t e m u i c i n t a . . . .
Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju. Maafkan Aku Bu De, Kita Serahkan Saja pada Yang Kuasa
Postmodernisme, Berfikir Kembali Untuk Indonesia
Prediksi, sekiranya Indonesia hancur….
Antara tokoh politik dengan tokoh agama
Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya sekelompok makhluk hidup tertentu tidak dapat hidup. Lalu apakah kebenaran itu? Barangkali sejenis keyakinan yang telah menjadi syarat kehidupan (Nietzsche)
Dalam mengkritik agama Kristen, Nietzsche pada dasarnya mengkritik gaya perwakilan yang khas agama Katolik. Para pendeta mengklaim mempresentasikan komunitas, namun, dengan menggunakan sifat bajik untuk diri mereka sendiri, mereka mengontrol massa sambil berpura-pura berbicara atas nama mereka. Ini dia sebut sebagai ‘efek sabda dewa’: dengan menenggelamkan dirinya ke dalam kelompok (pelayan masyarakat’, dan sebagainya) sang pendeta lebih signifikan dibandingkan kelompok itu, serta memperoleh status khusus karena berbicara atas nama kelompok tersebut.
Hal ini ternyata terjadi pula pada pemuka agama lainnya. Ambil saja Islam—yang memiliki kiyai, berceramah di depan massa, sambil mengatakan bahwa ia adalah pembawa kebjikan. Pada kenyataannya, rumah-rumah kiyai memiliki kemewahan yang sangat jauh dengan masyrakat sekitarnya di perkampungan. Mereka meminta orang bersedekah kepadanya, tetapi ia sendiri menumpuk harta untuk dirinya sendiri.
Bagi saya pribadi, tentu tidak semuanya seprti itu, nemun jika melihat kenyataannya, profesi kiyai, pendeta, dukun, dan hal-hal yang berbau mistis lainnya, sangat menggiurkan. Dan lucunya, bobroknya selalu ketahuan.
Para pemimpin negeri Indonesia saya anggap belajar dari kebajikan sang kiyai atau pendeta semacam yang disebutkan Nietzsche di atas. Ia mengatasnamakan rakyat, sebagai pelayan rakyat, namun yang diatasnakamakan itu dihisapnya sampai tak bisa berkutik. Contoh yang paling kongkret adalah, pembangunan gedung dengan nilai Rp, 1,8 T dilengkapi kolam renang, panti pijat, tempat refreshing, dan segala bentuk yang berbau maksiat lainnya—untuk kepentingan siapa sebenarnya itu semua?
Ketika ada orang-orang yang mencoba mempertanyakan hal itu, mereka tutup-tutupi dengan dalih hukum, UUatau peraturan pemerintah lainnya, yang memang sangat nyaman bagi segelintir orang. Hal ini persis seperti yang dikatakan Nietzsche tentang pendeta yang menggunakan ayat-ayat Tuhan, pengadilan terakhir, konsep-konsep baka, kekelana jiwa dan lain sebagainya sebagai dalih untuk menakut-nakuti umatnya.
__________________________________________
Catatan :
Umat manusia terlibat dalam kehidupan, dan ini menciptakan tuntutan-tuntutan. Bahasa, adalah salah satu tuntutan kehidupan., yang pada gilirannya nanti bahasa memberikan tuntutan kepada kita: ontologi kita, metafisika kita, atau bahkan filsafat kita. Karena itulah Nietzsche mengatakan, kekuasaan bahasa telah membinasakan pemikiran, karena kita telah mengacaukan ungsinya. Kita tidak penah bisa lepas dari tirani bahasa, karena itu kita harus mampu menggunakan dan mengembangkan bahasa, karena bahasa adalah sebuah tuntutan dasar manusia.
Jejak Langkah Manusia Indonesia
Oleh: Syahrul Q
- Masa Kerajaan Nusantara
Fakta mencatat, bahwa sejak lama, masyarakat nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berperang ratusan tahun, baik itu perang antara kerajaan yang satu dengan yg lainnya maupun perang saudara. Sejarah menulis juga tentnag ada raja yg zalim dan semena-mena terhadap rakyatnya, ada pula raja yg memang memakmurkan rakyatnya. Namun demikian, semua peperangan itu adalah untuk kepentingan kekuasaan. Pada akhirnya, peperangan demi peperangan secara langsung dapat dirasakan oleh rakyat yg semakin sengsara, akibatnya, terciptalah watak yang oleh Pramudya AT sebut sebagai “kehilangan prinsip”.
Perang antar agama (yg juga politik kekuasaan), antara Siwa dan Wisnu, yg berlangsung sekian lama membuat masyarakat mencoba mencari persamaan2 diantara keduanya lalu memadukan keduanya tanpa prisnip, dengan tujuan damai, tanpa terjadi lagi bentrok social yg sangat menakutkan dan merugikan. Hal ini tertera dalam syair2 yg ditulis oleh orang yg hebat pada masanya, antara lain Hayam Wuruk, Tantular, Prapanca dan lainnya. Islam masuk seratus tahun kemudian setelah Majapahit runtuh, diterima ‘juga tanpa prinsip’, dengan mencoba mencari persamaan antara Siwa, Wisnu, dan Islam, sehingga Islam diambil syariatnya semata.
Nyatanya, ‘kehilangan prinsip’ inilah yang melahirkan para oportunis sejak zaman itu, yg pada akhirnya mengalahkan Jawa dengan kedigdayaannya saat melawan colonial Belanda. Hal ini begitu mengherankan, bukankah Jawa atau Nusantara lainnya telah mengenal tulisan, menggunakan simbol2 dalam kehidupannya, yg artinya lebih dulu maju dari pada bangsa Eropa? Namun berhubung perilaku raja2 pribumi sendiri yang terlalu kejam dan bersikap feudal inilah yang menghilangkan kepercayaan dan keyakinan pada masyarakatnya.
- Masa Kebangkitan
Pada masa ini diawali oleh seorang yang bernama Tirtohadisuryo, atau dengan inisial Raden Mas TAS, membuat sebuah orgnisasi modern berlabel Syarikat Priyayi. Beliau mengawalinya dengan mengajak orang-orang terpelajar saat itu. Beliau beranggapan bahwa orang-orang terpelajar atau priyai yang harus memulai gerakan. Sayangnya, masyarakat waktu itu banyak yang merasa bukan priyayi dikarenakan istilah priyayi masih begitu rancu. Di samping orang-orang terpelajar, Priyayi juga bisa diartikan sebagai orang2nya Kolonial Belanda.
Beberapa Tahun kemudian setelah Syarikat Priyayi hancul oleh koruptor dalam tubuh organisasi tsb, maka Raden Mas TAS mengulanginya dengan membentuk organisasi baru, yaitu Syarikat Dagang Islam. Beliau ingin membuat organisasi yang bebas dan merdeka, telepas dari pengaruh Belanda. Menurutnya, semua orang adalah pedagang, dan kebanyakan rakyat Nusantara beragama Islam. Maka dari itu, perlu dibentuk organisasi yang beranggotakan bebas, dan siapa saja boleh mengikutinya menjadi anggota. Organisasi modern ini langsung disambut oleh masyarakat, dan berangotakan luar biasa banyak. Pemerintah colonial saat itu sudah mulai khawatir dengan gerakan ini, karena memiliki kekuatan massa yang luar biasa, serta didukung oleh media pribumi yg tentu saja dipimpin langsung oleh Raden Mas TAS sendiri.
Sebelum Syarikat Dagang Islam (SDI) terbentuk, Lahir pula oraganisasi lain yang cukup terkenal, yaitu Boedi Utomo. Organisasi ini juga beranggotakan para priyayi yang berasal dari Jawa. Artinya, selain Jawa tidak boleh menjadi anggota, apalagi yang bukan priyayi.
Hal yang menarik dan aneh adalah, Boedi Utomo disokong, disubsidi dengan dana yang cukup oleh pemerintah colonial Belanda. Pada akhirnya, organisasi ini menjadi semakin popular, dan pada masa sekarang, hari lahirnya dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional.
Pertanyaannya adalah, mengapa Boedi Utomo didukung pemerintah Kolonial Belanda? Bukankah organisasi ini bermaksud membawa masyarakat ke arah kemerdekaan?
Pemerintah Kolonial ternyata memang sudah memperhitungkan kelahirannya Boedi Utomo. Bahkan bisa jadi, Belandalah yang memprakarasai lahirnya Boedi Utomo. Boedi Utomo merupakan organisasi kedaerahan, bersifat local dan mengusung feodalisme Jawa. Sehingga pada masa berikutnya, akan terlahir pula organisasi2 modern lain yang akan mengusung kedaerahannya masing2, yang hanya mementingkan segolongan orang-orang tertentu, tanpa melihat keberadaan daerah lainnya. Organisasi bersifat kedaerahan ini tentunya juga akan lebih mementingkan RAS tertentu. Bukankah persoalan RAS inilah (seperti yg tertulis pada paragraph sebelumnya) yang justru menghancurkan watak pribumi nusantara?
Perkiraan pemerintah colonial tepat. Masing-masing organisasi kedaerahan lainnya yang lahir pada masa seiring dengan Boedi Utomo ternyata memang mementingkan lokalitas mereka. Pada kenyataannya, ketika berhadapan dengan kelompok daerah yang lain, akan terbentur berbagai kepentingan kekuasaan golongan, daerah, yang justru ngotot-ngototan merasa paling benar sendiri dan melupakan eksistensi nasionalisme yang diusung oleh Raden Mas TAS.
Konflik RAS paling terasa hingga masa ini.
- Masa Kemerdekaan
Oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir, dibentuk kembali nasionalisme keindonesiaan, dan menanggalkan sifat lokalitas atau kesukuan. Kita semua, adalah satu, yaitu Indonesia. Bukan Jawa, bukan Sumatra, Bukan Bali, atau bukan yang lainnya, tapi satu, Indonesia. Namun sayang, persoalan nasionalisme ke-Indonesia-an ini dihancurkan lagi oleh Rezim ORBA, yang justru membangkitkan kembali nasionalisme Jawa seperti yang diusung oleh Boedi Utomo di atas.
Seluruh Nusantara harus menjadi Jawa, atau lebih tepatnya lagi, tunduk pada Jawanisme. Hal-hal yang berbau keaderahan boleh berkembang, tetapi dengan catatan "disesuaikan" dengan Jawa. Keputusan Presiden Pada Tahun 1975 adalah hal yang paling nyata. Semua kepengurusan daerah harus seperti di Jawa, seperti lurah, bupati, dan lain sebagainya, meski di daerah-daerah tertentu sudah terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang lebih dipercaya dan diamini masyarakat setempat.
DI Yogyakarta, (mungkin karena) berkat jasanya melawan Belanda, (atau mungkin tempat besarnya pak Harto), dibiarkan tetep menjadi daerah Istimewa, yang mempertahankan keistanaan atau kerajaan. Namun Istana yang di Yogyakarta, bukanlah sebuah Negara atau bangsa kecil, tetapi lebih berbentuk pada museum kebudayaan semata. Fenomena hingga saat ini, UU tentang DI Yogyakarta, belum pernah bisa tuntas, bukan?
Aceh adalah masyarakat yang keras, dan melawan kebijakan Jawanisme sejak lama. Terbentuklah front kemerdekaan Aceh yang sangat menentang kesemena-menaan orang-orang Jawa yang bermukim di sana. Hal ini berarti GAM terbentuk oleh perlawanan terhadap Jawanisme itu sendiri. Lalu dengan alasan yag persis sama, seperti pemerintah colonial dulu, siapa saja yang melawan nasionalisme (Jawa) ini akan dianggap sebagai teroris, dan dicap penjahat nasional. Dibantailah masyarakat Aceh dengan kejam.
Alasan-alasan seperti inilah yang membolehkan terjadinya pembunuhan serta pembantaian terhadap rakyat sendiri. Bukankah Soeharto berada pada peringkat ke-8, manusia terkejam di seluruh dunia? (Hitler no.2).
- Masa Sekarang
Dengan terkuaknya kasus GAM, ternyata banyak juga masyarakat Nusantara yang menentang kebijakan2 yg bersifat Jawanisme itu, seperti di Papua, Maluku, Timtim (yang sudah keluar dari Indonesia), Riau, dan banyak lagi. Sementara daerah lainnya yang masih berada dalam kekuasaan Indonesia secara utuh, sering bergumam..., menginginkan kebebasan bertindak secara lokalitas.
Lahirlah apa yang disebut sebagai otonomi daerah, yang ternyata justru menciptakan raja-raja kecil dengan membawa sikap dan sifat feodalisme Jawa yang sudah berkembang sekian ratus tahun itu. Selama 32 tahun masa Orba, telah mampu membentuk karakter baru, yaitu karakter “lupa” pada asal, lupa pada sejarah. Jika Raja-raja nusantara dulu yang berperang terus-menerus menciptakan watak, “kehilangan prinsip”, ORBA menciptakan watak, “lupa daratan…..”. Bukankah kedua watak ini menciptakan masyarakat oportunis?
Kenyataan pahit yang dirasakan rakyat Indonesia hingga saat ini adalah, hasil telur dari Orba ini masih tetap bekuasa, dan menggunakan segala cara agar tetap berada di atas. Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 bukan sesuatu yang dapat menggeser kekuasaan colonial di Indonesia, tetapi justru lebih melanggengkan colonial itu sendiri.
Bukankah Pramudya pernah mengingatkan, “yang colonial itu selalu iblis”. Bukankah pemerintahan Orba dan hasil didikannya sampai SBY sekarang adalah colonial juga? Yang dengan berbagai cara, berbagai alasan, berusaha untuk tetap mempertahankan kekuasaan, meski scenario politik yang dibuat ternyata bolong dan bocor, lalu membutuhkan tumbal sulam, (maaf salah… tambal sulam, maksud saya hehehe)
___________________________________________
Catatan:
1. Kepada pemimpin pribumi, Belanda bermanis mulut meski sebenarnya memperlakukanmereka kurang lebih sebagai pelaksana perintah saja (Schrieke, 1955:283) Kaum Priyayi dipekerjakan untuk mengawasi pengisapan atas petani kecil, sementara istana-istana, keranton, hanya dijadikan museum hidup (Richard Schehner)
2. Betapa bedanya bangsa Eropa dengan Hindia. Di Eropa, setiap orang yang memberikan sesuatu bagi umat manusia akan mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan dalam sejarahnya. Di Hindia, nampaknya setiap orang ‘takut’ tak mendapatkan tempat dan ‘berebutan’ untuk menguasainya (Pramudya AT)
3. Perzinahan Kapitalisme dan Feodalisme di indonesia telah melahirkan anak haram bernama Orbaisme, dan kini anak cucunya sedang menikmati hasil keringat bumi pertiwi , tanpa pernah mengleluarkan keringat bagi bumi pertiwi itu sendiri.
Catatan Kecil, Gerakan Sosial di Indonesia
Oleh: Syahrul Q
Panas terik matahari kulalui di jalanan umum, riuh oleh deru mesin kendaraan yang lalu lalang, disirami asap berbaur debu jalanan. Trafic light menunjukkan lampu berwarna merah, dan perlahan sepedea motor kuhentikan, menunggu sejenak, lampu berganti warna. Dalam keadaan terik dan berkeringat seperti itu, tiba-tiba datang dua anak kecil menengadahkan tangannya, meminta sekeping uang logam. Sementara, di pinggir jalan sana, seorang ibu-ibu tua renta, berpakaian lusuh dan kotor, juga menengadahkan kaleng kecil, meminta kepada orang-orang yang (mungkin) hendak berbaik hati berbagi rezeki kepadanya. Hatiku renyuh seketika, sekaligus geram, betapa kejam hidup di kota. Begitu banyak orang yang telah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anak mereka yang masih di bawah umur. Dan begitu banyak orang-orang yang durhaka kepda orang tuanya dengan menyia-nyiakan kehidupan orang tua renta, sehingga terpaksa duduk di berbagai sudut kota, meminta-minta sedekah.
Lampu hijau menyala, pertanda kendaraan yang terhenti sejenak tadi, boleh meneruskan perjalanan. Namun, tampak beberapa polisi lalu lintas berjejer di depan sambil merentangkan tangannya, meminta pengguna kendaraan untuk tidak melanjutkan laju kendaraannya. Serta merta, sepeda motor kuhentikan sambil bertanya, ada apa gerangan? Sementara pengguna kendaraan lainnya, ngomel-ngomel tidak karuan, menggerutu karena kepanasan.
Di kejauhan sana, terlihat banyak kerumunan massa, bersorak, teriak, berkoar, ganas, berorasi, menyatakan sikap dengan tegas, bahwa mereka adalah golongan anti Kapitalisme dan Neolib. Sebagian besar membawa berbagai poster, ada tulisan yg tercetak rapi, ada pula poster yang hanya bertuliskan spidol sederhana. Tulisan-tulisan di poster tiada lain adalah “ANTI KAPITALISME!!!” Poster lain yang sealiran bertuliskan, “ANTI NEOLIB!!!”
Kerumunan massa itu bergerak, beriringan tanpa henti meneriakkan yel-yel dengan keras. Wajah mereka menegang, seperti kemarahan yang memuncak tertumpah. Urat-urat di lehernya juga terliaht jelas dari kejauahan. Megaphone yang sedikit kehabisan batre hanya digunakan oleh seorang di barisan depan. Riuhnya iringan itu membuat pengguna jalan yang lain harus mengalah, meski dibarengi dengan omelan juga. Orang-orang yg berada di sekitarnya merasa ketakutan, khawatir akan terjadi kerusuhan, takut, dan tidak berani mendekat ke kerumunan massa itu. Sambil mengusap peluh di dahi, aku mencoba menyelami tuntutan mereka. Mendengarkan dengan seksama, membaca tulisan-tulisan di poster, dan merekam peristiwa demo itu.
***
Ya, saat ini aku tengah duduk santai sambil melihat remang matahari menuju senja. Pikiranku melayang jauh tentang Kapitalisme dan Neoliberalisme yang sangat dibenci oleh para pendemo tadi siang sambil memutar berbagai pengetahuan serta pengalaman yang mengisi kepalaku.
Tentu ada benarnya juga tuntutan mereka. Bagaimana mungkin faham Kapitalisme dan Neolioberalisme diberlakukan di Negara ini? Jika saja Indonesia memiliki nilai produksi yang tinggi, nilai budaya, nilai seni, nilai kreativitas, dan nilai-nilai lainnya juga tinggi dengan produksi-industri yang matang, faham Neoliberalisme atauapun Kapitalisme mungkin tidak menjadi persoalan, namun Indonesia adalah Negara dunia ketiga, yang masih lemah, dan terus dilemahkan oleh kekuatan-kekuatan lain, yang note-benenya adalah Neoliberalisme dan Kapitalisme itu sendiri.
Lebih jauh tentang Neoliberalisme, ia lebih banyak dipandang sebagai konsep ekonomi pasar berdasarkan Konsensus Washington yang dirumuskan oleh John Williamson (1989). Konsensus Washington yang berisi 10 item liberalisasi ekonomi seperti disiplin fiskal, deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, dan liberalisasi sektor finansial menjadi standar paket reformasi ekonomi yang ditawarkan (baca: dipaksakan) IMF, Bank Dunia, dan Amerika Serikat kepada dunia ketiga.
Neoliberalisme merupakan isme yang dinisbahkan kepada watak pemerintahan Augustu Pinochet (1873-1990) di Chile hasil perselingkuhan keditaktoran dengan ekonomi pasar bebas. Perselingkuhan ini terjadi ketika Pinochet yang meraih kekuasaan melalui kudeta berdarah mengangkat Chicago boys untuk mengelola kebijakan ekonomi.
Chicago boys adalah para pemuda Chile yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Chicago. Selama 1955-1963, 30 pemuda Chile telah mendapat gelar PhD di bidang ekonomi. Di universitas inilah para pemuda tersebut dicuci otaknya dengan pemikiran ekonomi ala mazhab Chicago, yakni mazhab ekonomi yang dikembangkan oleh seorang imigran Yahudi Milton Friedman yang mendapat gelar nabi Neoliberalisme.
Sementara di Indonesia, banyak para pejabat kini yang duduk di kursi pemerintahan dan menentukan kebijakan, adalah hasil dari cuci otan itu, yang kemudian menjadi agen leluasa dan sekaligus berkuasa bagi neoliberalisme tersebut.
Kembali kepada Peristiwa demo tadi siang, aku merasa sedikit sanksi, bagaimana mungkin mereka menuntut penghapusan isme ini kepada pemerintah, sementara pemerintah Indonesia mengagungkannya? Para pejabat pemerintah termasuk Presiden, meski menyangkal faham ini, namun dalam tindakan dan kebijakan yang diambil tampak sebagai PEMUJA Neoliberalisme dan Kapitlaisme. Hal ini dibuktikannya melalui penjelmaan dirinya sebagai agen dari produsen dan pemilik modal luar negeri, yg kemudian menjadikan Indonesia sebagai market, namun memonopoli serta kong kalikong denan pemodal. Sementara, pemerintah Indonesia tidak pernah ada usaha untuk membangun kedaulatan kapital, juga tidak ada usaha untuk membangun kemandirian industri secara strategic, di samping tidak adanya usaha untuk menjadikan indonesia sbg negara produsen, melainkan hanya sebagai konsumen. Akibatnya, kelas elit dan menengah yg tercipta di Indonesia hanyalah kelas menengah hasil kerjasama exploitasi mineral asing-indonesia dan kelas menengah yang “dekat dengan pasar dan penguasa”.
Bukankah hal ini berarti Negara ini mengungkungkan dirinya dalam penjara kolonialisme, dan terjerembab dalam penjajahan baru? Lucunya lagi, kebanyakan masyarakat Indonesia sudah mulai menyadari keterpurukan ini, sedangkan pemerintah (oligharki) Indonesia tidak peduli dengan fenomena kesadaran masyarakat ini, dan lebih asyik berkutat sendiri dengan berbagai macam kesenangan dan kepuasan pribadi selaku penguasa.
Fenomena menarik dari masyarakat ini antara lain adalah bergeraknya masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk peduli dan turut sumbang suara berikut tindakan terhadap kasus-kasus ketidak-adilan di negeri ini. Hal yang paling fenomenal adalah gerakan Koin for Prita. Mulai dari orang-kantoran, kelas menengah, bahkan para pengamen jalanan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ini berawal dari gerakan pesbuker dan orang-orang yang aktif di dunia maya, yang kemudian bersinergi dengan media. Dan gerakan ini menjadi sesuatu yang luar biasa berpengaruh, bahkan Times (New York) pun turut ambil bagian dalam gerakan ini. Gerakan macam apakah ini? Bukankah kepedulian dan rasa kebersamaan ini bisa menjadi sebuah kekuatan, bisa menjadi sebuah modal baru, atau kita sebut saja kapitalisme jenis baru?
Ah, jadi teringat dengan gotong-royong teman-teman dunia maya saat melahirkan Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang bisa dibaca dan dikutip bebas tanpa bayar, didirikan pada 2001, ensiklopedia lewat Internet ini kini sudah terbit dalam 266 bahasa, isinya ditulis oleh 75 ribu penyumbang aktif. Di sana ada semacam gotong-royong postmodern: tak ada yang memerintahkan, tak ada pusat komando, tak ada pusat, dan tak ada perbatasan yang membentuk lingkungannya. Masing-masing orang memberi sesuai dengan kemampuannya. Yang diberikan adalah informasi, yang didapat juga informasi. Tapi transaksi itu tak menggunakan uang. Pasar dan Modal Besar tak hidup di sini.
Hal yang mirip terjadi dalam gerakan yang dirintis Richard Stallman untuk menyediakan peranti lunak gratis bagi siapa saja. Beriburibu pengembang software pun bekerja sebagai sukarelawan bersamasama dan berhasil menciptakan GNU/Linux, sebuah pesaing serius bagi Sang Modal Besar di belakang Microsoft. Sebanyak 4,5 juta sukarelawan lain menciptakan sebuah super-komputer paling kuat di muka bumi.
Kembali pada gerakan-gerakan social yang terjadi di Indonesia. Prita Mulyasari yang mengeluh karena buruknya penanganan kesehatan RS Omni di dunia maya menuai gejolak dari masyarakat. Prita didukung oleh berbagai kalangan melalui sumangan koin dan hasilnya luar biasa. Kekuatan gerakan masyarakat ini tentu harus menjadi perhatian yang serius. Di sisi lain, kasus “cecak vs buaya” menjadi fenomenal, juga berawal dari para pesbuker. Gerakan-gerakan lain menyusul, seperti “Turunkan Patung Obama”, “Revolusi untuk Indonesia”, “Gerakan Anti Korupsi”, 1.000.000 People Power Melawan Kezaliman”, dan gerakan-gerakan lainnya.
Lalu, istilah apa yang bisa kita gunakan untuk menyebut gerakan ini? Menyebutnya sebagai sosialisme, bukan, karena tetap bergantung pada hal-hal yang berbau Kapitalisme. Penggabungan kapitalisme dan sosialisme menjadi Kapitalisme-Sosialisme? Bisa jadi, karena Robert Putnam, mendefinisikan capital-social sebagai bagian dari organisasi sosial berupa hubungan sosial dan rasa saling percaya yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk kepentingan bersama. Namun demikian, definisi ini masih ditentang oleh banyak ahli, dan definisi-definisi tentang Kapital-sosial terus bermunculan. Dan Capital-social bukanlah penggabungan Kapitalisme-Sosialisme.
Ah, entahlah. Aku hanya sering kali memimpikan para pemikir Indonesia mampu mendefinisikan dan merumuskan teorinya sendiri, berasaskan pada konteks, fenomenal, serta social budaya masyarakat Indonesia, tanpa harus mencari-cari padanan pada teori-teori yang ditulis oleh orang luar (yang tidak tahu soal Indonesia), dengan tidak mengabaikan begitu saja teori-teori yang pernah menjadi faham banyak orang di dunia, seperti Marx, Webber, Durkheim, Lenin, Nietze, John Locke, Adam Smith, dll.
Matahari jingga semakin memerah di ufuk barat. Senja sebentar lagi akan berganti malam. Kututup buku harianku seraya mengingat kembali para mahasiswa yang berdemo tadi siang. Mereka begitu semangat menyuarakan Anti Kapitalisme dan Anti Neolib, berusaha mencari simpati dengan orasinya, berkoar, marah-marah, menghujat sana-sini, mencaci dan lain sebagainya, sehingga tidak sedikit yang justru mencaci balik kepada mereka. Mereka begitu marah pada cengkraman Kapitlaisme dan Neoliberalisme, namun mereka (mungkin sengaja) lupa, dalam berdemo mereka gunakan alat-alat hasil produksi kapitalisme. Mereka juga begitu antusias berdemo menyuarakan Sosialisme, namun apakah mereka melihat dan merasakan getirnya seorang nenek tua meminta sedekah di pinggir jalan, atau dua anak kecil yang meminta kepingan logam?
Semoga bermanfaat
Syahrul Q.
Sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Kapital_sosial
* http://caping.wordpress.com/category/kapitalisme/
*dll.


