendasar dari si pasien gila.

Analog tersebut jika disejajarkan dengan kondisi praktik diskursif dalam kehidupan sosial
antara penguasa yang ingin mengendalikan pihak yang dikuasainya. Pihak berkuasa yang menganggap sebagai yang paling benar dan yang paling berhak mengendalikan keadaan harus selalu mengarahkan dan mengendalikan semua perilaku, gerak-gerik, pemikiran, bahkan wacana yang berkembang.

Setelah semakin maraknya gerakan dekonstruktif ini (yang bukan hanya mencakup bidang linguistic) merambah ke berbagai bidang lainnya seperti bidang sosial, filsafat, bahkan juga bidang seni. Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme (Grenz, http://reformed.sabda.org/etos_postmodern).

Postmodernisme merupakan suatu persepektif yang menyoroti kegagalan gagasan Pencerahan (Saifuddin, Ahmad F. 2006). Ia merujuk pada epos-jangka waktu, zaman, masa social dan politik yang biasanya terlihat mengiringi era modern dalam suatu pemahaman histories (Kumar, 1995). Postmodern pada sisi lain merujuk pada produk cultural (dalam seni, film, arsitektur, dan sebagainya) yang terlihat berbeda dari produk cultural modern (Jameson, 1991).

Intinya, Postmoderenisme mencoba menawarkan suatu perspektif baru melawan modernisme untuk menghancurkan tatanan structural yang dianggap terlalu mendominasi, atau modernisme yang umumnya bersifat generalisasi, sehingga tidak ada kesempatan bagi orang lainnya untuk naik ke atas panggung. Efek dari kemapanan pihak modernisme adalah feodalisme dan kapitalisme Barat, terpusat pada satu bentuk konvensional, dan hal inilah yang dikritik oleh kaum postmodernisme.

Kaitannya dengan situasi terkini di Indonesia adalah, maraknya Jawanisme dan generalisasi terpusat yang dilakukan oleh ORBA. Namun setelah pemikiran-pemikiran yang terlontar oleh para pemikir seperti Nietzsche, Drrida, Foucault, dan yang paling terkenal adalah Lyotard dan Baudrillard, masuk ke dalam ranah perpolitikan di Indonesia, secara sadar atau tidak, ternyata telah mampu menghancurkan pemikiran Kapitalisasi yang dilakukan oleh ORBA.

Namun demikian, Dialog tajam yang dilakukan oleh kaum modernisme, atau lebih tepatnya kritik terhadap pemikiran postmodernisme, terletak pada tidak adanya solusi yang ditawarkan, melainkan hanya melakukan dekonstruksi atau penghancuran terhadap pemikiran general kaum modernisme. Dan hingga saat ini, realisasi dari dua pemikiran, antara modernisme dan postmodernisme masih sama-sama memiliki kekurangan dan terus saling melancarkan kritik.

Secara pribadi, saya sendiri menilai postmodernisme telah  memberikan ruang baru bagi para pemikir di seluruh dunia untuk kembali membangun pemikiran-pemikiran baru berdasar pada realita local tanpa perlu menggeneral dan tanpa perlu mengikuti pemikir-pemikir lain yang diambil dari hasil penelitian di belahan dunia lain.

Justru saya ingin dan sangat mengimpikan bahwa kita saat ini dituntut untuk melakukan kajian-kajian yang tidak lagi terpusat pada satu terma, tidak ikut-ikutan pada pemikir-pemikir barat, melainkan kita harus bisa memunculkan teori-teori sendiri untuk digunakan dalam ranah kita sendiri.

Sebagai tawaran awal, jika modernisme maupun postmodernisme lahir bedasarkan situasi social dan diangkat oleh para seniman, lalu dikembangkan oleh para pemikir akademis, maka tidak salah jika para seniman di Indonesia mulai mencoba mencari sesuatu yang berasal dari lokalitas daerah. Tentu dipercaya, bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kekayaan-kekayaan itu tidak perlu disatukan, apalagi digeneralisasikan menjadi milik satu pihak, tetapi lebih pada konteks kepemilikan Indonesia secara terpisah. Bukankah itu sudah lama dipegang kuat oleh kuku-kuku tajam Garuda Pancasila dalam symbol BHINEKA TUNGGAL IKA? Namun sayang, kekayaan akan budaya itu hampir mati oleh pelaksanaan system yang kurang tepat.

Salam.
Semoga bermanfaat. 

0 komentar :

Posting Komentar

Mohon tinggalkan jejak, untuk saling membangun melalui kritik yang elegan

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll