Seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya, lebih mampu bertahan bahkan sanggup mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Sementara laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya, cenderung memilih untuk mencari istri baru….
Seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya, lebih mampu bertahan bahkan sanggup mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Sementara laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya, cenderung memilih untuk mencari istri baru….
Setelah melalui proses selama 20 tahun di berbagai daerah di Indonesia, orang-orang hasil didikan Imam utusan Usamah itu kian menjadi, karena diberikan ruang tempat mereka bergerak dan beraksi, apalagi ternyata mereka mendapat dukungan dari para pejabat tinggi negara. Tetapi jika ada kelompok ini yang melenceng dari skenario, pemerintah melalui Densus 88 akan segera menangkapnya. Sehingga pada akhirnya, aksi terorisme adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat, layaknya PKI di zaman Orde Baru.
Usamah lalu memunculkan mimpinya kembali untuk mewujudkan negara Islam. Pelatihan militer di kawasan Yaman terus dilakukan (kemungkinan, hingga saat ini masih berlangsung). Di samping persenjataan militer dari USA, kekayaan keluarganya yang cukup besar juga digunakannya sebagai modal dalam mewujudkan mimpi tersebut.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju.
Oleh: Syahrul Q
Oleh: Syahrul Q
Panas terik matahari kulalui di jalanan umum, riuh oleh deru mesin kendaraan yang lalu lalang, disirami asap berbaur debu jalanan. Trafic light menunjukkan lampu berwarna merah, dan perlahan sepedea motor kuhentikan, menunggu sejenak, lampu berganti warna. Dalam keadaan terik dan berkeringat seperti itu, tiba-tiba datang dua anak kecil menengadahkan tangannya, meminta sekeping uang logam. Sementara, di pinggir jalan sana, seorang ibu-ibu tua renta, berpakaian lusuh dan kotor, juga menengadahkan kaleng kecil, meminta kepada orang-orang yang (mungkin) hendak berbaik hati berbagi rezeki kepadanya. Hatiku renyuh seketika, sekaligus geram, betapa kejam hidup di kota. Begitu banyak orang yang telah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anak mereka yang masih di bawah umur. Dan begitu banyak orang-orang yang durhaka kepda orang tuanya dengan menyia-nyiakan kehidupan orang tua renta, sehingga terpaksa duduk di berbagai sudut kota, meminta-minta sedekah.
Lampu hijau menyala, pertanda kendaraan yang terhenti sejenak tadi, boleh meneruskan perjalanan. Namun, tampak beberapa polisi lalu lintas berjejer di depan sambil merentangkan tangannya, meminta pengguna kendaraan untuk tidak melanjutkan laju kendaraannya. Serta merta, sepeda motor kuhentikan sambil bertanya, ada apa gerangan? Sementara pengguna kendaraan lainnya, ngomel-ngomel tidak karuan, menggerutu karena kepanasan.
Di kejauhan sana, terlihat banyak kerumunan massa, bersorak, teriak, berkoar, ganas, berorasi, menyatakan sikap dengan tegas, bahwa mereka adalah golongan anti Kapitalisme dan Neolib. Sebagian besar membawa berbagai poster, ada tulisan yg tercetak rapi, ada pula poster yang hanya bertuliskan spidol sederhana. Tulisan-tulisan di poster tiada lain adalah “ANTI KAPITALISME!!!” Poster lain yang sealiran bertuliskan, “ANTI NEOLIB!!!”
Kerumunan massa itu bergerak, beriringan tanpa henti meneriakkan yel-yel dengan keras. Wajah mereka menegang, seperti kemarahan yang memuncak tertumpah. Urat-urat di lehernya juga terliaht jelas dari kejauahan. Megaphone yang sedikit kehabisan batre hanya digunakan oleh seorang di barisan depan. Riuhnya iringan itu membuat pengguna jalan yang lain harus mengalah, meski dibarengi dengan omelan juga. Orang-orang yg berada di sekitarnya merasa ketakutan, khawatir akan terjadi kerusuhan, takut, dan tidak berani mendekat ke kerumunan massa itu. Sambil mengusap peluh di dahi, aku mencoba menyelami tuntutan mereka. Mendengarkan dengan seksama, membaca tulisan-tulisan di poster, dan merekam peristiwa demo itu.
***
Ya, saat ini aku tengah duduk santai sambil melihat remang matahari menuju senja. Pikiranku melayang jauh tentang Kapitalisme dan Neoliberalisme yang sangat dibenci oleh para pendemo tadi siang sambil memutar berbagai pengetahuan serta pengalaman yang mengisi kepalaku.
Tentu ada benarnya juga tuntutan mereka. Bagaimana mungkin faham Kapitalisme dan Neolioberalisme diberlakukan di Negara ini? Jika saja Indonesia memiliki nilai produksi yang tinggi, nilai budaya, nilai seni, nilai kreativitas, dan nilai-nilai lainnya juga tinggi dengan produksi-industri yang matang, faham Neoliberalisme atauapun Kapitalisme mungkin tidak menjadi persoalan, namun Indonesia adalah Negara dunia ketiga, yang masih lemah, dan terus dilemahkan oleh kekuatan-kekuatan lain, yang note-benenya adalah Neoliberalisme dan Kapitalisme itu sendiri.
Lebih jauh tentang Neoliberalisme, ia lebih banyak dipandang sebagai konsep ekonomi pasar berdasarkan Konsensus Washington yang dirumuskan oleh John Williamson (1989). Konsensus Washington yang berisi 10 item liberalisasi ekonomi seperti disiplin fiskal, deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, dan liberalisasi sektor finansial menjadi standar paket reformasi ekonomi yang ditawarkan (baca: dipaksakan) IMF, Bank Dunia, dan Amerika Serikat kepada dunia ketiga.
Neoliberalisme merupakan isme yang dinisbahkan kepada watak pemerintahan Augustu Pinochet (1873-1990) di Chile hasil perselingkuhan keditaktoran dengan ekonomi pasar bebas. Perselingkuhan ini terjadi ketika Pinochet yang meraih kekuasaan melalui kudeta berdarah mengangkat Chicago boys untuk mengelola kebijakan ekonomi.
Chicago boys adalah para pemuda Chile yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Chicago. Selama 1955-1963, 30 pemuda Chile telah mendapat gelar PhD di bidang ekonomi. Di universitas inilah para pemuda tersebut dicuci otaknya dengan pemikiran ekonomi ala mazhab Chicago, yakni mazhab ekonomi yang dikembangkan oleh seorang imigran Yahudi Milton Friedman yang mendapat gelar nabi Neoliberalisme.
Sementara di Indonesia, banyak para pejabat kini yang duduk di kursi pemerintahan dan menentukan kebijakan, adalah hasil dari cuci otan itu, yang kemudian menjadi agen leluasa dan sekaligus berkuasa bagi neoliberalisme tersebut.
Kembali kepada Peristiwa demo tadi siang, aku merasa sedikit sanksi, bagaimana mungkin mereka menuntut penghapusan isme ini kepada pemerintah, sementara pemerintah Indonesia mengagungkannya? Para pejabat pemerintah termasuk Presiden, meski menyangkal faham ini, namun dalam tindakan dan kebijakan yang diambil tampak sebagai PEMUJA Neoliberalisme dan Kapitlaisme. Hal ini dibuktikannya melalui penjelmaan dirinya sebagai agen dari produsen dan pemilik modal luar negeri, yg kemudian menjadikan Indonesia sebagai market, namun memonopoli serta kong kalikong denan pemodal. Sementara, pemerintah Indonesia tidak pernah ada usaha untuk membangun kedaulatan kapital, juga tidak ada usaha untuk membangun kemandirian industri secara strategic, di samping tidak adanya usaha untuk menjadikan indonesia sbg negara produsen, melainkan hanya sebagai konsumen. Akibatnya, kelas elit dan menengah yg tercipta di Indonesia hanyalah kelas menengah hasil kerjasama exploitasi mineral asing-indonesia dan kelas menengah yang “dekat dengan pasar dan penguasa”.
Bukankah hal ini berarti Negara ini mengungkungkan dirinya dalam penjara kolonialisme, dan terjerembab dalam penjajahan baru? Lucunya lagi, kebanyakan masyarakat Indonesia sudah mulai menyadari keterpurukan ini, sedangkan pemerintah (oligharki) Indonesia tidak peduli dengan fenomena kesadaran masyarakat ini, dan lebih asyik berkutat sendiri dengan berbagai macam kesenangan dan kepuasan pribadi selaku penguasa.
Fenomena menarik dari masyarakat ini antara lain adalah bergeraknya masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk peduli dan turut sumbang suara berikut tindakan terhadap kasus-kasus ketidak-adilan di negeri ini. Hal yang paling fenomenal adalah gerakan Koin for Prita. Mulai dari orang-kantoran, kelas menengah, bahkan para pengamen jalanan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ini berawal dari gerakan pesbuker dan orang-orang yang aktif di dunia maya, yang kemudian bersinergi dengan media. Dan gerakan ini menjadi sesuatu yang luar biasa berpengaruh, bahkan Times (New York) pun turut ambil bagian dalam gerakan ini. Gerakan macam apakah ini? Bukankah kepedulian dan rasa kebersamaan ini bisa menjadi sebuah kekuatan, bisa menjadi sebuah modal baru, atau kita sebut saja kapitalisme jenis baru?
Ah, jadi teringat dengan gotong-royong teman-teman dunia maya saat melahirkan Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang bisa dibaca dan dikutip bebas tanpa bayar, didirikan pada 2001, ensiklopedia lewat Internet ini kini sudah terbit dalam 266 bahasa, isinya ditulis oleh 75 ribu penyumbang aktif. Di sana ada semacam gotong-royong postmodern: tak ada yang memerintahkan, tak ada pusat komando, tak ada pusat, dan tak ada perbatasan yang membentuk lingkungannya. Masing-masing orang memberi sesuai dengan kemampuannya. Yang diberikan adalah informasi, yang didapat juga informasi. Tapi transaksi itu tak menggunakan uang. Pasar dan Modal Besar tak hidup di sini.
Hal yang mirip terjadi dalam gerakan yang dirintis Richard Stallman untuk menyediakan peranti lunak gratis bagi siapa saja. Beriburibu pengembang software pun bekerja sebagai sukarelawan bersamasama dan berhasil menciptakan GNU/Linux, sebuah pesaing serius bagi Sang Modal Besar di belakang Microsoft. Sebanyak 4,5 juta sukarelawan lain menciptakan sebuah super-komputer paling kuat di muka bumi.
Kembali pada gerakan-gerakan social yang terjadi di Indonesia. Prita Mulyasari yang mengeluh karena buruknya penanganan kesehatan RS Omni di dunia maya menuai gejolak dari masyarakat. Prita didukung oleh berbagai kalangan melalui sumangan koin dan hasilnya luar biasa. Kekuatan gerakan masyarakat ini tentu harus menjadi perhatian yang serius. Di sisi lain, kasus “cecak vs buaya” menjadi fenomenal, juga berawal dari para pesbuker. Gerakan-gerakan lain menyusul, seperti “Turunkan Patung Obama”, “Revolusi untuk Indonesia”, “Gerakan Anti Korupsi”, 1.000.000 People Power Melawan Kezaliman”, dan gerakan-gerakan lainnya.
Lalu, istilah apa yang bisa kita gunakan untuk menyebut gerakan ini? Menyebutnya sebagai sosialisme, bukan, karena tetap bergantung pada hal-hal yang berbau Kapitalisme. Penggabungan kapitalisme dan sosialisme menjadi Kapitalisme-Sosialisme? Bisa jadi, karena Robert Putnam, mendefinisikan capital-social sebagai bagian dari organisasi sosial berupa hubungan sosial dan rasa saling percaya yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk kepentingan bersama. Namun demikian, definisi ini masih ditentang oleh banyak ahli, dan definisi-definisi tentang Kapital-sosial terus bermunculan. Dan Capital-social bukanlah penggabungan Kapitalisme-Sosialisme.
Ah, entahlah. Aku hanya sering kali memimpikan para pemikir Indonesia mampu mendefinisikan dan merumuskan teorinya sendiri, berasaskan pada konteks, fenomenal, serta social budaya masyarakat Indonesia, tanpa harus mencari-cari padanan pada teori-teori yang ditulis oleh orang luar (yang tidak tahu soal Indonesia), dengan tidak mengabaikan begitu saja teori-teori yang pernah menjadi faham banyak orang di dunia, seperti Marx, Webber, Durkheim, Lenin, Nietze, John Locke, Adam Smith, dll.
Matahari jingga semakin memerah di ufuk barat. Senja sebentar lagi akan berganti malam. Kututup buku harianku seraya mengingat kembali para mahasiswa yang berdemo tadi siang. Mereka begitu semangat menyuarakan Anti Kapitalisme dan Anti Neolib, berusaha mencari simpati dengan orasinya, berkoar, marah-marah, menghujat sana-sini, mencaci dan lain sebagainya, sehingga tidak sedikit yang justru mencaci balik kepada mereka. Mereka begitu marah pada cengkraman Kapitlaisme dan Neoliberalisme, namun mereka (mungkin sengaja) lupa, dalam berdemo mereka gunakan alat-alat hasil produksi kapitalisme. Mereka juga begitu antusias berdemo menyuarakan Sosialisme, namun apakah mereka melihat dan merasakan getirnya seorang nenek tua meminta sedekah di pinggir jalan, atau dua anak kecil yang meminta kepingan logam?
Semoga bermanfaat
Syahrul Q.
Sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Kapital_sosial
* http://caping.wordpress.com/category/kapitalisme/
*dll.
Copyright 2009 - j e n d e l a - Indonesia