cintamu layak kubanggakan

Syahrul Q.


Tiba-tiba saja ia terisak menangis di depanku tanpa berkata-kata sambil menutupi wajahnya dengan selembar tisu. Kucoba membelai rambutnya, sambil memegang jemarinya agar bisa sedikit lebih tenang. Tapi isakan tangis itu semakin menjadi. “Ada apa?” bisikku di dekat telinganya.

“Tidak apa-apa…,” jawabnya singkat.  Kuraih dagunya, dan mengangkat kepalanya agar ia bisa melihatku, agar menyadari bahwa ada aku didepannya. Tapi mata itu terpejam. Hanya mengeluarkan tetesan air jernih dan sedikit membengkak. Ah, mata itu. Mata yang begitu tajam, yang seakan dapat meluluhkan hati siapapun yang dilihatnya, tapi malam ini, justru mata itu tak berdaya. Ia terkulai dalam duka yang tak kumengerti, apa itu.

“Baiklah. Kalau kamu tidak ingin menceritakannya sekarang, kapan-kapan saja boleh kok. Aku hanya bingung melihatmu seperti ini. Aku jadi merasa bersalah…,”

“Tidak!” sanggahnya. “Kamu tidak salah apa-apa. Ini hanyalah duka yang terkumpul sekian lama. Aku cuma butuh untuk menumpahkannya, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu.” Ia mencoba untuk tersenyum, meski terlihat getir.

Sesaat kemudian, isakan tangis itu mengeras kembali. Ia mengurut dadanya seolah menahan sakit. Kucoba beranikan diri untuk bertanya…, “Apakah ada yang menyakitimu?” ia terdiam. “Apakah ini ada hubungannya dengan keluargamu?”  ia masih terdiam. “Ataukah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu?” Ia terdiam, dan menunduk dalam.

Akupun semakin bingung. Tak ada yang bisa kulakukan, karena sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya. Aku hanya merasa gelisah karena seakan aku tidak mampu untuk menjadi sesorang tempatnya bersandar. Aku tidak mampu untuk menjadi seseorang tempat ia berbagi duka. Lalu apa fungsinya aku? Di mana rasa kemanusiaanku jika membiarkan seseorang yang aku sayangi merasakan lara, sementara aku tidak bisa menjadi pelipurnya? Betapa tak bergunanya aku.

Tapi harus kuakui, bahwa ia adalah sosok perempuan yang tegar. Selama aku bersamanya, ia jarang sekali mengeluhkan sesuatu, meski tidak jarang pula ia menunjukkan kemanjaannya sekedar mencuri perhatianku. Mungkin ini adalah wujud nyata dari prisnsip yang ia pegang, “… jika aku ingin bangkit, maka aku harus bangkit sendiri, bukan karena orang lain…, karena ketika orang lain itu tidak ada, aku (khwatir) akan jatuh lagi…”  

Ya. Dia tidak pernah meminta bantuan apapun saat bekerja, atau mengerjakan tugas-tugasnya. Ia tergolong perempuan yang cerdas. Mandiri. Dan itulah yang membuat laki-laki lain merasa iri denganku, sambil menyatakan kecemburuannya dengan pernyataan betapa beruntungnya aku mendapatkan perempuan seperti dia. Meski demikian, ia selalu mengatakan padaku bahwa aku adalah laki-laki yang memiliki segalanya, sementara dia adalah perempuan yang tidak memiliki apa-apa. Padahal kenyataannya, mungkin justru aku yang lebih kerdil di hadapannya, karena akulah yang jauh lebih sering membutuhkan bantuannya. Aku yang lebih banyak membutuhkan kehadirannya, hingga aku pernah menyatakan bahwa aku tidak bisa jauh darinya. Ia hanya tersenyum mendengar pernyataanku, sambil mengatakan, “…lebay!!!”

                                                                        *     *     *




Suasana jingga di senja yang menyejukkan, kunikmati sendiri sambil memainkan biola di teras halaman rumah. Kulantunkan berbagai lagu klasik. Itulah kebiasaanku kini setelah ia pergi.

Tapi tidak seperti biasanya, kenikmatan itu diganggu oleh sebuah pelukan tangan mungil dari belakangku. Tangan itu merangkulku erat, bahkan sampai berusaha naik ke atas punggungku untuk meraih leherku. “Papa…papa…. Ada surat dari mama. Bacakan dong, Pa!” pinta seorang gadis kecil sambil merengek manja.

Kulepas rangkulannya, dan kupangku ia dalam kehangatan kasih sayang. “Kapan terima suratnya, Sayang?” tanyaku sambil membuka amplopnya.

“Tadi siang, Pa.”

“Mas, aku di sini baik-baik saja. Semoga kamu baik-baik saja, juga anak kita. Saat aku menulis surat ini, aku teringat waktu aku pernah menangis di depanmu dulu. Kamu perlu tahu, bahwa saat itu aku hanya bisa menangis di depanmu, meski tak sanggup aku keluhkan apa yang kurasakan saat itu. Maafkan aku karena tidak langsung memberitahukanmu.

Saat itu, aku hanya merasakan kesedihan yang telah lama bergumul di hati, kesedihan akan meninggalnya ibuku, kesedihan akan pahitnya jalan hidupku (sebelum bersamamu), juga kesedihan akan semua kenangan masa lalu. Aku butuh menangis di depanmu, dan perhatianmu, cintamu, kasih sayangmu, membuatku merasa sangat takut kehilanganmu. Aku juga merasa sangat takut jika suatu saat aku menyakiti cintamu yang tulus, takut bila aku harus meninggalkanmu.

Dan kenyataannya, aku memang harus pergi, meski untuk beberapa waktu. Semoga kamu sudi menunggu kepulanganku. Kuharap kamu mengerti, yang kulakukan ini adalah persembahanku untuk cinta kita, terutama untuk masa depan keluarga kita.

Di sini, meski baru beberapa bulan, aku merindukanmu melebihi apa yang bisa aku tanggung. Setiap selesai sholat, aku tak pernah luput berdoa untukmu.

Salam hangat penuh cinta, dariku…

Kulipat kembali lembaran surat itu sambil melihat selembar foto yang terlampir di dalamnya. Serta merta aku merindukan sosok perempuan yang tergambar di dalam foto itu, sekaligus bangga melihatnya berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang antik bertuliskan Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg.“Cita-citamu berhasil…”, gumamku bangga dalam hati.

“Di situ ya mama sekolah, Pa?” tanya gadis kecil yang sedari tadi turut memperhatikan gambar di foto itu. Aku tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya membelai rambutnya yang bergelombang, sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.





TEMPAT…

Tempat, kalau dalam kamus diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menaruh, menyimpan, atau meletakkan sesuatu. Tetapi bagaimana dengan kata tempat menaruh, tempat menyimpan, atau tempat meletakkan? Bukankah ini berarti bahwa kata tempat itu sendiri memiliki makna tersendiri yang berbeda dengan definisi di atas? Sesuatu yang digunakan untuk menaruh, atau meletakkan, atau menyimpan, adalah merupakan fungsi dari tempat. Dengan demikian makna tempat itu sendiri adalah apa?

Tempat memang berfungsi untuk mewadahi sesuatu. Ia selalu berada di bawah bagi yang di atasnya, menjadi landasan tempat berpijaknya sesuatu itu, yang kemudian sekaligus mendukung sesuatu yang menempatinya. Dengan demikian, kekuatan tempat adalah memberi kekuatan bagi yang menempatinya. Ia menjadi landasan berpijak, bagi yang berdiri di atasnya, sehingga tanpa tempat, sesuatu (manusia, misalnya) tidak akan bisa berdiri. Itulah, mengapa tempat menjadi sangat penting. Jadi izinkan saya untuk mendefinisikan tempat sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk mendukung kekuatan bagi yang menempatinya.

Tempat dibangun oleh manusia (membangun adalah wujud aktivitas) dengan menggunakan alat yang dimiliki manusia, kemudian setelah tempat terbangun, selanjutnya tempatlah yang membangun manusia beserta alatnya, untuk kemudian melakukan aktivitas hidup kehidupan manusia. Tempat yang ditempati sebagai tempat beraktivitas akan menghidupkan aktivitas dan manusia itu sendiri.






Berbicara mengenai tempat, hal lainnya yang terbersit adalah bagaimana menempatkan sesuatu yang menempati tempat, sehingga tempat dapat dengan maksimal mendukung yang menempatinya. Dalam hal ini, manusia memiliki kemampuan untuk menempatkan sesuatu serta menempatkan dirinya dalam sebuah tempat.

Dengan demikian, hal yang terpenting adalah bukan bagaimana mendefinisikan tempat, melainkan bagaimana sebuah tempat itu dibangun, dan bagaimana tempat membangun yang membangun tempat. Bukan bagaimana tempat diartikan secara harfiah, melainkan bagaimana tempat itu didukung oleh manusia, alat dan aktivitas, yang selanjutnya tempat akan mendukung manusia, alat dan aktivitas.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Anda telah menmpatkan saya di dalam hati dan pikiran Anda……

Perempuan, simbol keagungan Tuhan

Islam mengajarkan, Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hal itu disebabkan  karena ibu pada hakikatnya adalah representasi Tuhan di dunia—yang penuh dengan kasih sayang, namun kadang begitu pemarah serta cerewet kalau kita nakal. Maka wajar saja, orang2 cerdas dalam persaudaraan Mason misalnya lebih senang menyebut Tuhan dengan “She” dari pada “He

Konon, masyarakat Mesir kuno, meciptakan Piramidanya sebagai lambang perempuan atau dengan huruf V terbalik. Orang Amerika begitu bangga dengan lambang kebebasan atau kemerdekaan-nya yang disebut Liberty Enlightening the World, lebih dikenal dengan nama Statue of Liberty, yang nyatanya adalah sosok perempuan. Bahkan orang-orang Prancis menyebut menara kebanggaannya Tour Eiffel dengan panggilan perempuan. Dan banyak lagi karya-karya atau hal-hal yang begitu agung adalah melambangkan sosok perempuan, dan yang paling dominan adalah, bumi diidentikkan juga dengan perempuan. Artinya, perempuan bukan semata-mata sebagai lambang keindahan atau kelembutan, meski saya sendiri selalu mengatakan bahwa representasi keindahan Tuhan adalah perempuan.

Meski demikian, hingga saat ini, masih banyak yang menganggap bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah. Padahal, jika di lihat secara logika, mereka sanggup berjalan mengelilingi mall sampai tuntas tanpa lelah. Masyarakat Indonesia pada umumnya, seorang ibu bangun pagi-pagi sekali mengurus suaminya yang hendak berangkat kerja, setelah itu mengurus anak-anak, mengurus rumah, belanja ke pasar, memasak, hingga sore hari mengurus anak lagi, dan tengah malam melayani suami kembali….
Bukankah perempuan itu justru lebih kuat?

Seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya, lebih mampu bertahan bahkan sanggup mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Sementara laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya, cenderung memilih untuk mencari istri baru….
Bukankah ini juga merupakan bukti bahwa perempuan begitu agung?




Karena itulah, orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka seperti para Mason, justru beranggapan bahwa perempuan itu adalah sesuatu yang agung.  Dalam kelemah-lembutannya tersimpan kekuatan yang begitu dahsyat, bahkan saat ia menenteskan air mata, ia kadang mampu melelehkan kekuatan laki-laki manapun. 

Skenario: Konflik Agama di Indonesia (Bag2)

Syahrul Q

SKENARIO DUA

Sekilas menengok sejarah Nusantara,  di mana masa kerajaan-kerajaan kuno sering kali terjadi peperangan antar kerajaan, sekedar untuk memperebutkan kekuasaan. Tidak peduli bahwa yang memberontak ataupun yang diberontak, adalah saudara sendiri. Dalam hal ini, para prajurit tentu saja menjadi orang yang dikorbankan, meski di sisi lain, kedua pihak kerajaan yang berseteru mengalami kerugian yang tidak terhitung lagi. Sekali lagi, hanya untuk merebut kekuasaan. Masyarakat sipil yang tidak tahu menahu soal kerajaan harus ikut terseret dalam nuansa kemiskinan, kelaparan, serta kebingungan yang berkepanjangan. Imperialisme menjadi sebuah tradisi yang diagungkan.  

Meski demikian, sisi kemanusiaan seperti kondisi lapar dan kemiskinan ini jarang sekali ditulis oleh para pemikir di zaman itu. Mereka lebih memilih menulis tentang bagaimana kehebatan para patriot di medan tempur, sikap heroik, yang disertai dengan mitos-mitos keajaiban di luar logika, yang lambat laun menelusup ke dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Kebiasaan akan mengagumi sikap heroik ini terus berlanjut hingga pada masa kemerdekaan RI tahun 1945. Para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, atau para heroik yang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda, adalah contoh yang luar biasa, yang patut diteladani. Anehnya, yang tertanam di dalam benak masyarakat bukanlah perilaku heroik sang pahlawan, tetapi lebih pada penanaman kebencian pada orang lain yang tidak sejalan[1].

Dikarenakan alam bawah sadar yang sudah ditumbuhi kebencian ini, pada pasca kemerdekaan RI, orang-orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia diusir, tanpa peduli apakah orang tersebut tentara, pengusaha, ataupun dokter yang justru menolong warga Indonesia sendiri. Masyarakat tidak peduli apakah orang Belanda itu lahir di  Indonesia, atau Indo (berketurunan Belanda). Pokoknya, Orang Belanda harus pergi dari Indonesia. 

Akan tetapi menjadi lucu, setelah orang-orang Belanda pergi, orang-orang pada umumnya masih tetap iangin menjadi lebih hero di bandingkan dengan orang lain. Musuh pun dicari-cari. Kasus “Ganyang Malaysia” adalah contoh yang paling nyata. Papua Barat, atau Timor, seakan dipaksa masuk ke wilayah Negara Kesatuan RI,  demi terwujudnya sebuah mimpi yang bernama “kekuasaan”.

Nampaknya, perang saudara yang dulu terjadi di abad kuno Nusantara, kumat lagi setelah 20 tahun Soekarno memimpin Indonesia. Ada sebagian yang percaya bahwa ia dikudeta oleh panglimanya sendiri, Soeharto. Sementara di lain tempat, perang dingin antara kaum Kapitalis dan Sosialis, tengah berlangsung, yang kemudian melalui Soeharto, kaum Kapitalis (Barat) memberangus kaum Sosialis di Indonesia, yang dalam hal ini berlabel PKI. Orang-orang PKI dibantai habis. Anehnya, alasan utama yang diusung dalam memberangus orang-orang PKI bukan saja karena aksi Gerakan 30 Sepetember, tetapi lebih karena mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka adalah orang-orang kafir. Bahkan, kekafiran PKI ini, bukan hanya dari orang-orang Islam, tetapi juga yang dari Kristen. Orang Kafir, Halal nyawanya untuk dibunuh. Dua alasan ini begitu kuat dan menakutkan, sehingga selama 30 tahun lebih, masyarakat Indonesia serasa tercuci otaknya, PKI menjadi momok yang menakutkan.

Tahun 1998, sejarah berulang kembali. Soeharto dituntut mundur oleh rakyatya, melalui aksi demo besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Reformasi. Tahun itu adalah tahun yang sangat mengerikan, karena banyak mahasiswa dan warga sipil yang menjadi korban.  Di berbagai sudut kota terjadi aksi penjarahan, perusakan, bahkan dikabarkan ada pula penyerbuan terhadap orang-orang keturunan Cina.

Krisis politik pada tahun 1998 pasca lengsernya Soeharto, para Jenderal TNI berinisiatif membentuk organisasi-organisasi massa berbasis agama. Melalui para kiyai atau pimpinan berbagai pondok pesantren, oknum-oknum TNI menjalin kerja sama untuk melawan (lebih tepat menghalau) siapa saja yang dianggap merongrong kewibawaan TNI. Terbentuklah kelompok massa yang dikenal dengan sebutan Pam Swakarsa. Mereka dijadikan tameng yang sangat kuat, brutal, untuk berbagai kepentingan.

Khusus di Jakarta, aksi massa dari Pam swakarsa ini bisa dirasakan saat terjadinya Tragedi Semanggi I, yang saat itu tengah berlangsung aksi pro dan kontra terhadap Sidang Istimewa MPR RI. Para Pam Swakarsa ini, diajak untuk turut serta melakukan aksi, yang berujung pada bentrok dengan aksi mahasiswa. Korban berjatuhan di kalangan mahasiswa. Orang-orang yang tergabung dalam pam swakarsa — yang baru saja bebas dari kungkungan Orde Baru, menjadi liar, dan berlaku anarkis. Mereka tidak segan-segan melakukan perusakan, apalagi yang di belakangnya adalah para jenderal.

Lahirnya Pam Swakarsa ini, menyulut lahirnya organisasi-organisasi masyarakat yang berbasis agama di daerah lain, atau dikenal dengan istilah “ledakan partisipasi”. Mereka biasanya diketuai oleh para kiyai, mencoba memberangus para pencuri atau penjahat, membantu polisi dalam menuntaskan berbagai kasus. Akan tetapi tindakan mereka dalam aksi penangkapan pencuri atau orang yang dicap jahat itu sangat tidak manusiawi, sebuah pembunuhan manusia yang di luar perikemanusiaan, bahkan banyak pula dikabarkan menyerbu desa dan kampung hanya untuk bertujuan menangkap dan membunuh orang yang dituju. Siapapun yang menghalangi aksi mereka, dianggap sebagai musuh. Dan yang berani menjadi musuh adalah orang-orang Kafir.

Lalu di mana hubungannya dengan Skenario Satu?
Setelah melalui proses selama 20 tahun di berbagai daerah di Indonesia, orang-orang hasil didikan Imam utusan Usamah itu kian menjadi, karena diberikan ruang tempat mereka bergerak dan beraksi, apalagi ternyata mereka mendapat dukungan dari para pejabat tinggi negara. Tetapi jika ada kelompok ini yang melenceng dari skenario, pemerintah melalui Densus 88 akan segera menangkapnya. Sehingga pada akhirnya, aksi terorisme adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat, layaknya PKI di zaman Orde Baru.

Mau tidak mau, kita harus mengakui betapa bodohnya masyarakt kita. Entahlah, apa ini akibat pembodohan di masa ORBA, atau memang sudah menjadi karakter masyarakat kita yang cenderung saling menghancurkan satu sama lain, demi dua tujuan utama yaitu kekuasaan dan bisnis. Zaman kegelapan sebelum abad pertengahan baru muncul di Indonesia. Dan satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah pencerahan pemikiran bagi masyarakat, melalu berbagai macam cara. Mungkin facebook adalah salah satunya.

Wassalam.


Catatan:

*Kebencian adalah motivasi yang sangat sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa bila saatnya diledakkan oleh pemicu sekecil apapun.

*Ada pengakuan seseorang, mengapa FPI gencar menutup beberapa diskotik kecil di Jakarta, sementara diskotik besar (misalnya yang dikuasai oleh Basri Sangaji) justru diamankan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa usaha di bidang-bidang itu yang memberikan dana, atau sejenis uang kemanan preman (sperti di masa ORBA). Itulah, mengapa Habib Ziriq berteriak lantang ingin mengusut tuntas kematian Basri Sangaji. Ternyata agama memang paling enak dijadikan isu untuk melancarkan kepentingan bisnis dan kekuasaan.


[1] Mungkin perlu dikomparasi dengan “the Other” dalam sosiologi-antropologi

Skenario: Konflik Agama di Indonesia

Oleh: Syahrul Q


SKENARIO  SATU

Berangkat dari Revolusi Iran yang pecah pada tahun 1978, sejumlah aktivis pergerakan Iran (mungkin juga termasuk Ahmadinejad, yg kini menjabat sebagai presiden Iran) yang melawan tentara milik pemerintahan Reza Pahlavi saat itu. Sempat dikabarkan bahwa Bush senior yang mendukung Pahlavi, sempat pula terkana serangan oleh para aktivis pergerakan ini, bahkan sempat ditawan. Hal ini memicu kemarahan Bush dan dendam terhadap negara tersebut.  Revolusi Iran pada tahun 1978 tersebut berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlavi, dan kemudian berdirilah negara Islam Iran seperti terlihat sekarang ini.


Di lain tempat, yakni di Arab Saudi, Usamah bin Laden, mendengar keberhasilan revolusi tersebut, lalu berangan-angan hendak membuat negara Islam layaknya Iran. Akhirnya, Usamah yang lahir 28 Juni 1957 itu berangkat ke Afganistan dalam rangka membela orang-orang Islam yang saat itu tengah diserang oleh  Soviet. Usamah saat itu dibantu oleh Amerika Serikat, dengan dibekali persenjataan-persenjataan, bahkan juga pelatihan perang. Hal ini tentu saja dilakukan oleh USA karena pada saat itu masih berlangsung perang dingin antara kaum kapitalis dengan komunis. USA tentu saja tidak mau Afganistan jatuh di tangan orang-orang komunis, sehingga berbagai cara dilakukan agar Soviet menarik pasukannya dari Afganistan. Kerja sama USA dengan Usamah saat itu berhasil dengan gemilang, terbukti Soviet mundur, lalu Afganistan kembali dikuasai oleh pemerintahan Islam.

Usamah lalu memunculkan mimpinya kembali untuk mewujudkan negara Islam. Pelatihan militer di kawasan Yaman terus dilakukan (kemungkinan, hingga saat ini masih berlangsung). Di samping persenjataan militer dari USA, kekayaan keluarganya yang cukup besar juga digunakannya sebagai modal dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Adapun langkah yang ditempuhnya adalah dengan memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim di seluruh dunia (terutama di negara berkembang) melalui pembangunan masjid dan pendirian pondok pesantren, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, sekitar awal tahun 80-an, Usamah memberikan sumbangan besar kepada orang-orang yang hendak mendikrikan masjid/ pondok pesantren, dengan satu syarat, masjid dan pondok pesanteren tersebut harus dipimpin langsung oleh imam dari orang-orang Usamah sendiri. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, karena di samping mendapat bantuan dana, mereka juga akan diajarkan oleh seorang imam dari timur tengah. Di satu sisi, saat itu juga,  pemerintahan Soeharto tengah menggalakkan pembangunan masjid, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di seluruh dunia.

Kepemimpinan para imam yang diutus oleh Usamah tersebut melakukan aksi pencucian otak terhadap para santri dan orang-orang yang ada di masjid dengan mengusung jihad,  seolah Islam kini berada di tengah medan perang, melawan orang-orang kafir, di mana yang disebut sebagai orang-orang kafir ini adalah tentu saja orang-orang yang non muslim, serta orang-orang muslim yang tidak sejalan dengan faham Usamah. Ditaknakan bahwa orang-orang kafir itu halal nyawanya.  Misalnya saja, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. (Qur’an, 47:4)” Tetapi mereka tidak menjelaskan latar belakang ayat tersebut. Mereka tidak peduli dengan kelanjutan ayat ini, yang berbunyi, “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.

Lalu apakah sebegitu muliakah tujuan Usamah?
Bagi orang-orang yang sudah tercuci otaknya, tentu saja akan menjawab “Iya”. Tetapi di lain pihak, ternyata melalui perang, ada orang-orang yang diuntungkan, terutama orang-orang yang bergerak di bisnis persenjataan. Bisnis persenjataan terbesar dikuasai oleh kelompok Bush (bukan pemerintah USA). Kompoltan Bush ini terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Usamah bin Laden, hingga saat ini.

Usamah kemudian melakukan berbagai teror di berbagai belahan dunia, yang bertujuan untuk melancarkan bisnis keluarganya. Malalui aksi teror ini, tentu saja membuat beberapa pengusaha takut untuk melanjutkan usahanya (di tempat terjadinya teror), sehingga pengusaha yang berada di bawah naungan keluarga besar Usamah bin Laden, dapat dengan leluasa bergerak. Tercatat di Indonesia, aksi terorisme pada dasarnya justru diperuntukkan kepada pengusaha-pengusaha saingan Usamah bin Laden.

Perkembangan politik di Indonesia saat ini yang hanya berorientasi pada kekuasaan, ternyata melanggengkan ajaran-ajaran yang diusung oleh para santri hasil didikan imam utusan Usamah ini. Mereka dengan intens melakukan pengajian-pengajian yang ber-inti pada perang dan jihad melawan kaum kafir.  Di samping melalui pesantren, media, internet, mereka juga menerbitkan buku-buku yang menunjukkan bukti bahwa perang melawan kafir harus dilakukan. Saatnya untuk berjihad, mati syahid, dan masuk surga.

Skenario ini, tanpa disadari sudah berjalan 20 tahun. Bila dibandingkan dengan pencucian otak yang dilakukan oleh Soeharto selama 30-an tahun, yang mampu membentuk pikiran masyarakat Indonesia anti terhadap komunisme, bagaimana dengan pencucian otak yang berlangsung selama 20 tahun ini?


__________________________________________________

catatan:

Ada seorang perempuan yang dulu tidak tahu menahu tentang Islam. Perilakunya seperti para perempuan Indonesia pada umumnya. Secara tiba-tiba, ia mengalami perubahan drastis. Ia mengenakan jilbab besar (jubah), bahkan mengenakan cadar. Ketika ditanya, mengapa menggunakan jubah sekarang? Dengan menundukkan kepada ia mwnjawab, “Karena sekarang saya tahu tentang Islam yang sebenarnya.”  Saat ditanya kembali, “Dari mana Anda mengenal Islam?” Dengan santai ia menjawab, “Dari buku!”

Tentu saja, buku yang dimaksudkan adalah buku-buku tentang jihad.





bersambung....


SKENARIO DUA

t e m u i c i n t a . . . .

 “Aku suka kamu” Kataku lirih di dekat telinganya.
Ia tidak merespon sama sekali. Matanya hanya menatap kosong. Aku sendiri bingung dengan keadaan yang seperti itu. Aku berharap ia tersenyum lalu menyambut rasaku yang kian bergelora untuknya. Atau kalau tidak, mungkin ia bisa mengatakan … maaf, aku tidak bisa menerima hubungan ini, karena titik titik.. karena ini atau itu dan seterusnya…, tapi ini tidak. Ia hanya terdiam membisu, seakan aku tidak ada di dekatnya. Kata-kata yang kulontarkan hanyalah sebaris kata tanpa makna.
Sesaat kemudian, terjadi keheningan yang sangat. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, meski banyak hal yang ingin aku utarakan terutama tentang perasaanku, tentang diriku, atau kalau memungkinkan aku bisa bertanya tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang masa lalunya (yang mungkin kelam), atau tentang apa saja yang bisa memecah suasana. Aku sudah tidak lagi memiliki tema yang cocok untuk dibicarakan dalam kondisi seperti itu. Haruskah aku menggenggam tangannya agar ia terjaga dari pandangan kosong itu, lalu aku bisa lebih meyakinkannya pada kesungguhanku. Atau mungkin aku bisa menarik dagunya, lalu menantap matanya dengan lekat agar ia menyadari ketulusanku. Ah, tentu saja itu tidak sopan. Apalagi suasana café waktu itu begitu ramai. Yang terpenting adalah  aku sudah mengatakannya…, dan aku hanya bisa menunggu responnya. Tapi…,
“Sudah malam, ayo kita pulang.” Katanya singkat seraya menghabiskan lemon tea yang sepertinya tidak begitu ia sukai. Aku langsung berdiri, dalam keadaan yang serba salah. Aneh saja rasanya, layaknya anak kecil yang patuh dan penurut terhadap setiap kata ibunya. Aneh juga ketika suasana café yang semestinya begitu romantis berubah drastis, didera perasaan apatis, dan aku, aku kalau boleh ingin rasanya menangis, tapi tentu itu terlalu dramatis.
*   *   *
Malam begitu hening terasa. Hawa dingin menelusup melalui jendela kamar yang memang sengaja kubuka. Tubuhku terbaring lesu menatap langit-langit yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kucoba memejamkan mata yang terasa berat karena kantuk mendera. Dan aku begitu merasa tersiksa, karena lelap tak kunjung menerpa. Ya, pikiranku masih melayang mengembara, menelusuri jejak malam yang hitam pekat jelaga. Lalu tanpa sadar kusebut lirih namanya, bangkitkan rindu yang tak terkira.
Ada apa dengan semua ini? Sebegitu dramatiskah efek dari peristiwa sore tadi? Tidak! Aku tidak boleh terpengaruh oleh hal sepele semacam itu. Sebaiknya aku baca buku, atau mengerjakan segala sesuatu yang belum selesai. Tapi, semangatku seperti hilang ditelan gelisah. Aku tidak berdaya.
Memang, harus kuakui tentang kehadirannya. Ketika ia berada didekatku, aku merasakan kedamaian yang selama ini aku cari. Saat aku bersamanya, aku merasakan aliran darah semangatku tumbuh, dan merasa hidup. Dia mungkin tidak secantik perempuan-perempuan kota yang memenuhi pelataran mall. Kulitnya tidak seputih para  selebritis yang suka nampang di layar kaca dengan make-up berlebihan. Wajahnya juga tidak semanis bintang Korea yang digandrungi para remaja kini. Dia hanyalah perempuan sederhana. Tapi jujur, aku suka melihat matanya yang kadang memancarkan sinar kedamaian. Aku sering membayangkan alisnya yang tebal, menghiasi raut wajahnya yang mungil. Aku senang melihat keindahan rambutnya yang rapi tertata. Aku juga seringkali terkesan ketika melihat jari-jari mungilnya yang dihiasi kuku-kuku bersih nan indah. Intinya, aku mengagumi segala hal yang melekat pada dirinya.
Ingin rasanya menulis bait-bait puisi untuknya seperti kalimat-kalimat yang dilontarkan Romeo kepada Juliet. Tapi sayang, dia tidak begitu suka membaca sastra. Atau seandainya jika memungkinkan aku bisa ke kediamannya, sekedar mengatakan bahwa aku merindukannya, lalu memberikan sekuntum bunga, seperti pangeran yang tengah memadu kasih dengan putri idamannya. Tapi tentu saja ia sudah terbuai lelap, dan bermimpi indah tentang masa depannya yang indah pula.
Ah, iya, masa depan. Mungkin itulah yang menggangu pikirannya. Hal itulah yang membuat mata indahnya seringkali menatap kosong. Dia tidak mungkin menerimaku sebagai kekasih hatinya, karena aku hanyalah laki-laki yang belum memiliki masa depan yang jelas. Aku hanyalah seorang laki-laki yang dipenuhi oleh mimpi-mimpi tentang revolusi kebangsaan, idealis, anti kapitalis, memusuhi feodalis, dan buruknya lagi seorang yang mengaku dirinya penulis, tapi tidak pernah bisa populis.
Oh tidak. Tidak mungkin perempuan sesederhana itu mengukur-ukur segala kekuranganku, apalagi membandingkanku dengan laki-laki lain yang lebih menjanjikan. Tidak. Dia tidak seperti itu. Tetapi jika ia membandingkanku dengan laki-laki yang pernah bersemayam di hatinya???  Lalu dia mengingat betapa indahnya kenangan yang pernah ia lewati, betapa bahagianya rasa yang pernah ia jalani, dan betapa romantisnya waktu yang pernah ia lalui.
Jika hal itu yang memenuhi pikirannya, berarti aku belum kalah. Aku hanya perlu menemukan sesuatu yang bisa mengetuk pintu hatinya, agar bisa terbuka kembali, lalu dengan suka cita, aku akan membahagiakan hatinya. Tapi bagaimana jika yang ada di pikirannya justru tentang masa lalu yang telah mengkhianatinya? Bukankah seorang perempuan teramat sulit melupakan perasaan perih yang menusuk kalbunya? Selugu apapun seorang perempuan, jika pernah disakiti, maka ia akan merasa sangat sulit untuk menerima laki-laki lain, apalagi jika rasa sakit itu hingga kini masih menganga, menyayat lubuk hatinya, hingga tak mungkin lagi terobati. Kemudian aku, kehadiranku, kedekataknku, mungkin justru mengusik hatinya yang lelah. 
Badanku gemetar.  Perutku mulai terasa mual. Kepalaku begitu sakit tak terperi. Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku. Tapi pandangan mataku berkunang-kunang. Aku terjatuh lagi, dan ingatanku terasa menguap, meski sempat aku dengar suara sendu azan subuh dari muazin yang masih mengantuk. Lalu semuanya gelap. Sepi.
*   *   *
Matahari mungkin sudah sore saat aku terjaga. Aku tidak peduli. Toh, aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi. Aku tidak memiliki semangat lagi, tidak memilkirkan apa-apa lagi. Oh, ternyata benar kata orang, begitu sakit rasanya ketika cinta yang begitu tulus ditolak oleh seseorang yang selama ini diimpikan. 
Tiba-tiba HP ku bergetar mengagetkanku dari kelesuan. Ada sebuah sms masuk… Maz, dari tadi aq telpn kok gak diangkat2? tdr yah? Ntar mlm tmani aq ke prnkhn tmnku jam7 yah. Jgn tlat! awas! Sontak aku bangun. Gairah hidup kembali menjalari setiap nadi-nadiku. Aku tersenyum, meski kebingunganku masih menggantung. “Ah, begitu misteriusnya perempuan satu ini”, gumamku. Tapi mungkin karena itulah aku menyukainya. 

Perempuan itu tampak bersahaja mengenakan rok, terkesan feminim


Aku berteduh dari gerimis yang panjang di sebuah pinggiran toko. Udara malam terasa dingin dan begitu lama. Berbatang-batang rokok telah kuhabiskan sebagai pengisi waktu, namun, “… gerimis sialan ini belum juga reda!” gumamku. Untung saja ada toko yang masih buka dan menjual berbagai minuman kaleng, sehingga mulutku tidak terlalu sumpek dengan asap rokok.
Sebuah sepeda motor mendekat. Pakaian mereka tampak basah meski mengenakan jas hujan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka, sekedar menyapa, atau mempersilahkan mereka untuk ikut berteduh. Tapi sepasang remaja itu tak acuh. Ia langsung mengambil tempat di sebelahku tanpa permisi. “…Anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi.
Namun kuakui, sepsang kekasih remaja itu cukup serasi. Laki-laki memiliki tampang cukup macho, sementara yang perempuan cantik dan sexy. Ah, ya sexy. Ia mengenakan kaos ketat dengan celana sangat pendek. Pahanya terlihat putih mulus, apalagi ketika terkena sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang. Owh, mungkin itu sebabnya banyak perempuan yang suka menggunakan celana pendek di malam hari, biar pahanya terlihat putih ketika disorot lampu kendaraan. Sementara kalo di siang hari, sangat jarang ditemui perempuan yang menggunakan celana pendek.
Bagiku itu cukup aneh. Dalam kondisi cuaca yang panas menyengat , mereka menggunakan jaket tebal, dan celana jeans yang ketat. Sementara di malam hari, yang udaranya begitu dingin, mereka dengan suka rela mengenakan celana pendek dan kaos kecil. Apa mereka tidak merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu? Tentu saja tidak, karena dengan serta merta akan mendekap kekasihnya, dan kehangatan pun akan menjalar di seluruh tubuh mereka.
“…..Ah, anak muda zaman sekarang!” gumamku lagi. Entah apakah itu wujud protesku terhadap perkembangan zaman, atau karena kecemburuanku yang hingga saat ini masih saja menikmati kesendirian.
Gerimis mulai sedikit mereda. Aku mencoba menata diri, bersiap hendak pergi meninggalkan emperan toko itu. Seorang pelayan toko tersenyum padaku, seraya menutup tokonya. Jarum jam ternyata sudah menunjuk pukul 10 malam. Sepasang kekasih di dekatku kian bercumbu sambil tertawa ringkih. Aku menjadi risih. Aneh memang, kenapa justru aku yang merasa risih melihat orang bercumbu di tempat umum? Bukankah seharusnya mereka yang risih ketika banyak pasang mata melihat tingkah polah mereka yang tengah kasmaran.
Aku nyalakan sepeda motor. Dan tepat saat itu, seorang gadis lewat di depanku. Aku melihatnya takjub. Kususun keberanianku, dan aku menawarkan diri untuk mengantarnya.
“Boleh aku antar?” sapaku malu-malu. Entah dari mana kebernaianku seperti itu. tidak biasanya aku melakukannya.  
“Nggak usah, Mas. Deket kok.” Jawabnya singkat sambil melihatku aneh. Mungkin di dalam hatinya  ia protes. Kenal juga nggak. Sok-sok nawarin ngantar.
“Santai aja mbak. Aku ikhlas kok” tawarku serius. Dadaku serasa berdebar kencang. Ada perasaan takut ditolak mentah-mentah. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika tawaranku itu ditolak, sepasang remaja tadi tentu akan mengolokku habis-habisan, meski cuma dalam hati mereka.
“Nggak usah dech, Mas. Lagian aku bawa payung kok.” Katanya.
Benar juga…, ia membawa payung sambil melindungi dirinya dari gerimis yang kejam.
Aku tersenyum kepadanya, sambil mantap lekat ke dalam matanya. Kuberharap ia dapat membaca permohonanku melalui pandangan mata kuyuku.
“Baiklah.” Katanya tiba-tiba.
Perasaan senang bercampur gembira menelusup hangatkan nadiku yang beku. Namun sayang sekali..., hanya beberapa meter ke depan, belok kiri sedikit, lalu masuk ke gang, dan ia meminta untuk berhenti. 
“Stop di sini Mas. Di sini kostku” katanya lembut.
“Oke dech…, terima kasih sudah sudi menemaniku.” Ucapku lirih.
“Ah, semestinya aku yang berterima kasih” katanya membantah. “Tapi mengapa mas mau mengantarku? Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku merasa tidak mengenal…”
“Mau jawaban jujur atau bohong?” tanyaku memotong pertanyaannya.
“Hahahaha …. Mas ini lucu. Yang jujur saja dah… eh yang bohong aja duluan.”
“Kalo jawaban bohongnya, karena aku mengagumimu, kataku menggoda seraya melihat tubuh rampingnya yang sederhana tanpa rias molek. Wajahnya memang manis, dengan alis tebal, meski matanya tampak lesu, mungkin karena lelah setelah seharian bekerja. 
“Hahahaha….” Ia tertawa semakin keras. “Kalau jawaban jujurnya?”
“Karena kau mengenakan rok.” Jawabku singkat.
“Loh, kok? Apa hubungannya dengan rok?” Tanyanya keheranan.
“Entahlah…, aku cuma merasa bangga melihat gadis yang masih menjaga ke-feminimannya” jawabku sambil melaju.

Ya. Aku tidak sempat mengenal namanya. Aku tidak sempat bertanya tentang hidupnya. Aku juga tidak sempat meminta nomor HP atau sejenisnya agar bisa bertemu kembali atau mengenalnya lebih dekat. Tapi sudahlah.
Malam ini aku bertemu dengan seorang perempuan yang kuanggap luar biasa. Ia mengenakan rok selutut. Bagiku, perempuan itu tampak bersahaja, namun terkesan begitu feminim. Gerimis pun mereda. Aku tersenyum dalam lelapku.

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll