Arti Demokrasi dari sudut Rumah Tangga

Cecep bertanya kepada Bapaknya arti dari Demokrasi. Bapaknya kemudian menjelaskan bahwa Demokrasi itu bisa diibaratkan dalam Rumah Tangga. Bapak bertindak sbg kaum Kapitalis yg mencari nafkah, Ibu sbg Pemerintah yg mengelola hasil, Cecep sbg rakyat, adiknya sbg masa Depan yg perlu diperhatikkan dan pembantu sbg pekerja.

Suatu ketika Cecep pulang Kerumah dan mendapati adiknya sedang buang air besar dilantai. Dilihatnya Ibunya sedang tidur lelap. Cecep kemudian kekamar pembantunya untuk minta tolong. Tetapi ternyata Ia mendapati Bapaknya sedang tidur bersama Pembantunya itu.

Cecep lalu mengatakan kepada Sang Bapak:

“Pak! sekarang saya sudah tau arti Demokrasi, yaitu kaum Kapitalis “menekan” para pekerja, pemerintah tertidur lelap, rakyat tidak berani membangunkan, hanya bisa melihat masa depan yang penuh dengan kekotoran…”

__________Bersamamu dalam Kardus



Syahrul Q.

“Cuma lima juta aja.”
“Gila. Mahal banget. Loe mau meres gua, Don?”
“Loe belom liat barangnya sih…, ini bener-bener seleramu, Bro.”
“Emangnya seperti apa?”
“Hmmm…gimana yah? Susah gua jelasin. Mending Loe liat aja langsung.”
“Bening nggak?”
“Banget…!”
“Hmmm…. ya udah. Ntar gua liat dulu barangnya. Kalau barangnya emang bagus, aku bayar. Bawa aja ke tempatku.”
“Oke boss….”
Klek! Suara handphone tertutup.
Aku jadi penasaran, barang mewah seperti apa yang akan dibawa Dony malam ini. Biasanya tidak semahal itu. Paling-paling 500 ribu. Anehnya lagi, katanya dia bisa membawanya ke tempatku. Namun yang lebih aneh,untuk pertama kali ini aku merasa dadaku berdebar-debar, ada rasa penasaran, dan seakan-akan gelisah menyelimutiku bersama kelamnya malam.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di pintu gerbang yang tiada lain adalah milik Dony. Dari balik jendela kamar, kulihat ia dengan susah payah menggendong sesuatu, barang yang dijanjikannya. Hah, Dony benar-benar gila kali ini.
Dulu sekali, sekitar lima tahun yang lalu aku mengenalnya di sebuah café dalam keadaan teler. Waktu itu, aku sedang frustasi oleh sesuatu yang sangat sepele. Cewek. Ya, seorang cewek yang sangat aku cintai, pergi meninggalkanku tiba-tiba setelah mendapatkan keinginannya. Aku duduk sendiri di meja agak memojok, pesan minuman yang harganya agak mahal, dan membuatku mabuk dalam waktu yang singkat. Lalu Dony datang tersenyum ramah, menawarkan bantuan, menawarkan sesuatu, barang, sebagai tempat aku lampiaskan kekecewaanku yang menyakitkan. Dan malam ini, ia menawarkan barang yang sama, meski harganya jauh lebih mahal, karena mungkin dianggap istimewa. 


“Di mana kutaruh barangnya, Bro?” tanya Dony setelah memasuki rumahku.
“Taruh di sofa aja dulu.”
“Apa nggak perlu gua bawa masuk sekalian?”
“Tidak usah. Di sini saja.” Dony menaruh barangnya di atas sofa. “Eh, gila Loe, Don. Dari mana Loe dapatin barang mulus kayak gini?”
“Ini sih, bukan cuma mulus, tapi istimewa!” jawab Dony sambil menggeliat.
“Emang apa istimewanya?” Dony membisikkan sesuatu padaku. Suaranya terasa berat, menegangkan. Dan satu kata yang dibisikkan itu membuatku puas dan akhirnya bersepakat mengenai bisnis ilegal ini.
“Tapi gua gak bisa bayar sekarang. Besok aja ya.”
“Waaaah, masa pake ngutang segala?”
“Ini udah malam, Don. Gua belum sempat ke ATM.”
“Tapi….” Suara Dony seperti tercekat.
“Alaaah…..kaya Loe gak tau gua aja. Ntar gua tambahin kalo emang mantap. Khusus buat Loe daaaah….”
Akhirnya, dengan berat hati, Dony meninggalkan rumahku. Sementara aku, dengan mata berbinar melihat barang yang dibawa oleh Dony. Memang Benar. Barang itu terlihat bening dan mulus membuatku bergairah dan merasa tak sabar untuk menjajakinya. Ditambah lagi dengan satu kata yang dibisikkan Dony yang sepertinya sakral. Perawan.
Hingga sejauh ini, aku memang belum pernah merasakan kenikmatan menggagahi seorang perawan, apalagi jika perempuannya cantik, bening, mulus, seperti yang kini tertidur di sofa rumahku. Dadaku serasa berdebar lebih kencang, memacu jantungku yang menggerakkan nafas birahi di sekujur tubuhku. Ini benar-benar istimewa. Dony tidak salah.
Segera kugendong perempuan mabuk itu ke dalam kamarku, menidurkannya di atas springbed, dan memandang wajahnya sekali lagi. Setelah cukup puas menikmati kecantikan wajahnya, perlahan kulepas kancing bajunya, meraba kulitnya yang sensual, membelai rambut lurusnya, hingga matanya yang sembab terlihat jelas. Sepertinya ia baru saja selesai menangis.
Tidak. Aku tidak mau melakukannya sekarang. Jika aku melakukannya, berarti sama saja aku memperkosanya. Aku bukan tipe seperti itu. Sebaiknya aku tunggu hingga dia sadar. Lagian, tubuh ini terlalu mahal untuk kunikmati sendirian.
“Di mana aku?” gadis cantik itu kini sudah terjaga dengan mata bengkak.
“Kamu di rumahku.” Jawabku selembut mungkin.
“Kamu???” ia seperti terkejut, dan segera membenahi pakaiannya yang sedikit terbuka. Lalu dia menangis.
“Belum.” Kataku mendekatinya seraya duduk di dekatnya. “Aku belum melakukan apa-apa, karena aku tidak mau melakukannya tanpa kamu sadari. Nah, sekarang, setelah kamu sadar, kamu mandi, berdandan cantik, baru kita bermain. Bagaimana?”
“Apa maksudmu? Oh tidak. Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
“Bukannya aku telah membayarmu?”
“Bayar apaan?” Ia langsung berdiri dan bergegas hendak pergi. Sialan, Dony menipuku. Anak ini tidak bermaksud menjadi perempuan yang seperti itu. Tega sekali dia menjual perempuan secantik ini. Untung saja aku belum membayarnya.
“Eit, tunggu dulu.” Cegahku. “Jadi begini. Semalam, bukankah Kamu sudah sepakat sama Dony untuk tidru bersamaku?”
Ia menggeleng. Lalu menangis lagi. Begitu labil. Aku menjadi tidak tega melihatnya seperti itu. Mungkin dia hanyalah perempuan remaja yang terjebak di tempat yang salah. Kemudian Dony memanfaatkan kesempatan itu untuk menjualnya kepadaku, dengan iming-iming perawan. Terlihat dari wajahnya, memang terlalu muda untuk melakukan hal yang seseronok itu.
“Baiklah, maafkan aku. Mari kuantar Kamu pulang.”
Udara pagi berhembus lembut menyapa embun di dedaunan. Namun kota Jakarta telah sesak, sehingga memeperlambat jalanku. Perempuan itu masih terisak oleh tangisnya yang berkepanjangan. Dan entah mengapa, aura kecantikan yang dimilikinya berpendar lembut, membuatku merasakan sesuatu yang lain.
Berselang satu jam kemudian, aku tiba di rumahnya, mengantarnya masuk, berusaha bersikap sebaik mungkin kepada ayahnya. Namun tanpa kuduga, laki-laki itu langsung menampar gadis yang baru saja mulai kukagumi. Aku terhenyak melihat kejadian itu. Sekali lagi, sang ayah memukul punggungnya dengan tinju yang keras hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
“Pak.” Cegahku segera. “Bukankah ini anak Bapak? Mengapa Bapak begitu kejam? Kalau memang Bapak tidak suka sama dia, mengapa Bapak melahirkannya?” entah, datang dari mana keberanianku seperti itu ikut campur masalah keluarga orang lain.
“Ini adalah urusanku. Ini adalah rumahku. Kamu pergi dari sini!”
Aku memang tidak memiliki hak untuk ikut campur dengan keluarga itu. Akupun beranjak pergi dari rumah itu. Namun gadis yang tersungkur itu tiba-tiba meraih kakiku, seakan meminta perlindungan, atau mungkin ingin pergi dan memintaku mengantarnya. Namun aku harus menghormati privasi sebuah keluarga. Tapi di satu sisi, aku juga tidak bisa membiarkan seorang laki-laki kasar menyiksa anaknya sendiri.
Akupun meraih tangannya, dan mengajaknya berdiri.
“Kamu mau ikut aku?” tanyaku lembut.
Ia segera mangagguk cepat, malah langsung menyeret tanganku keluar dari rumah besar itu. Setengah berlari aku mengikuti langkahnya, menaiki mobil dan langsung pergi, meski sempat aku dengar, ayahnya memanggilnya kembali.
“Terima kasih, Mas.” Ucapnya lirih. “Sejujurnya aku tidak tahu lagi mau pergi kemana. Kemarin, aku sempat tinggal bersama kakekku, tapi di sana aku justru diperlakukan lebih kasar. Aku juga tidak tahu, keberadaan ibuku entah di mana. Satu-satunya jalan adalah, aku harus pergi dari rumah. Kini aku bingung….”
“Ibumu kemana?” tanyaku turut merasakan kesedihannya.
“Entahlah. Ibu sudah tidak peduli denganku sejak aku berusia lima tahun. Akhir-akhir ini, aku hanya bergantung pada nenekku, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena sikap feodal kakekku. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan perempuan paruh baya itu, tapi aku juga tidak sanggup bertahan di sana. Aku sudah tidak kuat lagi, Mas.”
“Sudahlah…, sebaiknya kamu tenangkan dirimu...” Kataku sambil menggenggam tangannya yang lembut, seraya menyalurkan keteguhan bathin.
Matahari kini telah bersinar menembus kaca mobilku. Gadis cantik yang duduk di sebelahku kini tersenyum. Ia tampak begitu cantik bila tersenyum seperti itu. Tapi tunggu, ia tersenyum sendiri, sambil berbicara dengan suara yang sangat pelan. Entah apa yang ia bicarakan, namun seperti sedang bercengkarama dengan seseorang. Sempat air matanya keluar lagi, tapi setelah itu ia tersenyum lagi.
Aneh pikirku. Apakah hal ini disebabkan oleh kedukaan yang sangat, akibat kekerasaan fisik dari keluarganya, ataukah memang dia memiliki kelainan? Tidak mungkin dia gila. Tapi mungkin saja bisa gila jika tidak segera pergi dari rumahnya. Apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?
“Kamu bicara sama siapa, Dek?” tanyaku kemudian tidak tahan dengan sikapnya yang aneh.
“Sama ibuku.” Ia tersenyum lagi.
“Ibu?”
“Ho oh…”
“Loh, bukannya tadi Kamu bilang kalau ibumu sudah pergi sejak usiamu lima tahun?”
“Ooh…bukan… ini ibuku yang lain.” Jawabnya santai.
Semakin aneh. Perempuan ini sepertinya memiliki halusinasi, atau bayangan yang ia ciptakan sendiri, mirip seperti kelainan jiwa yang disebut schizoprenia, keperibadian ganda, atau sejenisnya. Bila ini dibiarkan, perempuan ini benar-benar akan menjadi gila, kecuali ia bisa menata dirinya, kembali pada dunia realitas yang sebenarnya, dan mungkin membutuhkan adanya orang lain yang bisa ia percaya untuk berbagi. Namun hal ini membuatku berfikir juga tentang diriku, yang hingga kini masih hidup tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa penataan diri, sehingga aku tidak bisa menyebut diriku lebih baik dari perempuan ini.
Kembali kulihat matanya yang kosong. Bulir-bulir kristal bening meluncur lagi dari pelupuknya, membasahi pipinya yang merah merona. Sekali lagi kugenggam tangannya dengan kuat…,
 “Kamu tinggal bersamaku saja ya. Aku janji, tidak akan menodaimu. Tapi aku justru akan menjagamu.”
“Terima kasih, Mas.” Jawabnya sambil mengangguk terharu.


cintamu layak kubanggakan

Syahrul Q.


Tiba-tiba saja ia terisak menangis di depanku tanpa berkata-kata sambil menutupi wajahnya dengan selembar tisu. Kucoba membelai rambutnya, sambil memegang jemarinya agar bisa sedikit lebih tenang. Tapi isakan tangis itu semakin menjadi. “Ada apa?” bisikku di dekat telinganya.

“Tidak apa-apa…,” jawabnya singkat.  Kuraih dagunya, dan mengangkat kepalanya agar ia bisa melihatku, agar menyadari bahwa ada aku didepannya. Tapi mata itu terpejam. Hanya mengeluarkan tetesan air jernih dan sedikit membengkak. Ah, mata itu. Mata yang begitu tajam, yang seakan dapat meluluhkan hati siapapun yang dilihatnya, tapi malam ini, justru mata itu tak berdaya. Ia terkulai dalam duka yang tak kumengerti, apa itu.

“Baiklah. Kalau kamu tidak ingin menceritakannya sekarang, kapan-kapan saja boleh kok. Aku hanya bingung melihatmu seperti ini. Aku jadi merasa bersalah…,”

“Tidak!” sanggahnya. “Kamu tidak salah apa-apa. Ini hanyalah duka yang terkumpul sekian lama. Aku cuma butuh untuk menumpahkannya, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu.” Ia mencoba untuk tersenyum, meski terlihat getir.

Sesaat kemudian, isakan tangis itu mengeras kembali. Ia mengurut dadanya seolah menahan sakit. Kucoba beranikan diri untuk bertanya…, “Apakah ada yang menyakitimu?” ia terdiam. “Apakah ini ada hubungannya dengan keluargamu?”  ia masih terdiam. “Ataukah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu?” Ia terdiam, dan menunduk dalam.

Akupun semakin bingung. Tak ada yang bisa kulakukan, karena sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya. Aku hanya merasa gelisah karena seakan aku tidak mampu untuk menjadi sesorang tempatnya bersandar. Aku tidak mampu untuk menjadi seseorang tempat ia berbagi duka. Lalu apa fungsinya aku? Di mana rasa kemanusiaanku jika membiarkan seseorang yang aku sayangi merasakan lara, sementara aku tidak bisa menjadi pelipurnya? Betapa tak bergunanya aku.

Tapi harus kuakui, bahwa ia adalah sosok perempuan yang tegar. Selama aku bersamanya, ia jarang sekali mengeluhkan sesuatu, meski tidak jarang pula ia menunjukkan kemanjaannya sekedar mencuri perhatianku. Mungkin ini adalah wujud nyata dari prisnsip yang ia pegang, “… jika aku ingin bangkit, maka aku harus bangkit sendiri, bukan karena orang lain…, karena ketika orang lain itu tidak ada, aku (khwatir) akan jatuh lagi…”  

Ya. Dia tidak pernah meminta bantuan apapun saat bekerja, atau mengerjakan tugas-tugasnya. Ia tergolong perempuan yang cerdas. Mandiri. Dan itulah yang membuat laki-laki lain merasa iri denganku, sambil menyatakan kecemburuannya dengan pernyataan betapa beruntungnya aku mendapatkan perempuan seperti dia. Meski demikian, ia selalu mengatakan padaku bahwa aku adalah laki-laki yang memiliki segalanya, sementara dia adalah perempuan yang tidak memiliki apa-apa. Padahal kenyataannya, mungkin justru aku yang lebih kerdil di hadapannya, karena akulah yang jauh lebih sering membutuhkan bantuannya. Aku yang lebih banyak membutuhkan kehadirannya, hingga aku pernah menyatakan bahwa aku tidak bisa jauh darinya. Ia hanya tersenyum mendengar pernyataanku, sambil mengatakan, “…lebay!!!”

                                                                        *     *     *




Suasana jingga di senja yang menyejukkan, kunikmati sendiri sambil memainkan biola di teras halaman rumah. Kulantunkan berbagai lagu klasik. Itulah kebiasaanku kini setelah ia pergi.

Tapi tidak seperti biasanya, kenikmatan itu diganggu oleh sebuah pelukan tangan mungil dari belakangku. Tangan itu merangkulku erat, bahkan sampai berusaha naik ke atas punggungku untuk meraih leherku. “Papa…papa…. Ada surat dari mama. Bacakan dong, Pa!” pinta seorang gadis kecil sambil merengek manja.

Kulepas rangkulannya, dan kupangku ia dalam kehangatan kasih sayang. “Kapan terima suratnya, Sayang?” tanyaku sambil membuka amplopnya.

“Tadi siang, Pa.”

“Mas, aku di sini baik-baik saja. Semoga kamu baik-baik saja, juga anak kita. Saat aku menulis surat ini, aku teringat waktu aku pernah menangis di depanmu dulu. Kamu perlu tahu, bahwa saat itu aku hanya bisa menangis di depanmu, meski tak sanggup aku keluhkan apa yang kurasakan saat itu. Maafkan aku karena tidak langsung memberitahukanmu.

Saat itu, aku hanya merasakan kesedihan yang telah lama bergumul di hati, kesedihan akan meninggalnya ibuku, kesedihan akan pahitnya jalan hidupku (sebelum bersamamu), juga kesedihan akan semua kenangan masa lalu. Aku butuh menangis di depanmu, dan perhatianmu, cintamu, kasih sayangmu, membuatku merasa sangat takut kehilanganmu. Aku juga merasa sangat takut jika suatu saat aku menyakiti cintamu yang tulus, takut bila aku harus meninggalkanmu.

Dan kenyataannya, aku memang harus pergi, meski untuk beberapa waktu. Semoga kamu sudi menunggu kepulanganku. Kuharap kamu mengerti, yang kulakukan ini adalah persembahanku untuk cinta kita, terutama untuk masa depan keluarga kita.

Di sini, meski baru beberapa bulan, aku merindukanmu melebihi apa yang bisa aku tanggung. Setiap selesai sholat, aku tak pernah luput berdoa untukmu.

Salam hangat penuh cinta, dariku…

Kulipat kembali lembaran surat itu sambil melihat selembar foto yang terlampir di dalamnya. Serta merta aku merindukan sosok perempuan yang tergambar di dalam foto itu, sekaligus bangga melihatnya berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang antik bertuliskan Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg.“Cita-citamu berhasil…”, gumamku bangga dalam hati.

“Di situ ya mama sekolah, Pa?” tanya gadis kecil yang sedari tadi turut memperhatikan gambar di foto itu. Aku tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya membelai rambutnya yang bergelombang, sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.





TEMPAT…

Tempat, kalau dalam kamus diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menaruh, menyimpan, atau meletakkan sesuatu. Tetapi bagaimana dengan kata tempat menaruh, tempat menyimpan, atau tempat meletakkan? Bukankah ini berarti bahwa kata tempat itu sendiri memiliki makna tersendiri yang berbeda dengan definisi di atas? Sesuatu yang digunakan untuk menaruh, atau meletakkan, atau menyimpan, adalah merupakan fungsi dari tempat. Dengan demikian makna tempat itu sendiri adalah apa?

Tempat memang berfungsi untuk mewadahi sesuatu. Ia selalu berada di bawah bagi yang di atasnya, menjadi landasan tempat berpijaknya sesuatu itu, yang kemudian sekaligus mendukung sesuatu yang menempatinya. Dengan demikian, kekuatan tempat adalah memberi kekuatan bagi yang menempatinya. Ia menjadi landasan berpijak, bagi yang berdiri di atasnya, sehingga tanpa tempat, sesuatu (manusia, misalnya) tidak akan bisa berdiri. Itulah, mengapa tempat menjadi sangat penting. Jadi izinkan saya untuk mendefinisikan tempat sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk mendukung kekuatan bagi yang menempatinya.

Tempat dibangun oleh manusia (membangun adalah wujud aktivitas) dengan menggunakan alat yang dimiliki manusia, kemudian setelah tempat terbangun, selanjutnya tempatlah yang membangun manusia beserta alatnya, untuk kemudian melakukan aktivitas hidup kehidupan manusia. Tempat yang ditempati sebagai tempat beraktivitas akan menghidupkan aktivitas dan manusia itu sendiri.






Berbicara mengenai tempat, hal lainnya yang terbersit adalah bagaimana menempatkan sesuatu yang menempati tempat, sehingga tempat dapat dengan maksimal mendukung yang menempatinya. Dalam hal ini, manusia memiliki kemampuan untuk menempatkan sesuatu serta menempatkan dirinya dalam sebuah tempat.

Dengan demikian, hal yang terpenting adalah bukan bagaimana mendefinisikan tempat, melainkan bagaimana sebuah tempat itu dibangun, dan bagaimana tempat membangun yang membangun tempat. Bukan bagaimana tempat diartikan secara harfiah, melainkan bagaimana tempat itu didukung oleh manusia, alat dan aktivitas, yang selanjutnya tempat akan mendukung manusia, alat dan aktivitas.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Anda telah menmpatkan saya di dalam hati dan pikiran Anda……

Perempuan, simbol keagungan Tuhan

Islam mengajarkan, Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hal itu disebabkan  karena ibu pada hakikatnya adalah representasi Tuhan di dunia—yang penuh dengan kasih sayang, namun kadang begitu pemarah serta cerewet kalau kita nakal. Maka wajar saja, orang2 cerdas dalam persaudaraan Mason misalnya lebih senang menyebut Tuhan dengan “She” dari pada “He

Konon, masyarakat Mesir kuno, meciptakan Piramidanya sebagai lambang perempuan atau dengan huruf V terbalik. Orang Amerika begitu bangga dengan lambang kebebasan atau kemerdekaan-nya yang disebut Liberty Enlightening the World, lebih dikenal dengan nama Statue of Liberty, yang nyatanya adalah sosok perempuan. Bahkan orang-orang Prancis menyebut menara kebanggaannya Tour Eiffel dengan panggilan perempuan. Dan banyak lagi karya-karya atau hal-hal yang begitu agung adalah melambangkan sosok perempuan, dan yang paling dominan adalah, bumi diidentikkan juga dengan perempuan. Artinya, perempuan bukan semata-mata sebagai lambang keindahan atau kelembutan, meski saya sendiri selalu mengatakan bahwa representasi keindahan Tuhan adalah perempuan.

Meski demikian, hingga saat ini, masih banyak yang menganggap bahwa perempuan itu adalah makhluk yang lemah. Padahal, jika di lihat secara logika, mereka sanggup berjalan mengelilingi mall sampai tuntas tanpa lelah. Masyarakat Indonesia pada umumnya, seorang ibu bangun pagi-pagi sekali mengurus suaminya yang hendak berangkat kerja, setelah itu mengurus anak-anak, mengurus rumah, belanja ke pasar, memasak, hingga sore hari mengurus anak lagi, dan tengah malam melayani suami kembali….
Bukankah perempuan itu justru lebih kuat?

Seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya, lebih mampu bertahan bahkan sanggup mendidik dan membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. Sementara laki-laki yang ditinggalkan oleh istrinya, cenderung memilih untuk mencari istri baru….
Bukankah ini juga merupakan bukti bahwa perempuan begitu agung?




Karena itulah, orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka seperti para Mason, justru beranggapan bahwa perempuan itu adalah sesuatu yang agung.  Dalam kelemah-lembutannya tersimpan kekuatan yang begitu dahsyat, bahkan saat ia menenteskan air mata, ia kadang mampu melelehkan kekuatan laki-laki manapun. 

Skenario: Konflik Agama di Indonesia (Bag2)

Syahrul Q

SKENARIO DUA

Sekilas menengok sejarah Nusantara,  di mana masa kerajaan-kerajaan kuno sering kali terjadi peperangan antar kerajaan, sekedar untuk memperebutkan kekuasaan. Tidak peduli bahwa yang memberontak ataupun yang diberontak, adalah saudara sendiri. Dalam hal ini, para prajurit tentu saja menjadi orang yang dikorbankan, meski di sisi lain, kedua pihak kerajaan yang berseteru mengalami kerugian yang tidak terhitung lagi. Sekali lagi, hanya untuk merebut kekuasaan. Masyarakat sipil yang tidak tahu menahu soal kerajaan harus ikut terseret dalam nuansa kemiskinan, kelaparan, serta kebingungan yang berkepanjangan. Imperialisme menjadi sebuah tradisi yang diagungkan.  

Meski demikian, sisi kemanusiaan seperti kondisi lapar dan kemiskinan ini jarang sekali ditulis oleh para pemikir di zaman itu. Mereka lebih memilih menulis tentang bagaimana kehebatan para patriot di medan tempur, sikap heroik, yang disertai dengan mitos-mitos keajaiban di luar logika, yang lambat laun menelusup ke dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Kebiasaan akan mengagumi sikap heroik ini terus berlanjut hingga pada masa kemerdekaan RI tahun 1945. Para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, atau para heroik yang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda, adalah contoh yang luar biasa, yang patut diteladani. Anehnya, yang tertanam di dalam benak masyarakat bukanlah perilaku heroik sang pahlawan, tetapi lebih pada penanaman kebencian pada orang lain yang tidak sejalan[1].

Dikarenakan alam bawah sadar yang sudah ditumbuhi kebencian ini, pada pasca kemerdekaan RI, orang-orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia diusir, tanpa peduli apakah orang tersebut tentara, pengusaha, ataupun dokter yang justru menolong warga Indonesia sendiri. Masyarakat tidak peduli apakah orang Belanda itu lahir di  Indonesia, atau Indo (berketurunan Belanda). Pokoknya, Orang Belanda harus pergi dari Indonesia. 

Akan tetapi menjadi lucu, setelah orang-orang Belanda pergi, orang-orang pada umumnya masih tetap iangin menjadi lebih hero di bandingkan dengan orang lain. Musuh pun dicari-cari. Kasus “Ganyang Malaysia” adalah contoh yang paling nyata. Papua Barat, atau Timor, seakan dipaksa masuk ke wilayah Negara Kesatuan RI,  demi terwujudnya sebuah mimpi yang bernama “kekuasaan”.

Nampaknya, perang saudara yang dulu terjadi di abad kuno Nusantara, kumat lagi setelah 20 tahun Soekarno memimpin Indonesia. Ada sebagian yang percaya bahwa ia dikudeta oleh panglimanya sendiri, Soeharto. Sementara di lain tempat, perang dingin antara kaum Kapitalis dan Sosialis, tengah berlangsung, yang kemudian melalui Soeharto, kaum Kapitalis (Barat) memberangus kaum Sosialis di Indonesia, yang dalam hal ini berlabel PKI. Orang-orang PKI dibantai habis. Anehnya, alasan utama yang diusung dalam memberangus orang-orang PKI bukan saja karena aksi Gerakan 30 Sepetember, tetapi lebih karena mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka adalah orang-orang kafir. Bahkan, kekafiran PKI ini, bukan hanya dari orang-orang Islam, tetapi juga yang dari Kristen. Orang Kafir, Halal nyawanya untuk dibunuh. Dua alasan ini begitu kuat dan menakutkan, sehingga selama 30 tahun lebih, masyarakat Indonesia serasa tercuci otaknya, PKI menjadi momok yang menakutkan.

Tahun 1998, sejarah berulang kembali. Soeharto dituntut mundur oleh rakyatya, melalui aksi demo besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Reformasi. Tahun itu adalah tahun yang sangat mengerikan, karena banyak mahasiswa dan warga sipil yang menjadi korban.  Di berbagai sudut kota terjadi aksi penjarahan, perusakan, bahkan dikabarkan ada pula penyerbuan terhadap orang-orang keturunan Cina.

Krisis politik pada tahun 1998 pasca lengsernya Soeharto, para Jenderal TNI berinisiatif membentuk organisasi-organisasi massa berbasis agama. Melalui para kiyai atau pimpinan berbagai pondok pesantren, oknum-oknum TNI menjalin kerja sama untuk melawan (lebih tepat menghalau) siapa saja yang dianggap merongrong kewibawaan TNI. Terbentuklah kelompok massa yang dikenal dengan sebutan Pam Swakarsa. Mereka dijadikan tameng yang sangat kuat, brutal, untuk berbagai kepentingan.

Khusus di Jakarta, aksi massa dari Pam swakarsa ini bisa dirasakan saat terjadinya Tragedi Semanggi I, yang saat itu tengah berlangsung aksi pro dan kontra terhadap Sidang Istimewa MPR RI. Para Pam Swakarsa ini, diajak untuk turut serta melakukan aksi, yang berujung pada bentrok dengan aksi mahasiswa. Korban berjatuhan di kalangan mahasiswa. Orang-orang yang tergabung dalam pam swakarsa — yang baru saja bebas dari kungkungan Orde Baru, menjadi liar, dan berlaku anarkis. Mereka tidak segan-segan melakukan perusakan, apalagi yang di belakangnya adalah para jenderal.

Lahirnya Pam Swakarsa ini, menyulut lahirnya organisasi-organisasi masyarakat yang berbasis agama di daerah lain, atau dikenal dengan istilah “ledakan partisipasi”. Mereka biasanya diketuai oleh para kiyai, mencoba memberangus para pencuri atau penjahat, membantu polisi dalam menuntaskan berbagai kasus. Akan tetapi tindakan mereka dalam aksi penangkapan pencuri atau orang yang dicap jahat itu sangat tidak manusiawi, sebuah pembunuhan manusia yang di luar perikemanusiaan, bahkan banyak pula dikabarkan menyerbu desa dan kampung hanya untuk bertujuan menangkap dan membunuh orang yang dituju. Siapapun yang menghalangi aksi mereka, dianggap sebagai musuh. Dan yang berani menjadi musuh adalah orang-orang Kafir.

Lalu di mana hubungannya dengan Skenario Satu?
Setelah melalui proses selama 20 tahun di berbagai daerah di Indonesia, orang-orang hasil didikan Imam utusan Usamah itu kian menjadi, karena diberikan ruang tempat mereka bergerak dan beraksi, apalagi ternyata mereka mendapat dukungan dari para pejabat tinggi negara. Tetapi jika ada kelompok ini yang melenceng dari skenario, pemerintah melalui Densus 88 akan segera menangkapnya. Sehingga pada akhirnya, aksi terorisme adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat, layaknya PKI di zaman Orde Baru.

Mau tidak mau, kita harus mengakui betapa bodohnya masyarakt kita. Entahlah, apa ini akibat pembodohan di masa ORBA, atau memang sudah menjadi karakter masyarakat kita yang cenderung saling menghancurkan satu sama lain, demi dua tujuan utama yaitu kekuasaan dan bisnis. Zaman kegelapan sebelum abad pertengahan baru muncul di Indonesia. Dan satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah pencerahan pemikiran bagi masyarakat, melalu berbagai macam cara. Mungkin facebook adalah salah satunya.

Wassalam.


Catatan:

*Kebencian adalah motivasi yang sangat sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa bila saatnya diledakkan oleh pemicu sekecil apapun.

*Ada pengakuan seseorang, mengapa FPI gencar menutup beberapa diskotik kecil di Jakarta, sementara diskotik besar (misalnya yang dikuasai oleh Basri Sangaji) justru diamankan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa usaha di bidang-bidang itu yang memberikan dana, atau sejenis uang kemanan preman (sperti di masa ORBA). Itulah, mengapa Habib Ziriq berteriak lantang ingin mengusut tuntas kematian Basri Sangaji. Ternyata agama memang paling enak dijadikan isu untuk melancarkan kepentingan bisnis dan kekuasaan.


[1] Mungkin perlu dikomparasi dengan “the Other” dalam sosiologi-antropologi

Skenario: Konflik Agama di Indonesia

Oleh: Syahrul Q


SKENARIO  SATU

Berangkat dari Revolusi Iran yang pecah pada tahun 1978, sejumlah aktivis pergerakan Iran (mungkin juga termasuk Ahmadinejad, yg kini menjabat sebagai presiden Iran) yang melawan tentara milik pemerintahan Reza Pahlavi saat itu. Sempat dikabarkan bahwa Bush senior yang mendukung Pahlavi, sempat pula terkana serangan oleh para aktivis pergerakan ini, bahkan sempat ditawan. Hal ini memicu kemarahan Bush dan dendam terhadap negara tersebut.  Revolusi Iran pada tahun 1978 tersebut berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlavi, dan kemudian berdirilah negara Islam Iran seperti terlihat sekarang ini.


Di lain tempat, yakni di Arab Saudi, Usamah bin Laden, mendengar keberhasilan revolusi tersebut, lalu berangan-angan hendak membuat negara Islam layaknya Iran. Akhirnya, Usamah yang lahir 28 Juni 1957 itu berangkat ke Afganistan dalam rangka membela orang-orang Islam yang saat itu tengah diserang oleh  Soviet. Usamah saat itu dibantu oleh Amerika Serikat, dengan dibekali persenjataan-persenjataan, bahkan juga pelatihan perang. Hal ini tentu saja dilakukan oleh USA karena pada saat itu masih berlangsung perang dingin antara kaum kapitalis dengan komunis. USA tentu saja tidak mau Afganistan jatuh di tangan orang-orang komunis, sehingga berbagai cara dilakukan agar Soviet menarik pasukannya dari Afganistan. Kerja sama USA dengan Usamah saat itu berhasil dengan gemilang, terbukti Soviet mundur, lalu Afganistan kembali dikuasai oleh pemerintahan Islam.

Usamah lalu memunculkan mimpinya kembali untuk mewujudkan negara Islam. Pelatihan militer di kawasan Yaman terus dilakukan (kemungkinan, hingga saat ini masih berlangsung). Di samping persenjataan militer dari USA, kekayaan keluarganya yang cukup besar juga digunakannya sebagai modal dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Adapun langkah yang ditempuhnya adalah dengan memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim di seluruh dunia (terutama di negara berkembang) melalui pembangunan masjid dan pendirian pondok pesantren, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, sekitar awal tahun 80-an, Usamah memberikan sumbangan besar kepada orang-orang yang hendak mendikrikan masjid/ pondok pesantren, dengan satu syarat, masjid dan pondok pesanteren tersebut harus dipimpin langsung oleh imam dari orang-orang Usamah sendiri. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, karena di samping mendapat bantuan dana, mereka juga akan diajarkan oleh seorang imam dari timur tengah. Di satu sisi, saat itu juga,  pemerintahan Soeharto tengah menggalakkan pembangunan masjid, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di seluruh dunia.

Kepemimpinan para imam yang diutus oleh Usamah tersebut melakukan aksi pencucian otak terhadap para santri dan orang-orang yang ada di masjid dengan mengusung jihad,  seolah Islam kini berada di tengah medan perang, melawan orang-orang kafir, di mana yang disebut sebagai orang-orang kafir ini adalah tentu saja orang-orang yang non muslim, serta orang-orang muslim yang tidak sejalan dengan faham Usamah. Ditaknakan bahwa orang-orang kafir itu halal nyawanya.  Misalnya saja, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. (Qur’an, 47:4)” Tetapi mereka tidak menjelaskan latar belakang ayat tersebut. Mereka tidak peduli dengan kelanjutan ayat ini, yang berbunyi, “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.

Lalu apakah sebegitu muliakah tujuan Usamah?
Bagi orang-orang yang sudah tercuci otaknya, tentu saja akan menjawab “Iya”. Tetapi di lain pihak, ternyata melalui perang, ada orang-orang yang diuntungkan, terutama orang-orang yang bergerak di bisnis persenjataan. Bisnis persenjataan terbesar dikuasai oleh kelompok Bush (bukan pemerintah USA). Kompoltan Bush ini terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Usamah bin Laden, hingga saat ini.

Usamah kemudian melakukan berbagai teror di berbagai belahan dunia, yang bertujuan untuk melancarkan bisnis keluarganya. Malalui aksi teror ini, tentu saja membuat beberapa pengusaha takut untuk melanjutkan usahanya (di tempat terjadinya teror), sehingga pengusaha yang berada di bawah naungan keluarga besar Usamah bin Laden, dapat dengan leluasa bergerak. Tercatat di Indonesia, aksi terorisme pada dasarnya justru diperuntukkan kepada pengusaha-pengusaha saingan Usamah bin Laden.

Perkembangan politik di Indonesia saat ini yang hanya berorientasi pada kekuasaan, ternyata melanggengkan ajaran-ajaran yang diusung oleh para santri hasil didikan imam utusan Usamah ini. Mereka dengan intens melakukan pengajian-pengajian yang ber-inti pada perang dan jihad melawan kaum kafir.  Di samping melalui pesantren, media, internet, mereka juga menerbitkan buku-buku yang menunjukkan bukti bahwa perang melawan kafir harus dilakukan. Saatnya untuk berjihad, mati syahid, dan masuk surga.

Skenario ini, tanpa disadari sudah berjalan 20 tahun. Bila dibandingkan dengan pencucian otak yang dilakukan oleh Soeharto selama 30-an tahun, yang mampu membentuk pikiran masyarakat Indonesia anti terhadap komunisme, bagaimana dengan pencucian otak yang berlangsung selama 20 tahun ini?


__________________________________________________

catatan:

Ada seorang perempuan yang dulu tidak tahu menahu tentang Islam. Perilakunya seperti para perempuan Indonesia pada umumnya. Secara tiba-tiba, ia mengalami perubahan drastis. Ia mengenakan jilbab besar (jubah), bahkan mengenakan cadar. Ketika ditanya, mengapa menggunakan jubah sekarang? Dengan menundukkan kepada ia mwnjawab, “Karena sekarang saya tahu tentang Islam yang sebenarnya.”  Saat ditanya kembali, “Dari mana Anda mengenal Islam?” Dengan santai ia menjawab, “Dari buku!”

Tentu saja, buku yang dimaksudkan adalah buku-buku tentang jihad.





bersambung....


SKENARIO DUA

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll