t e m u i c i n t a . . . .

 “Aku suka kamu” Kataku lirih di dekat telinganya.
Ia tidak merespon sama sekali. Matanya hanya menatap kosong. Aku sendiri bingung dengan keadaan yang seperti itu. Aku berharap ia tersenyum lalu menyambut rasaku yang kian bergelora untuknya. Atau kalau tidak, mungkin ia bisa mengatakan … maaf, aku tidak bisa menerima hubungan ini, karena titik titik.. karena ini atau itu dan seterusnya…, tapi ini tidak. Ia hanya terdiam membisu, seakan aku tidak ada di dekatnya. Kata-kata yang kulontarkan hanyalah sebaris kata tanpa makna.
Sesaat kemudian, terjadi keheningan yang sangat. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, meski banyak hal yang ingin aku utarakan terutama tentang perasaanku, tentang diriku, atau kalau memungkinkan aku bisa bertanya tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang masa lalunya (yang mungkin kelam), atau tentang apa saja yang bisa memecah suasana. Aku sudah tidak lagi memiliki tema yang cocok untuk dibicarakan dalam kondisi seperti itu. Haruskah aku menggenggam tangannya agar ia terjaga dari pandangan kosong itu, lalu aku bisa lebih meyakinkannya pada kesungguhanku. Atau mungkin aku bisa menarik dagunya, lalu menantap matanya dengan lekat agar ia menyadari ketulusanku. Ah, tentu saja itu tidak sopan. Apalagi suasana café waktu itu begitu ramai. Yang terpenting adalah  aku sudah mengatakannya…, dan aku hanya bisa menunggu responnya. Tapi…,
“Sudah malam, ayo kita pulang.” Katanya singkat seraya menghabiskan lemon tea yang sepertinya tidak begitu ia sukai. Aku langsung berdiri, dalam keadaan yang serba salah. Aneh saja rasanya, layaknya anak kecil yang patuh dan penurut terhadap setiap kata ibunya. Aneh juga ketika suasana café yang semestinya begitu romantis berubah drastis, didera perasaan apatis, dan aku, aku kalau boleh ingin rasanya menangis, tapi tentu itu terlalu dramatis.
*   *   *
Malam begitu hening terasa. Hawa dingin menelusup melalui jendela kamar yang memang sengaja kubuka. Tubuhku terbaring lesu menatap langit-langit yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kucoba memejamkan mata yang terasa berat karena kantuk mendera. Dan aku begitu merasa tersiksa, karena lelap tak kunjung menerpa. Ya, pikiranku masih melayang mengembara, menelusuri jejak malam yang hitam pekat jelaga. Lalu tanpa sadar kusebut lirih namanya, bangkitkan rindu yang tak terkira.
Ada apa dengan semua ini? Sebegitu dramatiskah efek dari peristiwa sore tadi? Tidak! Aku tidak boleh terpengaruh oleh hal sepele semacam itu. Sebaiknya aku baca buku, atau mengerjakan segala sesuatu yang belum selesai. Tapi, semangatku seperti hilang ditelan gelisah. Aku tidak berdaya.
Memang, harus kuakui tentang kehadirannya. Ketika ia berada didekatku, aku merasakan kedamaian yang selama ini aku cari. Saat aku bersamanya, aku merasakan aliran darah semangatku tumbuh, dan merasa hidup. Dia mungkin tidak secantik perempuan-perempuan kota yang memenuhi pelataran mall. Kulitnya tidak seputih para  selebritis yang suka nampang di layar kaca dengan make-up berlebihan. Wajahnya juga tidak semanis bintang Korea yang digandrungi para remaja kini. Dia hanyalah perempuan sederhana. Tapi jujur, aku suka melihat matanya yang kadang memancarkan sinar kedamaian. Aku sering membayangkan alisnya yang tebal, menghiasi raut wajahnya yang mungil. Aku senang melihat keindahan rambutnya yang rapi tertata. Aku juga seringkali terkesan ketika melihat jari-jari mungilnya yang dihiasi kuku-kuku bersih nan indah. Intinya, aku mengagumi segala hal yang melekat pada dirinya.
Ingin rasanya menulis bait-bait puisi untuknya seperti kalimat-kalimat yang dilontarkan Romeo kepada Juliet. Tapi sayang, dia tidak begitu suka membaca sastra. Atau seandainya jika memungkinkan aku bisa ke kediamannya, sekedar mengatakan bahwa aku merindukannya, lalu memberikan sekuntum bunga, seperti pangeran yang tengah memadu kasih dengan putri idamannya. Tapi tentu saja ia sudah terbuai lelap, dan bermimpi indah tentang masa depannya yang indah pula.
Ah, iya, masa depan. Mungkin itulah yang menggangu pikirannya. Hal itulah yang membuat mata indahnya seringkali menatap kosong. Dia tidak mungkin menerimaku sebagai kekasih hatinya, karena aku hanyalah laki-laki yang belum memiliki masa depan yang jelas. Aku hanyalah seorang laki-laki yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi tentang revolusi kebangsaan, idealis, anti kapitalis, memusuhi feodalis, dan buruknya lagi seorang yang mengaku dirinya penulis, tapi tidak pernah bisa populis.
Oh tidak. Tidak mungkin perempuan sesederhana itu mengukur-ukur segala kekuranganku, apalagi membandingkanku dengan laki-laki lain yang lebih menjanjikan. Tidak. Dia tidak seperti itu. Tetapi jika ia membandingkanku dengan laki-laki yang pernah bersemayam di hatinya???  Lalu dia mengingat betapa indahnya kenangan yang pernah ia lewati, betapa bahagianya rasa yang pernah ia jalani, dan betapa romantisnya waktu yang pernah ia lalui.
Jika hal itu yang memenuhi pikirannya, berarti aku belum kalah. Aku hanya perlu menemukan sesuatu yang bisa mengetuk pintu hatinya, agar bisa terbuka kembali, lalu dengan suka cita, aku akan membahagiakan hatinya. Tapi bagaimana jika yang ada di pikirannya justru tentang masa lalu yang telah mengkhianatinya? Bukankah seorang perempuan teramat sulit melupakan perasaan perih yang menusuk kalbunya? Selugu apapun seorang perempuan, jika pernah disakiti, maka ia akan merasa sangat sulit untuk menerima laki-laki lain, apalagi jika rasa sakit itu hingga kini masih menganga, menyayat lubuk hatinya, hingga tak mungkin lagi terobati. Kemudian aku, kehadiranku, kedekataknku, mungkin justru mengusik hatinya yang lelah. 
Badanku gemetar.  Perutku mulai terasa mual. Kepalaku begitu sakit tak terperi. Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku. Tapi pandangan mataku berkunang-kunang. Aku terjatuh lagi, dan ingatanku terasa menguap, meski sempat aku dengar suara sendu azan subuh dari muazin yang masih mengantuk. Lalu semuanya gelap. Sepi.
*   *   *
Matahari mungkin sudah sore saat aku terjaga. Aku tidak peduli. Toh, aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Aku tidak memiliki semangat lagi, tidak memilkirkan apa-apa lagi. Oh, ternyata benar kata orang, begitu sakit rasanya ketika cinta yang begitu tulus ditolak oleh seseorang yang selama ini diimpikan. 
Tiba-tiba HP ku bergetar mengagetkanku dari kelesuan. Ada sebuah sms masuk… Maz, dari tadi aq telpn kok gak diangkat2? tdr yah? Ntar mlm tmani aq ke prnkhn tmnku jam7 yah. Jgn tlat! awas! Sontak aku bangun. Gairah hidup kembali menjalari setiap nadi-nadiku. Aku tersenyum, meski kebingunganku masih menggantung. “Ah, begitu misteriusnya perempuan satu ini”, gumamku. Tapi mungkin karena itulah aku menyukainya. 

Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim


Aku berteduh dari gerimis yang panjang di sebuah pinggiran toko. Udara malam terasa dingin dan begitu lama. Berbatang-batang rokok telah kuhabiskan sebagai pengisi waktu, namun, “… gerimis sialan ini belum juga reda!” gumamku. Untung saja ada toko yang masih buka dan menjual berbagai minuman kaleng, sehingga mulutku tidak terlalu sumpek dengan asap rokok.
Sebuah sepeda motor mendekat. Pakaian mereka tampak basah meski mengenakan jas hujan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.
Namun kuakui, sepsang kekasih remaja itu cukup serasi. Laki-laki memiliki tampang cukup macho, sementara yang perempuan cantik dan sexy. Ah, ya sexy. Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.
Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat , mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.
“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.
Gerimis mulai sedikit mereda. Aku mencoba menata diri, bersiap hendak pergi meninggalkan emperan toko itu. Seorang pelayan toko tersenyum padaku, seraya menutup tokonya. Jarum jam ternyata sudah menunjuk pukul 10 malam. Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.
Aku nyalakan sepeda motor. Dan tepat saat itu, seorang gadis lewat di depanku. Aku melihatnya takjub. Kususun keberanianku, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya.
“Boleh aku antar?” sapaku malu-malu. Entah dari mana kebernaianku seperti itu. tidak biasanya aku melakukannya.  
“Nggak usah, Mas. Deket kok.” Jawabnya singkat sambil melihatku aneh. Mungkin di dalam hatinya  ia protes. Kenal juga nggak. Sok-sok nawarin ngantar.
“Santai aja mbak. Aku ikhlas kok” tawarku serius. Dadaku serasa berdebar kencang. Ada perasaan takut ditolak mentah-mentah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika tawaranku itu ditolak, sepasang remaja tadi tentu akan mengolokku habis-habisan, meski cuma dalam hati mereka.
“Nggak usah dech, Mas. Lagian aku bawa payung kok.” Katanya.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
Aku tersenyum kepadanya, sambil mantap lekat ke dalam matanya. Kuberharap ia dapat membaca permohonanku melalui pandangan mata kuyuku.
“Baiklah.” Katanya tiba-tiba.
Perasaan senang bercampur gembira menelusup hangatkan nadiku yang beku. Namun sayang sekali..., hanya beberapa meter ke depan, belok kiri sedikit, lalu masuk ke gang, dan ia meminta untuk berhenti. 
“Stop di sini Mas. Di sini kostku” katanya lembut.
“Oke dech…, terima kasih sudah sudi menemaniku.” Ucapku lirih.
“Ah, semestinya aku yang berterima kasih” katanya membantah. “Tapi mengapa mas mau mengantarku? Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa tidak mengenal…”
“Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku memotong pertanyaannya.
“Hahahaha …. Mas ini lucu. Yang jujur saja dah… eh yang bohong aja duluan.”
“Kalo jawaban bohongnya, karena aku mengagumimu, kataku menggoda seraya melihat tubuh rampingnya yang sederhana tanpa rias molek. Wajahnya memang manis, dengan alis tebal, meski matanya tampak lesu, mungkin karena lelah setelah seharian bekerja. 
“Hahahaha….” Ia tertawa semakin keras. “Kalau jawaban jujurnya?”
“Karena kau mengenakan rok.” Jawabku singkat.
“Loh, kok? Apa hubungannya dengan rok?” Tanyanya keheranan.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju.

Ya. Aku tidak sempat mengenal namanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hidupnya. Aku juga tidak sempat meminta nomor HP atau sejenisnya agar bisa bertemu kembali atau mengenalnya lebih dekat. Tapi sudahlah.
Malam ini aku bertemu dengan seorang perempuan yang kuanggap luar biasa. Ia mengenakan rok selutut. Bagiku, perempuan itu tampak bersahaja, namun terkesan begitu feminim. Gerimis pun mereda. Aku tersenyum dalam lelapku.

Maafkan Aku Bu De, Kita Serahkan Saja pada Yang Kuasa

Bu De, begitu ia disapa, entah siapa nama sebenarnya, aku tidak tahu. Aku terpaksa tinggal bersamanya sejak kecil, karena orang tuaku harus merantau entah kemana, dan aku dititipkan di Bu De. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil berukuran 2 x 3 M. Gubuk itu sekaligus berfungsi sebagai warung kecil sebagai satu-satunya tempat kami bergantung hidup. Dengan demikian, Bu De kadang buka 24 jam sehari untuk melayani pembeli yang sewaktu-waktu pulang atau berangkat kerja di pagi buta.

Saat itu usiaku baru lulus SD. Dan karena aku mendapat peringkat ketiga di sekolah, harus ada wali murid yang datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Bu De terpaksa tidak membuka warung hari itu, hanya untuk memenuhi panggilan dari sekolah. Ketika aku turun dari panggung setelah menerima ijazah, Bu De memelukku dengan erat, hangat, bangga, serta penuh kasih sayang. Sebuah kotak kecil kuberikan kepada Bu De, sebuah hadiah dari sekolah karena prestasiku. Bu De menangis menerimanya.
“Aku tidak keberatan menutup warung sehari untuk melihatmu berprestasi, Nak.” Ucapnya terisak. Aku pun turut menangis waktu itu, karena yang aku bayangkan adalah orang tuaku yang sebenarnya, yang entah kini berada di mana. Tapi memang, hanya Bu De yang kumiliki sekarang. Bu De yang menjadi ibuku, sekaligus ayahku. Ia mengasuhku dengan penuh kasih sayang.

* * *
Siang itu terasa cukup menyengat. Warung Bu De cukup rame dikunjungi para buruh bangunan yang saat itu tengah mengerjakan proyek bangunan besar yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami. Aku sibuk membantu Bu De mencuci piring, membersihkan meja makan, dan segala hal yang mempermudah pekerjaan Bu De.

Aku melihat para buruh itu berkelakar riang sesama temannya. Badannya berkeringat, lusuh, kekar besar dan mengkilap. Aku terus saja memperhatikan mereka seraya mengantarkan minum, atau mengelap meja bekas mereka makan. Tidak lama kemudian, mereka pergi begitu saja. Aku tersentak. Mereka belum membayar makan. Sementara Bu De masih di belakang sedang mengurus masakan. Kontan saja aku memanggil mereka.
“Pak, bayarannya mana?” Tanyaku gelisah.
“Besok. Ngutang dulu. Bilang sama Bu De ya.” Jawab mereka sambil lalu.
Bu De ternyata memahami keadaan itu. Ia tau, kalau orang-orang itu tidak akan membayar. Tapi apa dayanya? Ia hanyalah seorang perempuan paruh baya yang tidak bisa membela diri. Tapi Bu De tidak mengeluh, apalagi menangis. Ia tetap bisa tersenyum kepadaku, sambil mengatakan, “Nggak apa2, Cup. Anggap saja sedekah”.
“Tapi Bu De, mereka sudah tidak bayar makan sudah lebih dari 5 kali Bu De. Ntar kalau Bu De rugi, bagimana?” protesku kepada Bu De setelah seminggu peristiwa itu berlalu, dan terus berulang. Tapi Bu De hanya membalasnya dengan senyuman. “Kita serahkan saja sama Yang Kuasa”.
Dalam hati, aku bertekad, besok aku harus menagih orang-orang itu. Mereka harus membayar-hutng-hutngnya. Kalau tidak, BuDe tentu tidak akan bisa berjualan lagi. Namun yang terjadi justru di luar perkiraanku. Mereka malah mengejekku, lalu mempermainkanku. Tubuhku dilempar ke sana kemari, dari orang yang satu ke orang yang lain.
Bu De menangis histeris, meminta agar mereka menghentikan perlakuannya terhadapku. Bu De memohon agar jangan menyakiti aku. Tapi orang-orang kekar itu justru semakin menggila. Mereka merobek bajuku, lalu menelanjangiku. Dan saat aku terjatuh tak berdaya, mereka mengencingi mukaku. Sesaat kemudian, dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan kesakitan pada lubang pantatku tertusuk sesuatu.
* * *
Sudah tiga kali aku melamar menjadi tentara, tetapi selalu tidak lulus. Melamar menjadi polisi juga ternyata lebih sulit untuk tembus. Obrolan yang paling sering muncul jika bertemu dengan teman se-pelamar adalah, “Pake berapa?” Ada yang menjawab, seratus, seratus lima puluh, bahkan sampai ada yang tiga ratus lima puluh. Lalu dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Akhirnya ada seorang pelanggan Bu De menyarankan aku agar ikut melamar menjadi Sat-Pol PP. Ia sanggup membantu dan pasti lulus, karena ia memiliki banyak relasi di pemda.

* * *
Enam bulan lamanya aku tinggalkan Bu De untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar kepemimpinan. Tiap hari aku memikirkan kesehatan Bu De. Tiap malam aku mendoakan keselamatannya. Tiap saat aku mengkhawatirkannya. Tapi Bu De selalu berpesan, serahkan saja semuanya kepada Yang Kuasa, dan itulah yang selalu mampu menentramkan perasaanku.

Selepas dari pelatihan, kami langsung diberikan tugas untuk melakukan pembersihan dan penertiban kota dari pemulung dan anak jalanan. Temasuk juga membersihkan serta menyita beberapa rumah liar yang ada dipinggiran kota. Aku ditunjuk sebagai pemimpin regu atau komandan pasukan. Tentu saja aku bangga menerima jabatan itu. Aku merasa menjadi orang yang kuat, penuh kuasa. Dengan kekuatan dan kekuasaan seperti ini, tidak akan da yang berani melawanku, apalagi mengejekku atau mempermainkan aku lagi.
Tugas terus dijalankan. Aku tidak peduli dengan protes warga yang rumahnya terkena penertiban. Aku hanya menjalankan tugas. Dan itu adalah tanggung jawabku sebagai abdi negara. Tugas harus dilaksanakan.
Lalu,

Ada sebuah rumah yang sangat aku kenal yang masuk dalam daftar penertiban kota. Rumah itu tiada lain adalah rumah bu De. Aku tercenung sejenak, memandangi rumah mungil itu dari jauh. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa orang anggotaku sudah mulai menggedor pintunya dengan kasar. Aku masih terdiam. Seseorang lainnya mulai memukul-mukul atapnya dengan kayu panjang. Aku terdiam. Terdengar jeritan tangis hiteris dari dalam rumah menolak untuk keluar. Aku tertunduk lesu. Lalu sebuah alat berat tiba di lokasi dan mulai mengeruk rumah kecil itu, tanpa peduli, seseorang masih berada di dalam sambil menangis, berteriak, dan menjerit.

Aku memalingkan wajahku dari rumah mungil itu. Terlihat oleh mataku yang sayup sebuah bangunan megah yang dibangun saat aku lulus SD. Dalam hati aku bergumam, “Maafkan aku Bu De. Kita serahkan saja pada Yang Kuasa.”
___________________

Postmodernisme, Berfikir Kembali Untuk Indonesia

Oleh: Syahrul Q

Kata modern sering kali dipandang sebagai perkembangan paling akhir, terkini, atau paling up-to date. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan istilah modern berarti bahwa ada perkembangan-perkembangan yang mengikutinya. Selama beberapa dasawarsa terakhir, di berbagai bidang (seni, arsitektur, literature, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya), terjadi perkembangan-perkembangan yang oleh beberapa ilmuan disebut dengan postmodern. Hal ini bukan semata lahir setelah modern, tetapi ada sejumlah masalah dengan modern  yang dikemukakan dan ingin diatasi oleh postmodern.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang postmodern, ada baiknya menengok sejenak  perjlanan strukturalis menuju postsrukturalis. Charles Lemert (1990) yang menanggap awal poststrukturalis adalah pidato Jacques Derrida pada tahun 1966. Di dalam pidato tersebut, ia memproklamirkan terbitnya zaman poststrukturalis baru. Bertolak belakang dengan strukturalis, khususnya yang mengikuti peralihan linguistic dan yang melihat orang dikekang oleh struktur bahasa, Derrida mereduksi bahasa menjadi tulisan yang tidak mengekang subjek. Derrida juga melihat institusi sosial hanya sebagai tulisan dan dengan demikian tidak mampu mengekang orang, hal ini berarti Derrida mendekonstruksi bahasa dan institusi sosial (Trifonas, 1996) dan ketika dekonstruksi ini telah dilakukan, yang akan ditemukan di sana adalah tulisan.

Kalau strukturalis melihat tatanan dan stabilitas dalam system bahasa, Derrida melihat bahasa sebagai sesuatu yang tidak teratur dan tidak stabil. Konteks yang berbeda memberikan makna yang berbeda pada kata. Akibatnya, system bahasa tidak mungkin memiliki kekuatan untuk mengekang orang seperti pandangan kalangan strukturalis. Derrida menawarkan perspektif subversive dan dekonstruktif. Objek kebencian Derrida adalah logosentrisme (pencaian system pemikiran universal yang mengungkapkan  apa yang benar, tepat, cantik, dan lain sebagainya, “menjadi pendapat general”) yang telah mendominasi pemikiran sosial Barat. Logosentris tidak hanya menutupi filsafat, namun juga ilmu-ilmu humaniora.

Selain Derrida, pemikir lain yang terkait dengan poststrukturalis dan kaitannya dengan postmodernisme adalah Michel Foucault. Karya awalnya mengenai praktik-praktik diskursif merupakan upaya menyusun teori tentang koherensi internal yang tidak memperlakukan kebudayaan sebagai totalitas, melainkan sebagai domain-domain atau formasi spesifik kebudayaan -kebudayaan dengan cirinya yang diskursif.

Pada karyanya yang berjudul Madness and Civilization (1961), Foucault sepertinya menganalogkan penderita kegilaan yang harus dirawat oleh dokter di rumah sakit jiwa, merupakan refleksi dari realitas praktik subjektifitas diskursus yang nyata. Penderita penyakit gila dikungkung dan dikendalikan semua aktifitas pemikiran maupun kehidupannya. Sebab semua pemikiran maupun aktifitas pasien gila dianggap sebagai sebuah kesalahan yang harus diluruskan. Adanya kondisi inferioritas bagi si pasien sebagai akibat justifikasi bahwa pemikiran serta perilaku pasien harus dinormalkan, menjadikan semua sistem rumah sakit termasuk aturan sang dokter menjadi sang penguasa. Dengan demikian sang dokter sebagai pihak yang berkuasa dengan leluasanya mengkonstruksi pemikiran pasien gilanya sesuai dengan arah yang dikehendaki. Dalam hal ini yang lebih mendominasi dan berlaku adalah kehendak sang dokter, bukannya keinginan-keinginan mendasar dari si pasien gila.

Analog tersebut jika disejajarkan dengan kondisi praktik diskursif dalam kehidupan sosial
antara penguasa yang ingin mengendalikan pihak yang dikuasainya. Pihak berkuasa yang menganggap sebagai yang paling benar dan yang paling berhak mengendalikan keadaan harus selalu mengarahkan dan mengendalikan semua perilaku, gerak-gerik, pemikiran, bahkan wacana yang berkembang.

Setelah semakin maraknya gerakan dekonstruktif ini (yang bukan hanya mencakup bidang linguistic) merambah ke berbagai bidang lainnya seperti bidang sosial, filsafat, bahkan juga bidang seni. Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme (Grenz, http://reformed.sabda.org/etos_postmodern).

Postmodernisme merupakan suatu persepektif yang menyoroti kegagalan gagasan Pencerahan (Saifuddin, Ahmad F. 2006). Ia merujuk pada epos-jangka waktu, zaman, masa social dan politik yang biasanya terlihat mengiringi era modern dalam suatu pemahaman histories (Kumar, 1995). Postmodern pada sisi lain merujuk pada produk cultural (dalam seni, film, arsitektur, dan sebagainya) yang terlihat berbeda dari produk cultural modern (Jameson, 1991).

Intinya, Postmoderenisme mencoba menawarkan suatu perspektif baru melawan modernisme untuk menghancurkan tatanan structural yang dianggap terlalu mendominasi, atau modernisme yang umumnya bersifat generalisasi, sehingga tidak ada kesempatan bagi orang lainnya untuk naik ke atas panggung. Efek dari kemapanan pihak modernisme adalah feodalisme dan kapitalisme Barat, terpusat pada satu bentuk konvensional, dan hal inilah yang dikritik oleh kaum postmodernisme.

Kaitannya dengan situasi terkini di Indonesia adalah, maraknya Jawanisme dan generalisasi terpusat yang dilakukan oleh ORBA. Namun setelah pemikiran-pemikiran yang terlontar oleh para pemikir seperti Nietzsche, Drrida, Foucault, dan yang paling terkenal adalah Lyotard dan Baudrillard, masuk ke dalam ranah perpolitikan di Indonesia, secara sadar atau tidak, ternyata telah mampu menghancurkan pemikiran Kapitalisasi yang dilakukan oleh ORBA.

Namun demikian, Dialog tajam yang dilakukan oleh kaum modernisme, atau lebih tepatnya kritik terhadap pemikiran postmodernisme, terletak pada tidak adanya solusi yang ditawarkan, melainkan hanya melakukan dekonstruksi atau penghancuran terhadap pemikiran general kaum modernisme. Dan hingga saat ini, realisasi dari dua pemikiran, antara modernisme dan postmodernisme masih sama-sama memiliki kekurangan dan terus saling melancarkan kritik.

Secara pribadi, saya sendiri menilai postmodernisme telah  memberikan ruang baru bagi para pemikir di seluruh dunia untuk kembali membangun pemikiran-pemikiran baru berdasar pada realita local tanpa perlu menggeneral dan tanpa perlu mengikuti pemikir-pemikir lain yang diambil dari hasil penelitian di belahan dunia lain.

Justru saya ingin dan sangat mengimpikan bahwa kita saat ini dituntut untuk melakukan kajian-kajian yang tidak lagi terpusat pada satu terma, tidak ikut-ikutan pada pemikir-pemikir barat, melainkan kita harus bisa memunculkan teori-teori sendiri untuk digunakan dalam ranah kita sendiri.

Sebagai tawaran awal, jika modernisme maupun postmodernisme lahir bedasarkan situasi social dan diangkat oleh para seniman, lalu dikembangkan oleh para pemikir akademis, maka tidak salah jika para seniman di Indonesia mulai mencoba mencari sesuatu yang berasal dari lokalitas daerah. Tentu dipercaya, bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kekayaan-kekayaan itu tidak perlu disatukan, apalagi digeneralisasikan menjadi milik satu pihak, tetapi lebih pada konteks kepemilikan Indonesia secara terpisah. Bukankah itu sudah lama dipegang kuat oleh kuku-kuku tajam Garuda Pancasila dalam symbol BHINEKA TUNGGAL IKA? Namun sayang, kekayaan akan budaya itu hampir mati oleh pelaksanaan system yang kurang tepat.

Salam.
Semoga bermanfaat. 

Prediksi, sekiranya Indonesia hancur….

Berbagai kegagalan system pada masa SBY sepertinya semakin parah…., dan setelah SBY, belum ada sosok figur yang memiliki dominasi sebagai pemimpin bangsa Indonesia, sementara sebagian besar masyarakat Indonesia masih terbius oleh politik pencitraan, yang note benenya melihat sosok figure, bukan dari kinerja atau kemampuan mengemabngkan system ekonomi, budaya, dll.

Perang dingin antar kubu Golkar dengan Demokrat juga kian memanas. Kasus Century, okelah Golkar menang…. Lalu kemudian kasus Gayus, dan yang terparah adalah kasus  politik sepak bola (=PSSI vs LPI)  di mana LPI didukung oleh Demokrat dan PSSI dipayungi oleh Golkar.

Kalau sekiranya kasus Gayus benar-benar tekelupas sampai ke akarnya, (seperti yang dikatakan oleh mantan kapolri Supanji) akan tejadi kekacauan stabilitas keamanan nasional, karena terlalu banyak tokoh politik yang terlibat dalam pengemplangan pajak ini.

Lalu sekiranya masyarakat benar-benar marah, saya melihat gejolak akan dimulai dari Yogyakarta (karena selalu berseteru dengan pusat), lalu meluas ke daerah lain, seperti Solo, seluruh Jateng,  lalu Bandung, terus Jakarta, kemudian  Makassar, dan seterusnya… hingga kerusuhan terjadi di mana-mana. Sementara para tokoh politik yang sudah sempat memperkaya diri, lari ke luar negeri membawa kekayaannya serta keluarganya.

Disaat seperti itulah bakal terjadi “revolusi” besar-besaran!

Revolusi pada umumnya digerakkan oleh para pemikir dan ada yang mengontrol sehingga ketika revolusi pecah, sudah ada orang-orang yang siap maju, tampil sebagai dewa penyelamat. Tatapi kali ini, tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk tampil secara meyakinkan. Lalu apa yang akan terjadi? INDONESIA HANCUR!
(tentu tidak menutup kemungkinan sejarah kehancuran Majapahit akan terulang lagi)

Beberapa daerah seperti Yogyakarta mungkin dengan mudah meninggalkan Indonesia karena mereka mamiliki seorang raja yang disegani rakyatnya. Bali memiliki SDM yang luar biasa, mampu mengolah pariwisata dan namanya sudah menggelobal. Papua kemungkinan langsung diambil alih oleh Amerika. Lalu bagaimana dengan daerah yang lain? Entahlah……

Pertanyaan pentingnya adalah, apa yang mesti dilakukan sekarang tanpa berharap banyak kepada pemerintah?

1. Siapkan senjata (baik yang berupa militer, ekonomi, budaya dll).
2. Membangun jalinan kerja sama yang kuat antar daerah, terutama para pemikir, tokoh agama, tokoh masyarakat, dll. agar tidak terjerumus ke dalam imperialisme dari Negara lain.

3. mohon ditambah sendiri…..

Antara tokoh politik dengan tokoh agama

Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya sekelompok makhluk hidup tertentu tidak dapat hidup. Lalu apakah kebenaran itu? Barangkali sejenis keyakinan yang telah menjadi syarat kehidupan (Nietzsche)

Dalam mengkritik agama Kristen, Nietzsche pada dasarnya mengkritik gaya perwakilan yang khas agama Katolik. Para pendeta mengklaim mempresentasikan komunitas, namun, dengan menggunakan sifat bajik untuk diri mereka sendiri, mereka mengontrol massa sambil berpura-pura berbicara atas nama mereka. Ini dia sebut sebagai ‘efek sabda dewa’: dengan menenggelamkan dirinya ke dalam kelompok (pelayan masyarakat’, dan sebagainya) sang pendeta lebih signifikan dibandingkan kelompok itu, serta memperoleh status khusus karena berbicara atas nama kelompok tersebut.

Hal ini ternyata terjadi pula pada pemuka agama lainnya. Ambil saja Islam—yang memiliki kiyai, berceramah di depan massa, sambil mengatakan bahwa ia adalah pembawa kebjikan. Pada kenyataannya, rumah-rumah kiyai memiliki kemewahan yang sangat jauh dengan masyrakat sekitarnya di perkampungan. Mereka meminta orang bersedekah kepadanya, tetapi ia sendiri menumpuk harta untuk dirinya sendiri.
Bagi saya pribadi, tentu tidak semuanya seprti itu, nemun jika melihat kenyataannya, profesi kiyai, pendeta, dukun, dan hal-hal yang berbau mistis lainnya, sangat menggiurkan. Dan lucunya, bobroknya selalu ketahuan.

Para pemimpin negeri Indonesia saya anggap belajar dari kebajikan sang kiyai atau pendeta semacam yang disebutkan Nietzsche di atas. Ia mengatasnamakan rakyat, sebagai pelayan rakyat, namun yang diatasnakamakan itu dihisapnya sampai tak bisa berkutik. Contoh yang paling kongkret adalah, pembangunan gedung dengan nilai Rp, 1,8 T dilengkapi kolam renang, panti pijat, tempat refreshing, dan segala bentuk yang berbau maksiat lainnya—untuk kepentingan siapa sebenarnya itu semua?
Ketika ada orang-orang yang mencoba mempertanyakan hal itu, mereka tutup-tutupi dengan dalih hukum, UUatau peraturan pemerintah lainnya, yang memang sangat nyaman bagi segelintir orang. Hal ini persis seperti yang dikatakan Nietzsche tentang pendeta yang menggunakan ayat-ayat Tuhan, pengadilan terakhir, konsep-konsep baka, kekelana jiwa dan lain sebagainya sebagai dalih untuk menakut-nakuti umatnya.
__________________________________________
Catatan :
Umat manusia terlibat dalam kehidupan, dan ini menciptakan tuntutan-tuntutan. Bahasa, adalah salah satu tuntutan kehidupan., yang pada gilirannya nanti bahasa memberikan tuntutan kepada kita: ontologi kita, metafisika kita, atau bahkan filsafat kita. Karena itulah Nietzsche mengatakan, kekuasaan bahasa telah membinasakan pemikiran, karena kita telah mengacaukan ungsinya. Kita tidak penah bisa lepas dari tirani bahasa, karena itu kita harus mampu menggunakan dan mengembangkan bahasa, karena bahasa adalah sebuah tuntutan dasar manusia.

Jejak Langkah Manusia Indonesia

Oleh: Syahrul Q



  • Masa Kerajaan Nusantara


Fakta mencatat, bahwa sejak lama, masyarakat nusantara terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berperang ratusan tahun, baik itu perang antara kerajaan yang satu dengan yg lainnya maupun perang saudara. Sejarah menulis juga tentnag ada raja yg zalim dan semena-mena terhadap rakyatnya, ada pula raja yg memang memakmurkan rakyatnya. Namun demikian, semua peperangan itu adalah untuk kepentingan kekuasaan. Pada akhirnya, peperangan demi peperangan secara langsung dapat dirasakan oleh rakyat yg semakin sengsara, akibatnya, terciptalah watak yang oleh Pramudya AT sebut sebagai “kehilangan prinsip”.

Perang antar agama (yg juga politik kekuasaan), antara Siwa dan Wisnu, yg berlangsung sekian lama membuat masyarakat mencoba mencari persamaan2 diantara keduanya lalu memadukan keduanya tanpa prisnip, dengan tujuan damai, tanpa terjadi lagi bentrok social yg sangat menakutkan dan merugikan. Hal ini tertera dalam syair2 yg ditulis oleh orang yg hebat pada masanya, antara lain Hayam Wuruk, Tantular, Prapanca dan lainnya. Islam masuk seratus tahun kemudian setelah Majapahit runtuh, diterima ‘juga tanpa prinsip’, dengan mencoba mencari persamaan antara Siwa, Wisnu, dan Islam, sehingga Islam diambil syariatnya semata.

Nyatanya, ‘kehilangan prinsip’ inilah yang melahirkan para oportunis sejak zaman itu, yg pada akhirnya mengalahkan Jawa dengan kedigdayaannya saat melawan colonial Belanda. Hal ini begitu mengherankan, bukankah Jawa atau Nusantara lainnya telah mengenal tulisan, menggunakan simbol2 dalam kehidupannya, yg artinya lebih dulu maju dari pada bangsa Eropa? Namun berhubung perilaku raja2 pribumi sendiri yang terlalu kejam dan bersikap feudal inilah yang menghilangkan kepercayaan dan keyakinan pada masyarakatnya.


  • Masa Kebangkitan


Pada masa ini diawali oleh seorang yang bernama Tirtohadisuryo, atau dengan inisial Raden Mas TAS, membuat sebuah orgnisasi modern berlabel Syarikat Priyayi. Beliau mengawalinya dengan mengajak orang-orang terpelajar saat itu. Beliau beranggapan bahwa orang-orang terpelajar atau priyai yang harus memulai gerakan. Sayangnya, masyarakat waktu itu banyak yang merasa bukan priyayi dikarenakan istilah priyayi masih begitu rancu. Di samping orang-orang terpelajar, Priyayi juga bisa diartikan sebagai orang2nya Kolonial Belanda.

Beberapa Tahun kemudian setelah Syarikat Priyayi hancul oleh koruptor dalam tubuh organisasi tsb, maka Raden Mas TAS mengulanginya dengan membentuk organisasi baru, yaitu Syarikat Dagang Islam. Beliau ingin membuat organisasi yang bebas dan merdeka, telepas dari pengaruh Belanda. Menurutnya, semua orang adalah pedagang, dan kebanyakan rakyat Nusantara beragama Islam. Maka dari itu, perlu dibentuk organisasi yang beranggotakan bebas, dan siapa saja boleh mengikutinya menjadi anggota. Organisasi modern ini langsung disambut oleh masyarakat, dan berangotakan luar biasa banyak. Pemerintah colonial saat itu sudah mulai khawatir dengan gerakan ini, karena memiliki kekuatan massa yang luar biasa, serta didukung oleh media pribumi yg tentu saja dipimpin langsung oleh Raden Mas TAS sendiri.

Sebelum Syarikat Dagang Islam (SDI) terbentuk, Lahir pula oraganisasi lain yang cukup terkenal, yaitu Boedi Utomo. Organisasi ini juga beranggotakan para priyayi yang berasal dari Jawa. Artinya, selain Jawa tidak boleh menjadi anggota, apalagi yang bukan priyayi.

Hal yang menarik dan aneh adalah, Boedi Utomo disokong, disubsidi dengan dana yang cukup oleh pemerintah colonial Belanda. Pada akhirnya, organisasi ini menjadi semakin popular, dan pada masa sekarang, hari lahirnya dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional.

Pertanyaannya adalah, mengapa Boedi Utomo didukung pemerintah Kolonial Belanda? Bukankah organisasi ini bermaksud membawa masyarakat ke arah kemerdekaan?

Pemerintah Kolonial ternyata memang sudah memperhitungkan kelahirannya Boedi Utomo. Bahkan bisa jadi, Belandalah yang memprakarasai lahirnya Boedi Utomo. Boedi Utomo merupakan organisasi kedaerahan, bersifat local dan mengusung feodalisme Jawa. Sehingga pada masa berikutnya, akan terlahir pula organisasi2 modern lain yang akan mengusung kedaerahannya masing2, yang hanya mementingkan segolongan orang-orang tertentu, tanpa melihat keberadaan daerah lainnya. Organisasi bersifat kedaerahan ini tentunya juga akan lebih mementingkan RAS tertentu. Bukankah persoalan RAS inilah (seperti yg tertulis pada paragraph sebelumnya) yang justru menghancurkan watak pribumi nusantara?

Perkiraan pemerintah colonial tepat. Masing-masing organisasi kedaerahan lainnya yang lahir pada masa seiring dengan Boedi Utomo ternyata memang mementingkan lokalitas mereka. Pada kenyataannya, ketika berhadapan dengan kelompok daerah yang lain, akan terbentur berbagai kepentingan kekuasaan golongan, daerah, yang justru ngotot-ngototan merasa paling benar sendiri dan melupakan eksistensi nasionalisme yang diusung oleh Raden Mas TAS.

Konflik RAS paling terasa hingga masa ini.


  • Masa Kemerdekaan


Oleh Soekarno-Hatta-Sjahrir, dibentuk kembali nasionalisme keindonesiaan, dan menanggalkan sifat lokalitas atau kesukuan. Kita semua, adalah satu, yaitu Indonesia. Bukan Jawa, bukan Sumatra, Bukan Bali, atau bukan yang lainnya, tapi satu, Indonesia. Namun sayang, persoalan nasionalisme ke-Indonesia-an ini dihancurkan lagi oleh Rezim ORBA, yang justru membangkitkan kembali nasionalisme Jawa seperti yang diusung oleh Boedi Utomo di atas.

Seluruh Nusantara harus menjadi Jawa, atau lebih tepatnya lagi, tunduk pada Jawanisme. Hal-hal yang berbau keaderahan boleh berkembang, tetapi dengan catatan "disesuaikan" dengan Jawa. Keputusan Presiden Pada Tahun 1975 adalah hal yang paling nyata. Semua kepengurusan daerah harus seperti di Jawa, seperti lurah, bupati, dan lain sebagainya, meski di daerah-daerah tertentu sudah terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang lebih dipercaya dan diamini masyarakat setempat.

DI Yogyakarta, (mungkin karena) berkat jasanya melawan Belanda, (atau mungkin tempat besarnya pak Harto), dibiarkan tetep menjadi daerah Istimewa, yang mempertahankan keistanaan atau kerajaan. Namun Istana yang di Yogyakarta, bukanlah sebuah Negara atau bangsa kecil, tetapi lebih berbentuk pada museum kebudayaan semata. Fenomena hingga saat ini, UU tentang DI Yogyakarta, belum pernah bisa tuntas, bukan?

Aceh adalah masyarakat yang keras, dan melawan kebijakan Jawanisme sejak lama. Terbentuklah front kemerdekaan Aceh yang sangat menentang kesemena-menaan orang-orang Jawa yang bermukim di sana. Hal ini berarti GAM terbentuk oleh perlawanan terhadap Jawanisme itu sendiri. Lalu dengan alasan yag persis sama, seperti pemerintah colonial dulu, siapa saja yang melawan nasionalisme (Jawa) ini akan dianggap sebagai teroris, dan dicap penjahat nasional. Dibantailah masyarakat Aceh dengan kejam.

Alasan-alasan seperti inilah yang membolehkan terjadinya pembunuhan serta pembantaian terhadap rakyat sendiri. Bukankah Soeharto berada pada peringkat ke-8, manusia terkejam di seluruh dunia? (Hitler no.2).


  • Masa Sekarang


Dengan terkuaknya kasus GAM, ternyata banyak juga masyarakat Nusantara yang menentang kebijakan2 yg bersifat Jawanisme itu, seperti di Papua, Maluku, Timtim (yang sudah keluar dari Indonesia), Riau, dan banyak lagi. Sementara daerah lainnya yang masih berada dalam kekuasaan Indonesia secara utuh, sering bergumam..., menginginkan kebebasan bertindak secara lokalitas.

Lahirlah apa yang disebut sebagai otonomi daerah, yang ternyata justru menciptakan raja-raja kecil dengan membawa sikap dan sifat feodalisme Jawa yang sudah berkembang sekian ratus tahun itu. Selama 32 tahun masa Orba, telah mampu membentuk karakter baru, yaitu karakter “lupa” pada asal, lupa pada sejarah. Jika Raja-raja nusantara dulu yang berperang terus-menerus menciptakan watak, “kehilangan prinsip”, ORBA menciptakan watak, “lupa daratan…..”. Bukankah kedua watak ini menciptakan masyarakat oportunis?

Kenyataan pahit yang dirasakan rakyat Indonesia hingga saat ini adalah, hasil telur dari Orba ini masih tetap bekuasa, dan menggunakan segala cara agar tetap berada di atas. Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 bukan sesuatu yang dapat menggeser kekuasaan colonial di Indonesia, tetapi justru lebih melanggengkan colonial itu sendiri.

Bukankah Pramudya pernah mengingatkan, “yang colonial itu selalu iblis”. Bukankah pemerintahan Orba dan hasil didikannya sampai SBY sekarang adalah colonial juga? Yang dengan berbagai cara, berbagai alasan, berusaha untuk tetap mempertahankan kekuasaan, meski scenario politik yang dibuat ternyata bolong dan bocor, lalu membutuhkan tumbal sulam, (maaf salah… tambal sulam, maksud saya hehehe)

___________________________________________
Catatan:
1. Kepada pemimpin pribumi, Belanda bermanis mulut meski sebenarnya memperlakukanmereka kurang lebih sebagai pelaksana perintah saja (Schrieke, 1955:283) Kaum Priyayi dipekerjakan untuk mengawasi pengisapan atas petani kecil, sementara istana-istana, keranton, hanya dijadikan museum hidup (Richard Schehner)

2. Betapa bedanya bangsa Eropa dengan Hindia. Di Eropa, setiap orang yang memberikan sesuatu bagi umat manusia akan mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan dalam sejarahnya. Di Hindia, nampaknya setiap orang ‘takut’ tak mendapatkan tempat dan ‘berebutan’ untuk menguasainya (Pramudya AT)

3. Perzinahan Kapitalisme dan Feodalisme di indonesia telah melahirkan anak haram bernama Orbaisme, dan kini anak cucunya sedang menikmati hasil keringat bumi pertiwi , tanpa pernah mengleluarkan keringat bagi bumi pertiwi itu sendiri.

Catatan Kecil, Gerakan Sosial di Indonesia

Oleh: Syahrul Q

Panas terik matahari kulalui di jalanan umum, riuh oleh deru mesin kendaraan yang lalu lalang, disirami asap berbaur debu jalanan. Trafic light menunjukkan lampu berwarna merah, dan perlahan sepedea motor kuhentikan, menunggu sejenak, lampu berganti warna. Dalam keadaan terik dan berkeringat seperti itu, tiba-tiba datang dua anak kecil menengadahkan tangannya, meminta sekeping uang logam. Sementara, di pinggir jalan sana, seorang ibu-ibu tua renta, berpakaian lusuh dan kotor, juga menengadahkan kaleng kecil, meminta kepada orang-orang yang (mungkin) hendak berbaik hati berbagi rezeki kepadanya. Hatiku renyuh seketika, sekaligus geram, betapa kejam hidup di kota. Begitu banyak orang yang telah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai orang tua terhadap anak-anak mereka yang masih di bawah umur. Dan begitu banyak orang-orang yang durhaka kepda orang tuanya dengan menyia-nyiakan kehidupan orang tua renta, sehingga terpaksa duduk di berbagai sudut kota, meminta-minta sedekah.
Lampu hijau menyala, pertanda kendaraan yang terhenti sejenak tadi, boleh meneruskan perjalanan. Namun, tampak beberapa polisi lalu lintas berjejer di depan sambil merentangkan tangannya, meminta pengguna kendaraan untuk tidak melanjutkan laju kendaraannya. Serta merta, sepeda motor kuhentikan sambil bertanya, ada apa gerangan? Sementara pengguna kendaraan lainnya, ngomel-ngomel tidak karuan, menggerutu karena kepanasan.
Di kejauhan sana, terlihat banyak kerumunan massa, bersorak, teriak, berkoar, ganas, berorasi, menyatakan sikap dengan tegas, bahwa mereka adalah golongan anti Kapitalisme dan Neolib. Sebagian besar membawa berbagai poster, ada tulisan yg tercetak rapi, ada pula poster yang hanya bertuliskan spidol sederhana. Tulisan-tulisan di poster tiada lain adalah “ANTI KAPITALISME!!!” Poster lain yang sealiran bertuliskan, “ANTI NEOLIB!!!”
Kerumunan massa itu bergerak, beriringan tanpa henti meneriakkan yel-yel dengan keras. Wajah mereka menegang, seperti kemarahan yang memuncak tertumpah. Urat-urat di lehernya juga terliaht jelas dari kejauahan. Megaphone yang sedikit kehabisan batre hanya digunakan oleh seorang di barisan depan. Riuhnya iringan itu membuat pengguna jalan yang lain harus mengalah, meski dibarengi dengan omelan juga. Orang-orang yg berada di sekitarnya merasa ketakutan, khawatir akan terjadi kerusuhan, takut, dan tidak berani mendekat ke kerumunan massa itu. Sambil mengusap peluh di dahi, aku mencoba menyelami tuntutan mereka. Mendengarkan dengan seksama, membaca tulisan-tulisan di poster, dan merekam peristiwa demo itu.

***


 Ya, saat ini aku tengah duduk santai sambil melihat remang matahari menuju senja. Pikiranku melayang jauh tentang Kapitalisme dan Neoliberalisme yang sangat dibenci oleh para pendemo tadi siang sambil memutar berbagai pengetahuan serta pengalaman yang mengisi kepalaku.
Tentu ada benarnya juga tuntutan mereka. Bagaimana mungkin faham Kapitalisme dan Neolioberalisme diberlakukan di Negara ini? Jika saja Indonesia memiliki nilai produksi yang tinggi, nilai budaya, nilai seni, nilai kreativitas, dan nilai-nilai lainnya juga tinggi dengan produksi-industri yang matang, faham Neoliberalisme atauapun Kapitalisme mungkin tidak menjadi persoalan, namun Indonesia adalah Negara dunia ketiga, yang masih lemah, dan terus dilemahkan oleh kekuatan-kekuatan lain, yang note-benenya adalah Neoliberalisme dan Kapitalisme itu sendiri.
Lebih jauh tentang Neoliberalisme, ia lebih banyak dipandang sebagai konsep ekonomi pasar berdasarkan Konsensus Washington yang dirumuskan oleh John Williamson (1989). Konsensus Washington yang berisi 10 item liberalisasi ekonomi seperti disiplin fiskal, deregulasi, privatisasi, liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, dan liberalisasi sektor finansial menjadi standar paket reformasi ekonomi yang ditawarkan (baca: dipaksakan) IMF, Bank Dunia, dan Amerika Serikat kepada dunia ketiga.
Neoliberalisme merupakan isme yang dinisbahkan kepada watak pemerintahan Augustu Pinochet (1873-1990) di Chile hasil perselingkuhan keditaktoran dengan ekonomi pasar bebas. Perselingkuhan ini terjadi ketika Pinochet yang meraih kekuasaan melalui kudeta berdarah mengangkat Chicago boys untuk mengelola kebijakan ekonomi.
Chicago boys adalah para pemuda Chile yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Chicago. Selama 1955-1963, 30 pemuda Chile telah mendapat gelar PhD di bidang ekonomi. Di universitas inilah para pemuda tersebut dicuci otaknya dengan pemikiran ekonomi ala mazhab Chicago, yakni mazhab ekonomi yang dikembangkan oleh seorang imigran Yahudi Milton Friedman yang mendapat gelar nabi Neoliberalisme.
Sementara di Indonesia, banyak para pejabat kini yang duduk di kursi pemerintahan dan menentukan kebijakan, adalah hasil dari cuci otan itu, yang kemudian menjadi agen leluasa dan sekaligus berkuasa bagi neoliberalisme tersebut.
Kembali kepada Peristiwa demo tadi siang, aku merasa sedikit sanksi, bagaimana mungkin mereka menuntut penghapusan isme ini kepada pemerintah, sementara pemerintah Indonesia mengagungkannya? Para pejabat pemerintah termasuk Presiden, meski menyangkal faham ini, namun dalam tindakan dan kebijakan yang diambil tampak sebagai PEMUJA Neoliberalisme dan Kapitlaisme. Hal ini dibuktikannya melalui penjelmaan dirinya sebagai agen dari produsen dan pemilik modal luar negeri, yg kemudian menjadikan Indonesia sebagai market, namun memonopoli serta kong kalikong denan pemodal. Sementara, pemerintah Indonesia tidak pernah ada usaha untuk membangun kedaulatan kapital, juga tidak ada usaha untuk membangun kemandirian industri secara strategic, di samping tidak adanya usaha untuk menjadikan indonesia sbg negara produsen, melainkan hanya sebagai konsumen. Akibatnya, kelas elit dan menengah yg tercipta di Indonesia hanyalah kelas menengah hasil kerjasama exploitasi mineral asing-indonesia dan kelas menengah yang “dekat dengan pasar dan penguasa”.
Bukankah hal ini berarti Negara ini mengungkungkan dirinya dalam penjara kolonialisme, dan terjerembab dalam penjajahan baru? Lucunya lagi, kebanyakan masyarakat Indonesia sudah mulai menyadari keterpurukan ini, sedangkan pemerintah (oligharki) Indonesia tidak peduli dengan fenomena kesadaran masyarakat ini, dan lebih asyik berkutat sendiri dengan berbagai macam kesenangan dan kepuasan pribadi selaku penguasa.
Fenomena menarik dari masyarakat ini antara lain adalah bergeraknya masyarakat kalangan menengah ke bawah untuk peduli dan turut sumbang suara berikut tindakan terhadap kasus-kasus ketidak-adilan di negeri ini. Hal yang paling fenomenal adalah gerakan Koin for Prita. Mulai dari orang-kantoran, kelas menengah, bahkan para pengamen jalanan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ini berawal dari gerakan pesbuker dan orang-orang yang aktif di dunia maya, yang kemudian bersinergi dengan media. Dan gerakan ini menjadi sesuatu yang luar biasa berpengaruh, bahkan Times (New York) pun turut ambil bagian dalam gerakan ini. Gerakan macam apakah ini? Bukankah kepedulian dan rasa kebersamaan ini bisa menjadi sebuah kekuatan, bisa menjadi sebuah modal baru, atau kita sebut saja kapitalisme jenis baru?
Ah, jadi teringat dengan gotong-royong teman-teman dunia maya saat melahirkan Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang bisa dibaca dan dikutip bebas tanpa bayar, didirikan pada 2001, ensiklopedia lewat Internet ini kini sudah terbit dalam 266 bahasa, isinya ditulis oleh 75 ribu penyumbang aktif. Di sana ada semacam gotong-royong postmodern: tak ada yang memerintahkan, tak ada pusat komando, tak ada pusat, dan tak ada perbatasan yang membentuk lingkungannya. Masing-masing orang memberi sesuai dengan kemampuannya. Yang diberikan adalah informasi, yang didapat juga informasi. Tapi transaksi itu tak menggunakan uang. Pasar dan Modal Besar tak hidup di sini.
Hal yang mirip terjadi dalam gerakan yang dirintis Richard Stallman untuk menyediakan peranti lunak gratis bagi siapa saja. Beriburibu pengembang software pun bekerja sebagai sukarelawan bersamasama dan berhasil menciptakan GNU/Linux, sebuah pesaing serius bagi Sang Modal Besar di belakang Microsoft. Sebanyak 4,5 juta sukarelawan lain menciptakan sebuah super-komputer paling kuat di muka bumi.
Kembali pada gerakan-gerakan social yang terjadi di Indonesia. Prita Mulyasari yang mengeluh karena buruknya penanganan kesehatan RS Omni di dunia maya menuai gejolak dari masyarakat. Prita didukung oleh berbagai kalangan melalui sumangan koin dan hasilnya luar biasa. Kekuatan gerakan masyarakat ini tentu harus menjadi perhatian yang serius. Di sisi lain, kasus “cecak vs buaya” menjadi fenomenal, juga berawal dari para pesbuker. Gerakan-gerakan lain menyusul, seperti “Turunkan Patung Obama”, “Revolusi untuk Indonesia”, “Gerakan Anti Korupsi”, 1.000.000 People Power Melawan Kezaliman”, dan gerakan-gerakan lainnya.
Lalu, istilah apa yang bisa kita gunakan untuk menyebut gerakan ini? Menyebutnya sebagai sosialisme, bukan, karena tetap bergantung pada hal-hal yang berbau Kapitalisme. Penggabungan kapitalisme dan sosialisme menjadi Kapitalisme-Sosialisme? Bisa jadi, karena Robert Putnam, mendefinisikan capital-social sebagai bagian dari organisasi sosial berupa hubungan sosial dan rasa saling percaya yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk kepentingan bersama. Namun demikian, definisi ini masih ditentang oleh banyak ahli, dan definisi-definisi tentang Kapital-sosial terus bermunculan. Dan Capital-social bukanlah penggabungan Kapitalisme-Sosialisme.
Ah, entahlah. Aku hanya sering kali memimpikan para pemikir Indonesia mampu mendefinisikan dan merumuskan teorinya sendiri, berasaskan pada konteks, fenomenal, serta social budaya masyarakat Indonesia, tanpa harus mencari-cari padanan pada teori-teori yang ditulis oleh orang luar (yang tidak tahu soal Indonesia), dengan tidak mengabaikan begitu saja teori-teori yang pernah menjadi faham banyak orang di dunia, seperti Marx, Webber, Durkheim, Lenin, Nietze, John Locke, Adam Smith, dll.
Matahari jingga semakin memerah di ufuk barat. Senja sebentar lagi akan berganti malam. Kututup buku harianku seraya mengingat kembali para mahasiswa yang berdemo tadi siang. Mereka begitu semangat menyuarakan Anti Kapitalisme dan Anti Neolib, berusaha mencari simpati dengan orasinya, berkoar, marah-marah, menghujat sana-sini, mencaci dan lain sebagainya, sehingga tidak sedikit yang justru mencaci balik kepada mereka. Mereka begitu marah pada cengkraman Kapitlaisme dan Neoliberalisme, namun mereka (mungkin sengaja) lupa, dalam berdemo mereka gunakan alat-alat hasil produksi kapitalisme. Mereka juga begitu antusias berdemo menyuarakan Sosialisme, namun apakah mereka melihat dan merasakan getirnya seorang nenek tua meminta sedekah di pinggir jalan, atau dua anak kecil yang meminta kepingan logam?
Semoga bermanfaat
Syahrul Q.
Sumber:
* http://id.wikipedia.org/wiki/Kapital_sosial
* http://caping.wordpress.com/category/kapitalisme/
*dll.

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll