Perempuan, simbol keagungan Tuhan

Islam mengajarkan, Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hal itu disebabkan  karena ibu pada hakikatnya adalah representasi Tuhan di dunia—yang penuh dengan kasih sayang, namun kadang begitu pemarah serta cerewet kalau kita nakal. Maka wajar saja, orang2 cerdas dalam persaudaraan Mason misalnya lebih senang menyebut Tuhan dengan “She” dari pada “He

Konon, masyarakat Mesir kuno, meciptakan Piramidanya sebagai lambang perempuan atau dengan huruf V terbalik. Orang Amerika begitu bangga dengan lambang kebebasan atau kemerdekaan-nya yang disebut Liberty Enlightening the World, lebih dikenal dengan nama Statue of Liberty, yang nyatanya adalah sosok perempuan. Bahkan orang-orang Prancis menyebut menara kebanggaannya Tour Eiffel dengan panggilan perempuan. Dan banyak lagi karya-karya atau hal-hal yang begitu agung adalah melambangkan sosok perempuan, dan yang paling dominan adalah, bumi diidentikkan juga dengan perempuan. Artinya, perempuan bukan semata-mata sebagai lambang keindahan atau kelembutan, meski saya sendiri selalu mengatakan bahwa representasi keindahan Tuhan adalah perempuan.

Meski demikian, hingga saat ini, masih banyak yang menganggap bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah. Padahal, jika di lihat secara logika, mereka sanggup berjalan mengelilingi mall sampai tuntas tanpa lelah. Masyarakat Indonesia pada umumnya, seorang ibu bangun pagi-pagi sekali mengurus suaminya yang hendak berangkat kerja, setelah itu mengurus anak-anak, mengurus rumah, belanja ke pasar, memasak, hingga sore hari mengurus anak lagi, dan tengah malam melayani suami kembali….
Bukankah perempuan itu justru lebih kuat?

Seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya, lebih mampu bertahan bahkan sanggup mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Sementara laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya, cenderung memilih untuk mencari istri baru….
Bukankah ini juga merupakan bukti bahwa perempuan begitu agung?




Karena itulah, orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka seperti para Mason, justru beranggapan bahwa perempuan itu adalah sesuatu yang agung.  Dalam kelemah-lembutannya tersimpan kekuatan yang begitu dahsyat, bahkan saat ia menenteskan air mata, ia kadang mampu melelehkan kekuatan laki-laki manapun. 

Skenario: Konflik Agama di Indonesia (Bag2)

Syahrul Q

SKENARIO DUA

Sekilas menengok sejarah Nusantara,  di mana masa kerajaan-kerajaan kuno sering kali terjadi peperangan antar kerajaan, sekedar untuk memperebutkan kekuasaan. Tidak peduli bahwa yang memberontak ataupun yang diberontak, adalah saudara sendiri. Dalam hal ini, para prajurit tentu saja menjadi orang yang dikorbankan, meski di sisi lain, kedua pihak kerajaan yang berseteru mengalami kerugian yang tidak terhitung lagi. Sekali lagi, hanya untuk merebut kekuasaan. Masyarakat sipil yang tidak tahu menahu soal kerajaan harus ikut terseret dalam nuansa kemiskinan, kelaparan, serta kebingungan yang berkepanjangan. Imperialisme menjadi sebuah tradisi yang diagungkan.  

Meski demikian, sisi kemanusiaan seperti kondisi lapar dan kemiskinan ini jarang sekali ditulis oleh para pemikir di zaman itu. Mereka lebih memilih menulis tentang bagaimana kehebatan para patriot di medan tempur, sikap heroik, yang disertai dengan mitos-mitos keajaiban di luar logika, yang lambat laun menelusup ke dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Kebiasaan akan mengagumi sikap heroik ini terus berlanjut hingga pada masa kemerdekaan RI tahun 1945. Para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, atau para heroik yang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda, adalah contoh yang luar biasa, yang patut diteladani. Anehnya, yang tertanam di dalam benak masyarakat bukanlah perilaku heroik sang pahlawan, tetapi lebih pada penanaman kebencian pada orang lain yang tidak sejalan[1].

Dikarenakan alam bawah sadar yang sudah ditumbuhi kebencian ini, pada pasca kemerdekaan RI, orang-orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia diusir, tanpa peduli apakah orang tersebut tentara, pengusaha, ataupun dokter yang justru menolong warga Indonesia sendiri. Masyarakat tidak peduli apakah orang Belanda itu lahir di  Indonesia, atau Indo (berketurunan Belanda). Pokoknya, Orang Belanda harus pergi dari Indonesia. 

Akan tetapi menjadi lucu, setelah orang-orang Belanda pergi, orang-orang pada umumnya masih tetap iangin menjadi lebih hero di bandingkan dengan orang lain. Musuh pun dicari-cari. Kasus “Ganyang Malaysia” adalah contoh yang paling nyata. Papua Barat, atau Timor, seakan dipaksa masuk ke wilayah Negara Kesatuan RI,  demi terwujudnya sebuah mimpi yang bernama “kekuasaan”.

Nampaknya, perang saudara yang dulu terjadi di abad kuno Nusantara, kumat lagi setelah 20 tahun Soekarno memimpin Indonesia. Ada sebagian yang percaya bahwa ia dikudeta oleh panglimanya sendiri, Soeharto. Sementara di lain tempat, perang dingin antara kaum Kapitalis dan Sosialis, tengah berlangsung, yang kemudian melalui Soeharto, kaum Kapitalis (Barat) memberangus kaum Sosialis di Indonesia, yang dalam hal ini berlabel PKI. Orang-orang PKI dibantai habis. Anehnya, alasan utama yang diusung dalam memberangus orang-orang PKI bukan saja karena aksi Gerakan 30 Sepetember, tetapi lebih karena mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka adalah orang-orang kafir. Bahkan, kekafiran PKI ini, bukan hanya dari orang-orang Islam, tetapi juga yang dari Kristen. Orang Kafir, Halal nyawanya untuk dibunuh. Dua alasan ini begitu kuat dan menakutkan, sehingga selama 30 tahun lebih, masyarakat Indonesia serasa tercuci otaknya, PKI menjadi momok yang menakutkan.

Tahun 1998, sejarah berulang kembali. Soeharto dituntut mundur oleh rakyatya, melalui aksi demo besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Reformasi. Tahun itu adalah tahun yang sangat mengerikan, karena banyak mahasiswa dan warga sipil yang menjadi korban.  Di berbagai sudut kota terjadi aksi penjarahan, perusakan, bahkan dikabarkan ada pula penyerbuan terhadap orang-orang keturunan Cina.

Krisis politik pada tahun 1998 pasca lengsernya Soeharto, para Jenderal TNI berinisiatif membentuk organisasi-organisasi massa berbasis agama. Melalui para kiyai atau pimpinan berbagai pondok pesantren, oknum-oknum TNI menjalin kerja sama untuk melawan (lebih tepat menghalau) siapa saja yang dianggap merongrong kewibawaan TNI. Terbentuklah kelompok massa yang dikenal dengan sebutan Pam Swakarsa. Mereka dijadikan tameng yang sangat kuat, brutal, untuk berbagai kepentingan.

Khusus di Jakarta, aksi massa dari Pam swakarsa ini bisa dirasakan saat terjadinya Tragedi Semanggi I, yang saat itu tengah berlangsung aksi pro dan kontra terhadap Sidang Istimewa MPR RI. Para Pam Swakarsa ini, diajak untuk turut serta melakukan aksi, yang berujung pada bentrok dengan aksi mahasiswa. Korban berjatuhan di kalangan mahasiswa. Orang-orang yang tergabung dalam pam swakarsa — yang baru saja bebas dari kungkungan Orde Baru, menjadi liar, dan berlaku anarkis. Mereka tidak segan-segan melakukan perusakan, apalagi yang di belakangnya adalah para jenderal.

Lahirnya Pam Swakarsa ini, menyulut lahirnya organisasi-organisasi masyarakat yang berbasis agama di daerah lain, atau dikenal dengan istilah “ledakan partisipasi”. Mereka biasanya diketuai oleh para kiyai, mencoba memberangus para pencuri atau penjahat, membantu polisi dalam menuntaskan berbagai kasus. Akan tetapi tindakan mereka dalam aksi penangkapan pencuri atau orang yang dicap jahat itu sangat tidak manusiawi, sebuah pembunuhan manusia yang di luar perikemanusiaan, bahkan banyak pula dikabarkan menyerbu desa dan kampung hanya untuk bertujuan menangkap dan membunuh orang yang dituju. Siapapun yang menghalangi aksi mereka, dianggap sebagai musuh. Dan yang berani menjadi musuh adalah orang-orang Kafir.

Lalu di mana hubungannya dengan Skenario Satu?
Setelah melalui proses selama 20 tahun di berbagai daerah di Indonesia, orang-orang hasil didikan Imam utusan Usamah itu kian menjadi, karena diberikan ruang tempat mereka bergerak dan beraksi, apalagi ternyata mereka mendapat dukungan dari para pejabat tinggi negara. Tetapi jika ada kelompok ini yang melenceng dari skenario, pemerintah melalui Densus 88 akan segera menangkapnya. Sehingga pada akhirnya, aksi terorisme adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat, layaknya PKI di zaman Orde Baru.

Mau tidak mau, kita harus mengakui betapa bodohnya masyarakt kita. Entahlah, apa ini akibat pembodohan di masa ORBA, atau memang sudah menjadi karakter masyarakat kita yang cenderung saling menghancurkan satu sama lain, demi dua tujuan utama yaitu kekuasaan dan bisnis. Zaman kegelapan sebelum abad pertengahan baru muncul di Indonesia. Dan satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah pencerahan pemikiran bagi masyarakat, melalu berbagai macam cara. Mungkin facebook adalah salah satunya.

Wassalam.


Catatan:

*Kebencian adalah motivasi yang sangat sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa bila saatnya diledakkan oleh pemicu sekecil apapun.

*Ada pengakuan seseorang, mengapa FPI gencar menutup beberapa diskotik kecil di Jakarta, sementara diskotik besar (misalnya yang dikuasai oleh Basri Sangaji) justru diamankan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa usaha di bidang-bidang itu yang memberikan dana, atau sejenis uang kemanan preman (sperti di masa ORBA). Itulah, mengapa Habib Ziriq berteriak lantang ingin mengusut tuntas kematian Basri Sangaji. Ternyata agama memang paling enak dijadikan isu untuk melancarkan kepentingan bisnis dan kekuasaan.


[1] Mungkin perlu dikomparasi dengan “the Other” dalam sosiologi-antropologi

Skenario: Konflik Agama di Indonesia

Oleh: Syahrul Q


SKENARIO  SATU

Berangkat dari Revolusi Iran yang pecah pada tahun 1978, sejumlah aktivis pergerakan Iran (mungkin juga termasuk Ahmadinejad, yg kini menjabat sebagai presiden Iran) yang melawan tentara milik pemerintahan Reza Pahlavi saat itu. Sempat dikabarkan bahwa Bush senior yang mendukung Pahlavi, sempat pula terkana serangan oleh para aktivis pergerakan ini, bahkan sempat ditawan. Hal ini memicu kemarahan Bush dan dendam terhadap negara tersebut.  Revolusi Iran pada tahun 1978 tersebut berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlavi, dan kemudian berdirilah negara Islam Iran seperti terlihat sekarang ini.


Di lain tempat, yakni di Arab Saudi, Usamah bin Laden, mendengar keberhasilan revolusi tersebut, lalu berangan-angan hendak membuat negara Islam layaknya Iran. Akhirnya, Usamah yang lahir 28 Juni 1957 itu berangkat ke Afganistan dalam rangka membela orang-orang Islam yang saat itu tengah diserang oleh  Soviet. Usamah saat itu dibantu oleh Amerika Serikat, dengan dibekali persenjataan-persenjataan, bahkan juga pelatihan perang. Hal ini tentu saja dilakukan oleh USA karena pada saat itu masih berlangsung perang dingin antara kaum kapitalis dengan komunis. USA tentu saja tidak mau Afganistan jatuh di tangan orang-orang komunis, sehingga berbagai cara dilakukan agar Soviet menarik pasukannya dari Afganistan. Kerja sama USA dengan Usamah saat itu berhasil dengan gemilang, terbukti Soviet mundur, lalu Afganistan kembali dikuasai oleh pemerintahan Islam.

Usamah lalu memunculkan mimpinya kembali untuk mewujudkan negara Islam. Pelatihan militer di kawasan Yaman terus dilakukan (kemungkinan, hingga saat ini masih berlangsung). Di samping persenjataan militer dari USA, kekayaan keluarganya yang cukup besar juga digunakannya sebagai modal dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Adapun langkah yang ditempuhnya adalah dengan memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim di seluruh dunia (terutama di negara berkembang) melalui pembangunan masjid dan pendirian pondok pesantren, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, sekitar awal tahun 80-an, Usamah memberikan sumbangan besar kepada orang-orang yang hendak mendikrikan masjid/ pondok pesantren, dengan satu syarat, masjid dan pondok pesanteren tersebut harus dipimpin langsung oleh imam dari orang-orang Usamah sendiri. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, karena di samping mendapat bantuan dana, mereka juga akan diajarkan oleh seorang imam dari timur tengah. Di satu sisi, saat itu juga,  pemerintahan Soeharto tengah menggalakkan pembangunan masjid, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di seluruh dunia.

Kepemimpinan para imam yang diutus oleh Usamah tersebut melakukan aksi pencucian otak terhadap para santri dan orang-orang yang ada di masjid dengan mengusung jihad,  seolah Islam kini berada di tengah medan perang, melawan orang-orang kafir, di mana yang disebut sebagai orang-orang kafir ini adalah tentu saja orang-orang yang non muslim, serta orang-orang muslim yang tidak sejalan dengan faham Usamah. Ditaknakan bahwa orang-orang kafir itu halal nyawanya.  Misalnya saja, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. (Qur’an, 47:4)” Tetapi mereka tidak menjelaskan latar belakang ayat tersebut. Mereka tidak peduli dengan kelanjutan ayat ini, yang berbunyi, “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.

Lalu apakah sebegitu muliakah tujuan Usamah?
Bagi orang-orang yang sudah tercuci otaknya, tentu saja akan menjawab “Iya”. Tetapi di lain pihak, ternyata melalui perang, ada orang-orang yang diuntungkan, terutama orang-orang yang bergerak di bisnis persenjataan. Bisnis persenjataan terbesar dikuasai oleh kelompok Bush (bukan pemerintah USA). Kompoltan Bush ini terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Usamah bin Laden, hingga saat ini.

Usamah kemudian melakukan berbagai teror di berbagai belahan dunia, yang bertujuan untuk melancarkan bisnis keluarganya. Malalui aksi teror ini, tentu saja membuat beberapa pengusaha takut untuk melanjutkan usahanya (di tempat terjadinya teror), sehingga pengusaha yang berada di bawah naungan keluarga besar Usamah bin Laden, dapat dengan leluasa bergerak. Tercatat di Indonesia, aksi terorisme pada dasarnya justru diperuntukkan kepada pengusaha-pengusaha saingan Usamah bin Laden.

Perkembangan politik di Indonesia saat ini yang hanya berorientasi pada kekuasaan, ternyata melanggengkan ajaran-ajaran yang diusung oleh para santri hasil didikan imam utusan Usamah ini. Mereka dengan intens melakukan pengajian-pengajian yang ber-inti pada perang dan jihad melawan kaum kafir.  Di samping melalui pesantren, media, internet, mereka juga menerbitkan buku-buku yang menunjukkan bukti bahwa perang melawan kafir harus dilakukan. Saatnya untuk berjihad, mati syahid, dan masuk surga.

Skenario ini, tanpa disadari sudah berjalan 20 tahun. Bila dibandingkan dengan pencucian otak yang dilakukan oleh Soeharto selama 30-an tahun, yang mampu membentuk pikiran masyarakat Indonesia anti terhadap komunisme, bagaimana dengan pencucian otak yang berlangsung selama 20 tahun ini?


__________________________________________________

catatan:

Ada seorang perempuan yang dulu tidak tahu menahu tentang Islam. Perilakunya seperti para perempuan Indonesia pada umumnya. Secara tiba-tiba, ia mengalami perubahan drastis. Ia mengenakan jilbab besar (jubah), bahkan mengenakan cadar. Ketika ditanya, mengapa menggunakan jubah sekarang? Dengan menundukkan kepada ia mwnjawab, “Karena sekarang saya tahu tentang Islam yang sebenarnya.”  Saat ditanya kembali, “Dari mana Anda mengenal Islam?” Dengan santai ia menjawab, “Dari buku!”

Tentu saja, buku yang dimaksudkan adalah buku-buku tentang jihad.





bersambung....


SKENARIO DUA

t e m u i c i n t a . . . .

 “Aku suka kamu” Kataku lirih di dekat telinganya.
Ia tidak merespon sama sekali. Matanya hanya menatap kosong. Aku sendiri bingung dengan keadaan yang seperti itu. Aku berharap ia tersenyum lalu menyambut rasaku yang kian bergelora untuknya. Atau kalau tidak, mungkin ia bisa mengatakan … maaf, aku tidak bisa menerima hubungan ini, karena titik titik.. karena ini atau itu dan seterusnya…, tapi ini tidak. Ia hanya terdiam membisu, seakan aku tidak ada di dekatnya. Kata-kata yang kulontarkan hanyalah sebaris kata tanpa makna.
Sesaat kemudian, terjadi keheningan yang sangat. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, meski banyak hal yang ingin aku utarakan terutama tentang perasaanku, tentang diriku, atau kalau memungkinkan aku bisa bertanya tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang masa lalunya (yang mungkin kelam), atau tentang apa saja yang bisa memecah suasana. Aku sudah tidak lagi memiliki tema yang cocok untuk dibicarakan dalam kondisi seperti itu. Haruskah aku menggenggam tangannya agar ia terjaga dari pandangan kosong itu, lalu aku bisa lebih meyakinkannya pada kesungguhanku. Atau mungkin aku bisa menarik dagunya, lalu menantap matanya dengan lekat agar ia menyadari ketulusanku. Ah, tentu saja itu tidak sopan. Apalagi suasana café waktu itu begitu ramai. Yang terpenting adalah  aku sudah mengatakannya…, dan aku hanya bisa menunggu responnya. Tapi…,
“Sudah malam, ayo kita pulang.” Katanya singkat seraya menghabiskan lemon tea yang sepertinya tidak begitu ia sukai. Aku langsung berdiri, dalam keadaan yang serba salah. Aneh saja rasanya, layaknya anak kecil yang patuh dan penurut terhadap setiap kata ibunya. Aneh juga ketika suasana café yang semestinya begitu romantis berubah drastis, didera perasaan apatis, dan aku, aku kalau boleh ingin rasanya menangis, tapi tentu itu terlalu dramatis.
*   *   *
Malam begitu hening terasa. Hawa dingin menelusup melalui jendela kamar yang memang sengaja kubuka. Tubuhku terbaring lesu menatap langit-langit yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kucoba memejamkan mata yang terasa berat karena kantuk mendera. Dan aku begitu merasa tersiksa, karena lelap tak kunjung menerpa. Ya, pikiranku masih melayang mengembara, menelusuri jejak malam yang hitam pekat jelaga. Lalu tanpa sadar kusebut lirih namanya, bangkitkan rindu yang tak terkira.
Ada apa dengan semua ini? Sebegitu dramatiskah efek dari peristiwa sore tadi? Tidak! Aku tidak boleh terpengaruh oleh hal sepele semacam itu. Sebaiknya aku baca buku, atau mengerjakan segala sesuatu yang belum selesai. Tapi, semangatku seperti hilang ditelan gelisah. Aku tidak berdaya.
Memang, harus kuakui tentang kehadirannya. Ketika ia berada didekatku, aku merasakan kedamaian yang selama ini aku cari. Saat aku bersamanya, aku merasakan aliran darah semangatku tumbuh, dan merasa hidup. Dia mungkin tidak secantik perempuan-perempuan kota yang memenuhi pelataran mall. Kulitnya tidak seputih para  selebritis yang suka nampang di layar kaca dengan make-up berlebihan. Wajahnya juga tidak semanis bintang Korea yang digandrungi para remaja kini. Dia hanyalah perempuan sederhana. Tapi jujur, aku suka melihat matanya yang kadang memancarkan sinar kedamaian. Aku sering membayangkan alisnya yang tebal, menghiasi raut wajahnya yang mungil. Aku senang melihat keindahan rambutnya yang rapi tertata. Aku juga seringkali terkesan ketika melihat jari-jari mungilnya yang dihiasi kuku-kuku bersih nan indah. Intinya, aku mengagumi segala hal yang melekat pada dirinya.
Ingin rasanya menulis bait-bait puisi untuknya seperti kalimat-kalimat yang dilontarkan Romeo kepada Juliet. Tapi sayang, dia tidak begitu suka membaca sastra. Atau seandainya jika memungkinkan aku bisa ke kediamannya, sekedar mengatakan bahwa aku merindukannya, lalu memberikan sekuntum bunga, seperti pangeran yang tengah memadu kasih dengan putri idamannya. Tapi tentu saja ia sudah terbuai lelap, dan bermimpi indah tentang masa depannya yang indah pula.
Ah, iya, masa depan. Mungkin itulah yang menggangu pikirannya. Hal itulah yang membuat mata indahnya seringkali menatap kosong. Dia tidak mungkin menerimaku sebagai kekasih hatinya, karena aku hanyalah laki-laki yang belum memiliki masa depan yang jelas. Aku hanyalah seorang laki-laki yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi tentang revolusi kebangsaan, idealis, anti kapitalis, memusuhi feodalis, dan buruknya lagi seorang yang mengaku dirinya penulis, tapi tidak pernah bisa populis.
Oh tidak. Tidak mungkin perempuan sesederhana itu mengukur-ukur segala kekuranganku, apalagi membandingkanku dengan laki-laki lain yang lebih menjanjikan. Tidak. Dia tidak seperti itu. Tetapi jika ia membandingkanku dengan laki-laki yang pernah bersemayam di hatinya???  Lalu dia mengingat betapa indahnya kenangan yang pernah ia lewati, betapa bahagianya rasa yang pernah ia jalani, dan betapa romantisnya waktu yang pernah ia lalui.
Jika hal itu yang memenuhi pikirannya, berarti aku belum kalah. Aku hanya perlu menemukan sesuatu yang bisa mengetuk pintu hatinya, agar bisa terbuka kembali, lalu dengan suka cita, aku akan membahagiakan hatinya. Tapi bagaimana jika yang ada di pikirannya justru tentang masa lalu yang telah mengkhianatinya? Bukankah seorang perempuan teramat sulit melupakan perasaan perih yang menusuk kalbunya? Selugu apapun seorang perempuan, jika pernah disakiti, maka ia akan merasa sangat sulit untuk menerima laki-laki lain, apalagi jika rasa sakit itu hingga kini masih menganga, menyayat lubuk hatinya, hingga tak mungkin lagi terobati. Kemudian aku, kehadiranku, kedekataknku, mungkin justru mengusik hatinya yang lelah. 
Badanku gemetar.  Perutku mulai terasa mual. Kepalaku begitu sakit tak terperi. Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku. Tapi pandangan mataku berkunang-kunang. Aku terjatuh lagi, dan ingatanku terasa menguap, meski sempat aku dengar suara sendu azan subuh dari muazin yang masih mengantuk. Lalu semuanya gelap. Sepi.
*   *   *
Matahari mungkin sudah sore saat aku terjaga. Aku tidak peduli. Toh, aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Aku tidak memiliki semangat lagi, tidak memilkirkan apa-apa lagi. Oh, ternyata benar kata orang, begitu sakit rasanya ketika cinta yang begitu tulus ditolak oleh seseorang yang selama ini diimpikan. 
Tiba-tiba HP ku bergetar mengagetkanku dari kelesuan. Ada sebuah sms masuk… Maz, dari tadi aq telpn kok gak diangkat2? tdr yah? Ntar mlm tmani aq ke prnkhn tmnku jam7 yah. Jgn tlat! awas! Sontak aku bangun. Gairah hidup kembali menjalari setiap nadi-nadiku. Aku tersenyum, meski kebingunganku masih menggantung. “Ah, begitu misteriusnya perempuan satu ini”, gumamku. Tapi mungkin karena itulah aku menyukainya. 

Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim


Aku berteduh dari gerimis yang panjang di sebuah pinggiran toko. Udara malam terasa dingin dan begitu lama. Berbatang-batang rokok telah kuhabiskan sebagai pengisi waktu, namun, “… gerimis sialan ini belum juga reda!” gumamku. Untung saja ada toko yang masih buka dan menjual berbagai minuman kaleng, sehingga mulutku tidak terlalu sumpek dengan asap rokok.
Sebuah sepeda motor mendekat. Pakaian mereka tampak basah meski mengenakan jas hujan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.
Namun kuakui, sepsang kekasih remaja itu cukup serasi. Laki-laki memiliki tampang cukup macho, sementara yang perempuan cantik dan sexy. Ah, ya sexy. Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.
Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat , mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.
“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.
Gerimis mulai sedikit mereda. Aku mencoba menata diri, bersiap hendak pergi meninggalkan emperan toko itu. Seorang pelayan toko tersenyum padaku, seraya menutup tokonya. Jarum jam ternyata sudah menunjuk pukul 10 malam. Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.
Aku nyalakan sepeda motor. Dan tepat saat itu, seorang gadis lewat di depanku. Aku melihatnya takjub. Kususun keberanianku, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya.
“Boleh aku antar?” sapaku malu-malu. Entah dari mana kebernaianku seperti itu. tidak biasanya aku melakukannya.  
“Nggak usah, Mas. Deket kok.” Jawabnya singkat sambil melihatku aneh. Mungkin di dalam hatinya  ia protes. Kenal juga nggak. Sok-sok nawarin ngantar.
“Santai aja mbak. Aku ikhlas kok” tawarku serius. Dadaku serasa berdebar kencang. Ada perasaan takut ditolak mentah-mentah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika tawaranku itu ditolak, sepasang remaja tadi tentu akan mengolokku habis-habisan, meski cuma dalam hati mereka.
“Nggak usah dech, Mas. Lagian aku bawa payung kok.” Katanya.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
Aku tersenyum kepadanya, sambil mantap lekat ke dalam matanya. Kuberharap ia dapat membaca permohonanku melalui pandangan mata kuyuku.
“Baiklah.” Katanya tiba-tiba.
Perasaan senang bercampur gembira menelusup hangatkan nadiku yang beku. Namun sayang sekali..., hanya beberapa meter ke depan, belok kiri sedikit, lalu masuk ke gang, dan ia meminta untuk berhenti. 
“Stop di sini Mas. Di sini kostku” katanya lembut.
“Oke dech…, terima kasih sudah sudi menemaniku.” Ucapku lirih.
“Ah, semestinya aku yang berterima kasih” katanya membantah. “Tapi mengapa mas mau mengantarku? Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa tidak mengenal…”
“Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku memotong pertanyaannya.
“Hahahaha …. Mas ini lucu. Yang jujur saja dah… eh yang bohong aja duluan.”
“Kalo jawaban bohongnya, karena aku mengagumimu, kataku menggoda seraya melihat tubuh rampingnya yang sederhana tanpa rias molek. Wajahnya memang manis, dengan alis tebal, meski matanya tampak lesu, mungkin karena lelah setelah seharian bekerja. 
“Hahahaha….” Ia tertawa semakin keras. “Kalau jawaban jujurnya?”
“Karena kau mengenakan rok.” Jawabku singkat.
“Loh, kok? Apa hubungannya dengan rok?” Tanyanya keheranan.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju.

Ya. Aku tidak sempat mengenal namanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hidupnya. Aku juga tidak sempat meminta nomor HP atau sejenisnya agar bisa bertemu kembali atau mengenalnya lebih dekat. Tapi sudahlah.
Malam ini aku bertemu dengan seorang perempuan yang kuanggap luar biasa. Ia mengenakan rok selutut. Bagiku, perempuan itu tampak bersahaja, namun terkesan begitu feminim. Gerimis pun mereda. Aku tersenyum dalam lelapku.

Maafkan Aku Bu De, Kita Serahkan Saja pada Yang Kuasa

Bu De, begitu ia disapa, entah siapa nama sebenarnya, aku tidak tahu. Aku terpaksa tinggal bersamanya sejak kecil, karena orang tuaku harus merantau entah kemana, dan aku dititipkan di Bu De. Kami tinggal di sebuah gubuk kecil berukuran 2 x 3 M. Gubuk itu sekaligus berfungsi sebagai warung kecil sebagai satu-satunya tempat kami bergantung hidup. Dengan demikian, Bu De kadang buka 24 jam sehari untuk melayani pembeli yang sewaktu-waktu pulang atau berangkat kerja di pagi buta.

Saat itu usiaku baru lulus SD. Dan karena aku mendapat peringkat ketiga di sekolah, harus ada wali murid yang datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Bu De terpaksa tidak membuka warung hari itu, hanya untuk memenuhi panggilan dari sekolah. Ketika aku turun dari panggung setelah menerima ijazah, Bu De memelukku dengan erat, hangat, bangga, serta penuh kasih sayang. Sebuah kotak kecil kuberikan kepada Bu De, sebuah hadiah dari sekolah karena prestasiku. Bu De menangis menerimanya.
“Aku tidak keberatan menutup warung sehari untuk melihatmu berprestasi, Nak.” Ucapnya terisak. Aku pun turut menangis waktu itu, karena yang aku bayangkan adalah orang tuaku yang sebenarnya, yang entah kini berada di mana. Tapi memang, hanya Bu De yang kumiliki sekarang. Bu De yang menjadi ibuku, sekaligus ayahku. Ia mengasuhku dengan penuh kasih sayang.

* * *
Siang itu terasa cukup menyengat. Warung Bu De cukup rame dikunjungi para buruh bangunan yang saat itu tengah mengerjakan proyek bangunan besar yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami. Aku sibuk membantu Bu De mencuci piring, membersihkan meja makan, dan segala hal yang mempermudah pekerjaan Bu De.

Aku melihat para buruh itu berkelakar riang sesama temannya. Badannya berkeringat, lusuh, kekar besar dan mengkilap. Aku terus saja memperhatikan mereka seraya mengantarkan minum, atau mengelap meja bekas mereka makan. Tidak lama kemudian, mereka pergi begitu saja. Aku tersentak. Mereka belum membayar makan. Sementara Bu De masih di belakang sedang mengurus masakan. Kontan saja aku memanggil mereka.
“Pak, bayarannya mana?” Tanyaku gelisah.
“Besok. Ngutang dulu. Bilang sama Bu De ya.” Jawab mereka sambil lalu.
Bu De ternyata memahami keadaan itu. Ia tau, kalau orang-orang itu tidak akan membayar. Tapi apa dayanya? Ia hanyalah seorang perempuan paruh baya yang tidak bisa membela diri. Tapi Bu De tidak mengeluh, apalagi menangis. Ia tetap bisa tersenyum kepadaku, sambil mengatakan, “Nggak apa2, Cup. Anggap saja sedekah”.
“Tapi Bu De, mereka sudah tidak bayar makan sudah lebih dari 5 kali Bu De. Ntar kalau Bu De rugi, bagimana?” protesku kepada Bu De setelah seminggu peristiwa itu berlalu, dan terus berulang. Tapi Bu De hanya membalasnya dengan senyuman. “Kita serahkan saja sama Yang Kuasa”.
Dalam hati, aku bertekad, besok aku harus menagih orang-orang itu. Mereka harus membayar-hutng-hutngnya. Kalau tidak, BuDe tentu tidak akan bisa berjualan lagi. Namun yang terjadi justru di luar perkiraanku. Mereka malah mengejekku, lalu mempermainkanku. Tubuhku dilempar ke sana kemari, dari orang yang satu ke orang yang lain.
Bu De menangis histeris, meminta agar mereka menghentikan perlakuannya terhadapku. Bu De memohon agar jangan menyakiti aku. Tapi orang-orang kekar itu justru semakin menggila. Mereka merobek bajuku, lalu menelanjangiku. Dan saat aku terjatuh tak berdaya, mereka mengencingi mukaku. Sesaat kemudian, dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan kesakitan pada lubang pantatku tertusuk sesuatu.
* * *
Sudah tiga kali aku melamar menjadi tentara, tetapi selalu tidak lulus. Melamar menjadi polisi juga ternyata lebih sulit untuk tembus. Obrolan yang paling sering muncul jika bertemu dengan teman se-pelamar adalah, “Pake berapa?” Ada yang menjawab, seratus, seratus lima puluh, bahkan sampai ada yang tiga ratus lima puluh. Lalu dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?
Akhirnya ada seorang pelanggan Bu De menyarankan aku agar ikut melamar menjadi Sat-Pol PP. Ia sanggup membantu dan pasti lulus, karena ia memiliki banyak relasi di pemda.

* * *
Enam bulan lamanya aku tinggalkan Bu De untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar kepemimpinan. Tiap hari aku memikirkan kesehatan Bu De. Tiap malam aku mendoakan keselamatannya. Tiap saat aku mengkhawatirkannya. Tapi Bu De selalu berpesan, serahkan saja semuanya kepada Yang Kuasa, dan itulah yang selalu mampu menentramkan perasaanku.

Selepas dari pelatihan, kami langsung diberikan tugas untuk melakukan pembersihan dan penertiban kota dari pemulung dan anak jalanan. Temasuk juga membersihkan serta menyita beberapa rumah liar yang ada dipinggiran kota. Aku ditunjuk sebagai pemimpin regu atau komandan pasukan. Tentu saja aku bangga menerima jabatan itu. Aku merasa menjadi orang yang kuat, penuh kuasa. Dengan kekuatan dan kekuasaan seperti ini, tidak akan da yang berani melawanku, apalagi mengejekku atau mempermainkan aku lagi.
Tugas terus dijalankan. Aku tidak peduli dengan protes warga yang rumahnya terkena penertiban. Aku hanya menjalankan tugas. Dan itu adalah tanggung jawabku sebagai abdi negara. Tugas harus dilaksanakan.
Lalu,

Ada sebuah rumah yang sangat aku kenal yang masuk dalam daftar penertiban kota. Rumah itu tiada lain adalah rumah bu De. Aku tercenung sejenak, memandangi rumah mungil itu dari jauh. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa orang anggotaku sudah mulai menggedor pintunya dengan kasar. Aku masih terdiam. Seseorang lainnya mulai memukul-mukul atapnya dengan kayu panjang. Aku terdiam. Terdengar jeritan tangis hiteris dari dalam rumah menolak untuk keluar. Aku tertunduk lesu. Lalu sebuah alat berat tiba di lokasi dan mulai mengeruk rumah kecil itu, tanpa peduli, seseorang masih berada di dalam sambil menangis, berteriak, dan menjerit.

Aku memalingkan wajahku dari rumah mungil itu. Terlihat oleh mataku yang sayup sebuah bangunan megah yang dibangun saat aku lulus SD. Dalam hati aku bergumam, “Maafkan aku Bu De. Kita serahkan saja pada Yang Kuasa.”
___________________

Postmodernisme, Berfikir Kembali Untuk Indonesia

Oleh: Syahrul Q

Kata modern sering kali dipandang sebagai perkembangan paling akhir, terkini, atau paling up-to date. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan istilah modern berarti bahwa ada perkembangan-perkembangan yang mengikutinya. Selama beberapa dasawarsa terakhir, di berbagai bidang (seni, arsitektur, literature, sosiologi, antropologi, dan lain sebagainya), terjadi perkembangan-perkembangan yang oleh beberapa ilmuan disebut dengan postmodern. Hal ini bukan semata lahir setelah modern, tetapi ada sejumlah masalah dengan modern  yang dikemukakan dan ingin diatasi oleh postmodern.

Sebelum lebih jauh berbicara tentang postmodern, ada baiknya menengok sejenak  perjlanan strukturalis menuju postsrukturalis. Charles Lemert (1990) yang menanggap awal poststrukturalis adalah pidato Jacques Derrida pada tahun 1966. Di dalam pidato tersebut, ia memproklamirkan terbitnya zaman poststrukturalis baru. Bertolak belakang dengan strukturalis, khususnya yang mengikuti peralihan linguistic dan yang melihat orang dikekang oleh struktur bahasa, Derrida mereduksi bahasa menjadi tulisan yang tidak mengekang subjek. Derrida juga melihat institusi sosial hanya sebagai tulisan dan dengan demikian tidak mampu mengekang orang, hal ini berarti Derrida mendekonstruksi bahasa dan institusi sosial (Trifonas, 1996) dan ketika dekonstruksi ini telah dilakukan, yang akan ditemukan di sana adalah tulisan.

Kalau strukturalis melihat tatanan dan stabilitas dalam system bahasa, Derrida melihat bahasa sebagai sesuatu yang tidak teratur dan tidak stabil. Konteks yang berbeda memberikan makna yang berbeda pada kata. Akibatnya, system bahasa tidak mungkin memiliki kekuatan untuk mengekang orang seperti pandangan kalangan strukturalis. Derrida menawarkan perspektif subversive dan dekonstruktif. Objek kebencian Derrida adalah logosentrisme (pencaian system pemikiran universal yang mengungkapkan  apa yang benar, tepat, cantik, dan lain sebagainya, “menjadi pendapat general”) yang telah mendominasi pemikiran sosial Barat. Logosentris tidak hanya menutupi filsafat, namun juga ilmu-ilmu humaniora.

Selain Derrida, pemikir lain yang terkait dengan poststrukturalis dan kaitannya dengan postmodernisme adalah Michel Foucault. Karya awalnya mengenai praktik-praktik diskursif merupakan upaya menyusun teori tentang koherensi internal yang tidak memperlakukan kebudayaan sebagai totalitas, melainkan sebagai domain-domain atau formasi spesifik kebudayaan -kebudayaan dengan cirinya yang diskursif.

Pada karyanya yang berjudul Madness and Civilization (1961), Foucault sepertinya menganalogkan penderita kegilaan yang harus dirawat oleh dokter di rumah sakit jiwa, merupakan refleksi dari realitas praktik subjektifitas diskursus yang nyata. Penderita penyakit gila dikungkung dan dikendalikan semua aktifitas pemikiran maupun kehidupannya. Sebab semua pemikiran maupun aktifitas pasien gila dianggap sebagai sebuah kesalahan yang harus diluruskan. Adanya kondisi inferioritas bagi si pasien sebagai akibat justifikasi bahwa pemikiran serta perilaku pasien harus dinormalkan, menjadikan semua sistem rumah sakit termasuk aturan sang dokter menjadi sang penguasa. Dengan demikian sang dokter sebagai pihak yang berkuasa dengan leluasanya mengkonstruksi pemikiran pasien gilanya sesuai dengan arah yang dikehendaki. Dalam hal ini yang lebih mendominasi dan berlaku adalah kehendak sang dokter, bukannya keinginan-keinginan mendasar dari si pasien gila.

Analog tersebut jika disejajarkan dengan kondisi praktik diskursif dalam kehidupan sosial
antara penguasa yang ingin mengendalikan pihak yang dikuasainya. Pihak berkuasa yang menganggap sebagai yang paling benar dan yang paling berhak mengendalikan keadaan harus selalu mengarahkan dan mengendalikan semua perilaku, gerak-gerik, pemikiran, bahkan wacana yang berkembang.

Setelah semakin maraknya gerakan dekonstruktif ini (yang bukan hanya mencakup bidang linguistic) merambah ke berbagai bidang lainnya seperti bidang sosial, filsafat, bahkan juga bidang seni. Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme (Grenz, http://reformed.sabda.org/etos_postmodern).

Postmodernisme merupakan suatu persepektif yang menyoroti kegagalan gagasan Pencerahan (Saifuddin, Ahmad F. 2006). Ia merujuk pada epos-jangka waktu, zaman, masa social dan politik yang biasanya terlihat mengiringi era modern dalam suatu pemahaman histories (Kumar, 1995). Postmodern pada sisi lain merujuk pada produk cultural (dalam seni, film, arsitektur, dan sebagainya) yang terlihat berbeda dari produk cultural modern (Jameson, 1991).

Intinya, Postmoderenisme mencoba menawarkan suatu perspektif baru melawan modernisme untuk menghancurkan tatanan structural yang dianggap terlalu mendominasi, atau modernisme yang umumnya bersifat generalisasi, sehingga tidak ada kesempatan bagi orang lainnya untuk naik ke atas panggung. Efek dari kemapanan pihak modernisme adalah feodalisme dan kapitalisme Barat, terpusat pada satu bentuk konvensional, dan hal inilah yang dikritik oleh kaum postmodernisme.

Kaitannya dengan situasi terkini di Indonesia adalah, maraknya Jawanisme dan generalisasi terpusat yang dilakukan oleh ORBA. Namun setelah pemikiran-pemikiran yang terlontar oleh para pemikir seperti Nietzsche, Drrida, Foucault, dan yang paling terkenal adalah Lyotard dan Baudrillard, masuk ke dalam ranah perpolitikan di Indonesia, secara sadar atau tidak, ternyata telah mampu menghancurkan pemikiran Kapitalisasi yang dilakukan oleh ORBA.

Namun demikian, Dialog tajam yang dilakukan oleh kaum modernisme, atau lebih tepatnya kritik terhadap pemikiran postmodernisme, terletak pada tidak adanya solusi yang ditawarkan, melainkan hanya melakukan dekonstruksi atau penghancuran terhadap pemikiran general kaum modernisme. Dan hingga saat ini, realisasi dari dua pemikiran, antara modernisme dan postmodernisme masih sama-sama memiliki kekurangan dan terus saling melancarkan kritik.

Secara pribadi, saya sendiri menilai postmodernisme telah  memberikan ruang baru bagi para pemikir di seluruh dunia untuk kembali membangun pemikiran-pemikiran baru berdasar pada realita local tanpa perlu menggeneral dan tanpa perlu mengikuti pemikir-pemikir lain yang diambil dari hasil penelitian di belahan dunia lain.

Justru saya ingin dan sangat mengimpikan bahwa kita saat ini dituntut untuk melakukan kajian-kajian yang tidak lagi terpusat pada satu terma, tidak ikut-ikutan pada pemikir-pemikir barat, melainkan kita harus bisa memunculkan teori-teori sendiri untuk digunakan dalam ranah kita sendiri.

Sebagai tawaran awal, jika modernisme maupun postmodernisme lahir bedasarkan situasi social dan diangkat oleh para seniman, lalu dikembangkan oleh para pemikir akademis, maka tidak salah jika para seniman di Indonesia mulai mencoba mencari sesuatu yang berasal dari lokalitas daerah. Tentu dipercaya, bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Kekayaan-kekayaan itu tidak perlu disatukan, apalagi digeneralisasikan menjadi milik satu pihak, tetapi lebih pada konteks kepemilikan Indonesia secara terpisah. Bukankah itu sudah lama dipegang kuat oleh kuku-kuku tajam Garuda Pancasila dalam symbol BHINEKA TUNGGAL IKA? Namun sayang, kekayaan akan budaya itu hampir mati oleh pelaksanaan system yang kurang tepat.

Salam.
Semoga bermanfaat. 

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll