Skenario: Konflik Agama di Indonesia (Bag2)

Syahrul Q

SKENARIO DUA

Sekilas menengok sejarah Nusantara,  di mana masa kerajaan-kerajaan kuno sering kali terjadi peperangan antar kerajaan, sekedar untuk memperebutkan kekuasaan. Tidak peduli bahwa yang memberontak ataupun yang diberontak, adalah saudara sendiri. Dalam hal ini, para prajurit tentu saja menjadi orang yang dikorbankan, meski di sisi lain, kedua pihak kerajaan yang berseteru mengalami kerugian yang tidak terhitung lagi. Sekali lagi, hanya untuk merebut kekuasaan. Masyarakat sipil yang tidak tahu menahu soal kerajaan harus ikut terseret dalam nuansa kemiskinan, kelaparan, serta kebingungan yang berkepanjangan. Imperialisme menjadi sebuah tradisi yang diagungkan.  

Meski demikian, sisi kemanusiaan seperti kondisi lapar dan kemiskinan ini jarang sekali ditulis oleh para pemikir di zaman itu. Mereka lebih memilih menulis tentang bagaimana kehebatan para patriot di medan tempur, sikap heroik, yang disertai dengan mitos-mitos keajaiban di luar logika, yang lambat laun menelusup ke dalam pikiran bawah sadar masyarakat. Kebiasaan akan mengagumi sikap heroik ini terus berlanjut hingga pada masa kemerdekaan RI tahun 1945. Para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan, atau para heroik yang mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda, adalah contoh yang luar biasa, yang patut diteladani. Anehnya, yang tertanam di dalam benak masyarakat bukanlah perilaku heroik sang pahlawan, tetapi lebih pada penanaman kebencian pada orang lain yang tidak sejalan[1].

Dikarenakan alam bawah sadar yang sudah ditumbuhi kebencian ini, pada pasca kemerdekaan RI, orang-orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia diusir, tanpa peduli apakah orang tersebut tentara, pengusaha, ataupun dokter yang justru menolong warga Indonesia sendiri. Masyarakat tidak peduli apakah orang Belanda itu lahir di  Indonesia, atau Indo (berketurunan Belanda). Pokoknya, Orang Belanda harus pergi dari Indonesia. 

Akan tetapi menjadi lucu, setelah orang-orang Belanda pergi, orang-orang pada umumnya masih tetap iangin menjadi lebih hero di bandingkan dengan orang lain. Musuh pun dicari-cari. Kasus “Ganyang Malaysia” adalah contoh yang paling nyata. Papua Barat, atau Timor, seakan dipaksa masuk ke wilayah Negara Kesatuan RI,  demi terwujudnya sebuah mimpi yang bernama “kekuasaan”.

Nampaknya, perang saudara yang dulu terjadi di abad kuno Nusantara, kumat lagi setelah 20 tahun Soekarno memimpin Indonesia. Ada sebagian yang percaya bahwa ia dikudeta oleh panglimanya sendiri, Soeharto. Sementara di lain tempat, perang dingin antara kaum Kapitalis dan Sosialis, tengah berlangsung, yang kemudian melalui Soeharto, kaum Kapitalis (Barat) memberangus kaum Sosialis di Indonesia, yang dalam hal ini berlabel PKI. Orang-orang PKI dibantai habis. Anehnya, alasan utama yang diusung dalam memberangus orang-orang PKI bukan saja karena aksi Gerakan 30 Sepetember, tetapi lebih karena mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka adalah orang-orang kafir. Bahkan, kekafiran PKI ini, bukan hanya dari orang-orang Islam, tetapi juga yang dari Kristen. Orang Kafir, Halal nyawanya untuk dibunuh. Dua alasan ini begitu kuat dan menakutkan, sehingga selama 30 tahun lebih, masyarakat Indonesia serasa tercuci otaknya, PKI menjadi momok yang menakutkan.

Tahun 1998, sejarah berulang kembali. Soeharto dituntut mundur oleh rakyatya, melalui aksi demo besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Reformasi. Tahun itu adalah tahun yang sangat mengerikan, karena banyak mahasiswa dan warga sipil yang menjadi korban.  Di berbagai sudut kota terjadi aksi penjarahan, perusakan, bahkan dikabarkan ada pula penyerbuan terhadap orang-orang keturunan Cina.

Krisis politik pada tahun 1998 pasca lengsernya Soeharto, para Jenderal TNI berinisiatif membentuk organisasi-organisasi massa berbasis agama. Melalui para kiyai atau pimpinan berbagai pondok pesantren, oknum-oknum TNI menjalin kerja sama untuk melawan (lebih tepat menghalau) siapa saja yang dianggap merongrong kewibawaan TNI. Terbentuklah kelompok massa yang dikenal dengan sebutan Pam Swakarsa. Mereka dijadikan tameng yang sangat kuat, brutal, untuk berbagai kepentingan.

Khusus di Jakarta, aksi massa dari Pam swakarsa ini bisa dirasakan saat terjadinya Tragedi Semanggi I, yang saat itu tengah berlangsung aksi pro dan kontra terhadap Sidang Istimewa MPR RI. Para Pam Swakarsa ini, diajak untuk turut serta melakukan aksi, yang berujung pada bentrok dengan aksi mahasiswa. Korban berjatuhan di kalangan mahasiswa. Orang-orang yang tergabung dalam pam swakarsa — yang baru saja bebas dari kungkungan Orde Baru, menjadi liar, dan berlaku anarkis. Mereka tidak segan-segan melakukan perusakan, apalagi yang di belakangnya adalah para jenderal.

Lahirnya Pam Swakarsa ini, menyulut lahirnya organisasi-organisasi masyarakat yang berbasis agama di daerah lain, atau dikenal dengan istilah “ledakan partisipasi”. Mereka biasanya diketuai oleh para kiyai, mencoba memberangus para pencuri atau penjahat, membantu polisi dalam menuntaskan berbagai kasus. Akan tetapi tindakan mereka dalam aksi penangkapan pencuri atau orang yang dicap jahat itu sangat tidak manusiawi, sebuah pembunuhan manusia yang di luar perikemanusiaan, bahkan banyak pula dikabarkan menyerbu desa dan kampung hanya untuk bertujuan menangkap dan membunuh orang yang dituju. Siapapun yang menghalangi aksi mereka, dianggap sebagai musuh. Dan yang berani menjadi musuh adalah orang-orang Kafir.

Lalu di mana hubungannya dengan Skenario Satu?
Setelah melalui proses selama 20 tahun di berbagai daerah di Indonesia, orang-orang hasil didikan Imam utusan Usamah itu kian menjadi, karena diberikan ruang tempat mereka bergerak dan beraksi, apalagi ternyata mereka mendapat dukungan dari para pejabat tinggi negara. Tetapi jika ada kelompok ini yang melenceng dari skenario, pemerintah melalui Densus 88 akan segera menangkapnya. Sehingga pada akhirnya, aksi terorisme adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat, layaknya PKI di zaman Orde Baru.

Mau tidak mau, kita harus mengakui betapa bodohnya masyarakt kita. Entahlah, apa ini akibat pembodohan di masa ORBA, atau memang sudah menjadi karakter masyarakat kita yang cenderung saling menghancurkan satu sama lain, demi dua tujuan utama yaitu kekuasaan dan bisnis. Zaman kegelapan sebelum abad pertengahan baru muncul di Indonesia. Dan satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah pencerahan pemikiran bagi masyarakat, melalu berbagai macam cara. Mungkin facebook adalah salah satunya.

Wassalam.


Catatan:

*Kebencian adalah motivasi yang sangat sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa bila saatnya diledakkan oleh pemicu sekecil apapun.

*Ada pengakuan seseorang, mengapa FPI gencar menutup beberapa diskotik kecil di Jakarta, sementara diskotik besar (misalnya yang dikuasai oleh Basri Sangaji) justru diamankan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa usaha di bidang-bidang itu yang memberikan dana, atau sejenis uang kemanan preman (sperti di masa ORBA). Itulah, mengapa Habib Ziriq berteriak lantang ingin mengusut tuntas kematian Basri Sangaji. Ternyata agama memang paling enak dijadikan isu untuk melancarkan kepentingan bisnis dan kekuasaan.


[1] Mungkin perlu dikomparasi dengan “the Other” dalam sosiologi-antropologi

Skenario: Konflik Agama di Indonesia

Oleh: Syahrul Q


SKENARIO  SATU

Berangkat dari Revolusi Iran yang pecah pada tahun 1978, sejumlah aktivis pergerakan Iran (mungkin juga termasuk Ahmadinejad, yg kini menjabat sebagai presiden Iran) yang melawan tentara milik pemerintahan Reza Pahlavi saat itu. Sempat dikabarkan bahwa Bush senior yang mendukung Pahlavi, sempat pula terkana serangan oleh para aktivis pergerakan ini, bahkan sempat ditawan. Hal ini memicu kemarahan Bush dan dendam terhadap negara tersebut.  Revolusi Iran pada tahun 1978 tersebut berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlavi, dan kemudian berdirilah negara Islam Iran seperti terlihat sekarang ini.


Di lain tempat, yakni di Arab Saudi, Usamah bin Laden, mendengar keberhasilan revolusi tersebut, lalu berangan-angan hendak membuat negara Islam layaknya Iran. Akhirnya, Usamah yang lahir 28 Juni 1957 itu berangkat ke Afganistan dalam rangka membela orang-orang Islam yang saat itu tengah diserang oleh  Soviet. Usamah saat itu dibantu oleh Amerika Serikat, dengan dibekali persenjataan-persenjataan, bahkan juga pelatihan perang. Hal ini tentu saja dilakukan oleh USA karena pada saat itu masih berlangsung perang dingin antara kaum kapitalis dengan komunis. USA tentu saja tidak mau Afganistan jatuh di tangan orang-orang komunis, sehingga berbagai cara dilakukan agar Soviet menarik pasukannya dari Afganistan. Kerja sama USA dengan Usamah saat itu berhasil dengan gemilang, terbukti Soviet mundur, lalu Afganistan kembali dikuasai oleh pemerintahan Islam.

Usamah lalu memunculkan mimpinya kembali untuk mewujudkan negara Islam. Pelatihan militer di kawasan Yaman terus dilakukan (kemungkinan, hingga saat ini masih berlangsung). Di samping persenjataan militer dari USA, kekayaan keluarganya yang cukup besar juga digunakannya sebagai modal dalam mewujudkan mimpi tersebut.

Adapun langkah yang ditempuhnya adalah dengan memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim di seluruh dunia (terutama di negara berkembang) melalui pembangunan masjid dan pendirian pondok pesantren, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, sekitar awal tahun 80-an, Usamah memberikan sumbangan besar kepada orang-orang yang hendak mendikrikan masjid/ pondok pesantren, dengan satu syarat, masjid dan pondok pesanteren tersebut harus dipimpin langsung oleh imam dari orang-orang Usamah sendiri. Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, karena di samping mendapat bantuan dana, mereka juga akan diajarkan oleh seorang imam dari timur tengah. Di satu sisi, saat itu juga,  pemerintahan Soeharto tengah menggalakkan pembangunan masjid, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di seluruh dunia.

Kepemimpinan para imam yang diutus oleh Usamah tersebut melakukan aksi pencucian otak terhadap para santri dan orang-orang yang ada di masjid dengan mengusung jihad,  seolah Islam kini berada di tengah medan perang, melawan orang-orang kafir, di mana yang disebut sebagai orang-orang kafir ini adalah tentu saja orang-orang yang non muslim, serta orang-orang muslim yang tidak sejalan dengan faham Usamah. Ditaknakan bahwa orang-orang kafir itu halal nyawanya.  Misalnya saja, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. (Qur’an, 47:4)” Tetapi mereka tidak menjelaskan latar belakang ayat tersebut. Mereka tidak peduli dengan kelanjutan ayat ini, yang berbunyi, “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.

Lalu apakah sebegitu muliakah tujuan Usamah?
Bagi orang-orang yang sudah tercuci otaknya, tentu saja akan menjawab “Iya”. Tetapi di lain pihak, ternyata melalui perang, ada orang-orang yang diuntungkan, terutama orang-orang yang bergerak di bisnis persenjataan. Bisnis persenjataan terbesar dikuasai oleh kelompok Bush (bukan pemerintah USA). Kompoltan Bush ini terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Usamah bin Laden, hingga saat ini.

Usamah kemudian melakukan berbagai teror di berbagai belahan dunia, yang bertujuan untuk melancarkan bisnis keluarganya. Malalui aksi teror ini, tentu saja membuat beberapa pengusaha takut untuk melanjutkan usahanya (di tempat terjadinya teror), sehingga pengusaha yang berada di bawah naungan keluarga besar Usamah bin Laden, dapat dengan leluasa bergerak. Tercatat di Indonesia, aksi terorisme pada dasarnya justru diperuntukkan kepada pengusaha-pengusaha saingan Usamah bin Laden.

Perkembangan politik di Indonesia saat ini yang hanya berorientasi pada kekuasaan, ternyata melanggengkan ajaran-ajaran yang diusung oleh para santri hasil didikan imam utusan Usamah ini. Mereka dengan intens melakukan pengajian-pengajian yang ber-inti pada perang dan jihad melawan kaum kafir.  Di samping melalui pesantren, media, internet, mereka juga menerbitkan buku-buku yang menunjukkan bukti bahwa perang melawan kafir harus dilakukan. Saatnya untuk berjihad, mati syahid, dan masuk surga.

Skenario ini, tanpa disadari sudah berjalan 20 tahun. Bila dibandingkan dengan pencucian otak yang dilakukan oleh Soeharto selama 30-an tahun, yang mampu membentuk pikiran masyarakat Indonesia anti terhadap komunisme, bagaimana dengan pencucian otak yang berlangsung selama 20 tahun ini?


__________________________________________________

catatan:

Ada seorang perempuan yang dulu tidak tahu menahu tentang Islam. Perilakunya seperti para perempuan Indonesia pada umumnya. Secara tiba-tiba, ia mengalami perubahan drastis. Ia mengenakan jilbab besar (jubah), bahkan mengenakan cadar. Ketika ditanya, mengapa menggunakan jubah sekarang? Dengan menundukkan kepada ia mwnjawab, “Karena sekarang saya tahu tentang Islam yang sebenarnya.”  Saat ditanya kembali, “Dari mana Anda mengenal Islam?” Dengan santai ia menjawab, “Dari buku!”

Tentu saja, buku yang dimaksudkan adalah buku-buku tentang jihad.





bersambung....


SKENARIO DUA

Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll