Arti Demokrasi dari sudut Rumah Tangga

Cecep bertanya kepada Bapaknya arti dari Demokrasi. Bapaknya kemudian menjelaskan bahwa Demokrasi itu bisa diibaratkan dalam Rumah Tangga. Bapak bertindak sbg kaum Kapitalis yg mencari nafkah, Ibu sbg Pemerintah yg mengelola hasil, Cecep sbg rakyat, adiknya sbg masa Depan yg perlu diperhatikkan dan pembantu sbg pekerja.

Suatu ketika Cecep pulang Kerumah dan mendapati adiknya sedang buang air besar dilantai. Dilihatnya Ibunya sedang tidur lelap. Cecep kemudian kekamar pembantunya untuk minta tolong. Tetapi ternyata Ia mendapati Bapaknya sedang tidur bersama Pembantunya itu.

Cecep lalu mengatakan kepada Sang Bapak:

“Pak! sekarang saya sudah tau arti Demokrasi, yaitu kaum Kapitalis “menekan” para pekerja, pemerintah tertidur lelap, rakyat tidak berani membangunkan, hanya bisa melihat masa depan yang penuh dengan kekotoran…”

__________Bersamamu dalam Kardus



Syahrul Q.

“Cuma lima juta aja.”
“Gila. Mahal banget. Loe mau meres gua, Don?”
“Loe belom liat barangnya sih…, ini bener-bener seleramu, Bro.”
“Emangnya seperti apa?”
“Hmmm…gimana yah? Susah gua jelasin. Mending Loe liat aja langsung.”
“Bening nggak?”
“Banget…!”
“Hmmm…. ya udah. Ntar gua liat dulu barangnya. Kalau barangnya emang bagus, aku bayar. Bawa aja ke tempatku.”
“Oke boss….”
Klek! Suara handphone tertutup.
Aku jadi penasaran, barang mewah seperti apa yang akan dibawa Dony malam ini. Biasanya tidak semahal itu. Paling-paling 500 ribu. Anehnya lagi, katanya dia bisa membawanya ke tempatku. Namun yang lebih aneh,untuk pertama kali ini aku merasa dadaku berdebar-debar, ada rasa penasaran, dan seakan-akan gelisah menyelimutiku bersama kelamnya malam.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di pintu gerbang yang tiada lain adalah milik Dony. Dari balik jendela kamar, kulihat ia dengan susah payah menggendong sesuatu, barang yang dijanjikannya. Hah, Dony benar-benar gila kali ini.
Dulu sekali, sekitar lima tahun yang lalu aku mengenalnya di sebuah café dalam keadaan teler. Waktu itu, aku sedang frustasi oleh sesuatu yang sangat sepele. Cewek. Ya, seorang cewek yang sangat aku cintai, pergi meninggalkanku tiba-tiba setelah mendapatkan keinginannya. Aku duduk sendiri di meja agak memojok, pesan minuman yang harganya agak mahal, dan membuatku mabuk dalam waktu yang singkat. Lalu Dony datang tersenyum ramah, menawarkan bantuan, menawarkan sesuatu, barang, sebagai tempat aku lampiaskan kekecewaanku yang menyakitkan. Dan malam ini, ia menawarkan barang yang sama, meski harganya jauh lebih mahal, karena mungkin dianggap istimewa. 


“Di mana kutaruh barangnya, Bro?” tanya Dony setelah memasuki rumahku.
“Taruh di sofa aja dulu.”
“Apa nggak perlu gua bawa masuk sekalian?”
“Tidak usah. Di sini saja.” Dony menaruh barangnya di atas sofa. “Eh, gila Loe, Don. Dari mana Loe dapatin barang mulus kayak gini?”
“Ini sih, bukan cuma mulus, tapi istimewa!” jawab Dony sambil menggeliat.
“Emang apa istimewanya?” Dony membisikkan sesuatu padaku. Suaranya terasa berat, menegangkan. Dan satu kata yang dibisikkan itu membuatku puas dan akhirnya bersepakat mengenai bisnis ilegal ini.
“Tapi gua gak bisa bayar sekarang. Besok aja ya.”
“Waaaah, masa pake ngutang segala?”
“Ini udah malam, Don. Gua belum sempat ke ATM.”
“Tapi….” Suara Dony seperti tercekat.
“Alaaah…..kaya Loe gak tau gua aja. Ntar gua tambahin kalo emang mantap. Khusus buat Loe daaaah….”
Akhirnya, dengan berat hati, Dony meninggalkan rumahku. Sementara aku, dengan mata berbinar melihat barang yang dibawa oleh Dony. Memang Benar. Barang itu terlihat bening dan mulus membuatku bergairah dan merasa tak sabar untuk menjajakinya. Ditambah lagi dengan satu kata yang dibisikkan Dony yang sepertinya sakral. Perawan.
Hingga sejauh ini, aku memang belum pernah merasakan kenikmatan menggagahi seorang perawan, apalagi jika perempuannya cantik, bening, mulus, seperti yang kini tertidur di sofa rumahku. Dadaku serasa berdebar lebih kencang, memacu jantungku yang menggerakkan nafas birahi di sekujur tubuhku. Ini benar-benar istimewa. Dony tidak salah.
Segera kugendong perempuan mabuk itu ke dalam kamarku, menidurkannya di atas springbed, dan memandang wajahnya sekali lagi. Setelah cukup puas menikmati kecantikan wajahnya, perlahan kulepas kancing bajunya, meraba kulitnya yang sensual, membelai rambut lurusnya, hingga matanya yang sembab terlihat jelas. Sepertinya ia baru saja selesai menangis.
Tidak. Aku tidak mau melakukannya sekarang. Jika aku melakukannya, berarti sama saja aku memperkosanya. Aku bukan tipe seperti itu. Sebaiknya aku tunggu hingga dia sadar. Lagian, tubuh ini terlalu mahal untuk kunikmati sendirian.
“Di mana aku?” gadis cantik itu kini sudah terjaga dengan mata bengkak.
“Kamu di rumahku.” Jawabku selembut mungkin.
“Kamu???” ia seperti terkejut, dan segera membenahi pakaiannya yang sedikit terbuka. Lalu dia menangis.
“Belum.” Kataku mendekatinya seraya duduk di dekatnya. “Aku belum melakukan apa-apa, karena aku tidak mau melakukannya tanpa kamu sadari. Nah, sekarang, setelah kamu sadar, kamu mandi, berdandan cantik, baru kita bermain. Bagaimana?”
“Apa maksudmu? Oh tidak. Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
“Bukannya aku telah membayarmu?”
“Bayar apaan?” Ia langsung berdiri dan bergegas hendak pergi. Sialan, Dony menipuku. Anak ini tidak bermaksud menjadi perempuan yang seperti itu. Tega sekali dia menjual perempuan secantik ini. Untung saja aku belum membayarnya.
“Eit, tunggu dulu.” Cegahku. “Jadi begini. Semalam, bukankah Kamu sudah sepakat sama Dony untuk tidru bersamaku?”
Ia menggeleng. Lalu menangis lagi. Begitu labil. Aku menjadi tidak tega melihatnya seperti itu. Mungkin dia hanyalah perempuan remaja yang terjebak di tempat yang salah. Kemudian Dony memanfaatkan kesempatan itu untuk menjualnya kepadaku, dengan iming-iming perawan. Terlihat dari wajahnya, memang terlalu muda untuk melakukan hal yang seseronok itu.
“Baiklah, maafkan aku. Mari kuantar Kamu pulang.”
Udara pagi berhembus lembut menyapa embun di dedaunan. Namun kota Jakarta telah sesak, sehingga memeperlambat jalanku. Perempuan itu masih terisak oleh tangisnya yang berkepanjangan. Dan entah mengapa, aura kecantikan yang dimilikinya berpendar lembut, membuatku merasakan sesuatu yang lain.
Berselang satu jam kemudian, aku tiba di rumahnya, mengantarnya masuk, berusaha bersikap sebaik mungkin kepada ayahnya. Namun tanpa kuduga, laki-laki itu langsung menampar gadis yang baru saja mulai kukagumi. Aku terhenyak melihat kejadian itu. Sekali lagi, sang ayah memukul punggungnya dengan tinju yang keras hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
“Pak.” Cegahku segera. “Bukankah ini anak Bapak? Mengapa Bapak begitu kejam? Kalau memang Bapak tidak suka sama dia, mengapa Bapak melahirkannya?” entah, datang dari mana keberanianku seperti itu ikut campur masalah keluarga orang lain.
“Ini adalah urusanku. Ini adalah rumahku. Kamu pergi dari sini!”
Aku memang tidak memiliki hak untuk ikut campur dengan keluarga itu. Akupun beranjak pergi dari rumah itu. Namun gadis yang tersungkur itu tiba-tiba meraih kakiku, seakan meminta perlindungan, atau mungkin ingin pergi dan memintaku mengantarnya. Namun aku harus menghormati privasi sebuah keluarga. Tapi di satu sisi, aku juga tidak bisa membiarkan seorang laki-laki kasar menyiksa anaknya sendiri.
Akupun meraih tangannya, dan mengajaknya berdiri.
“Kamu mau ikut aku?” tanyaku lembut.
Ia segera mangagguk cepat, malah langsung menyeret tanganku keluar dari rumah besar itu. Setengah berlari aku mengikuti langkahnya, menaiki mobil dan langsung pergi, meski sempat aku dengar, ayahnya memanggilnya kembali.
“Terima kasih, Mas.” Ucapnya lirih. “Sejujurnya aku tidak tahu lagi mau pergi kemana. Kemarin, aku sempat tinggal bersama kakekku, tapi di sana aku justru diperlakukan lebih kasar. Aku juga tidak tahu, keberadaan ibuku entah di mana. Satu-satunya jalan adalah, aku harus pergi dari rumah. Kini aku bingung….”
“Ibumu kemana?” tanyaku turut merasakan kesedihannya.
“Entahlah. Ibu sudah tidak peduli denganku sejak aku berusia lima tahun. Akhir-akhir ini, aku hanya bergantung pada nenekku, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena sikap feodal kakekku. Aku sebenarnya tidak tega meninggalkan perempuan paruh baya itu, tapi aku juga tidak sanggup bertahan di sana. Aku sudah tidak kuat lagi, Mas.”
“Sudahlah…, sebaiknya kamu tenangkan dirimu...” Kataku sambil menggenggam tangannya yang lembut, seraya menyalurkan keteguhan bathin.
Matahari kini telah bersinar menembus kaca mobilku. Gadis cantik yang duduk di sebelahku kini tersenyum. Ia tampak begitu cantik bila tersenyum seperti itu. Tapi tunggu, ia tersenyum sendiri, sambil berbicara dengan suara yang sangat pelan. Entah apa yang ia bicarakan, namun seperti sedang bercengkarama dengan seseorang. Sempat air matanya keluar lagi, tapi setelah itu ia tersenyum lagi.
Aneh pikirku. Apakah hal ini disebabkan oleh kedukaan yang sangat, akibat kekerasaan fisik dari keluarganya, ataukah memang dia memiliki kelainan? Tidak mungkin dia gila. Tapi mungkin saja bisa gila jika tidak segera pergi dari rumahnya. Apa yang harus kulakukan dengan gadis ini?
“Kamu bicara sama siapa, Dek?” tanyaku kemudian tidak tahan dengan sikapnya yang aneh.
“Sama ibuku.” Ia tersenyum lagi.
“Ibu?”
“Ho oh…”
“Loh, bukannya tadi Kamu bilang kalau ibumu sudah pergi sejak usiamu lima tahun?”
“Ooh…bukan… ini ibuku yang lain.” Jawabnya santai.
Semakin aneh. Perempuan ini sepertinya memiliki halusinasi, atau bayangan yang ia ciptakan sendiri, mirip seperti kelainan jiwa yang disebut schizoprenia, keperibadian ganda, atau sejenisnya. Bila ini dibiarkan, perempuan ini benar-benar akan menjadi gila, kecuali ia bisa menata dirinya, kembali pada dunia realitas yang sebenarnya, dan mungkin membutuhkan adanya orang lain yang bisa ia percaya untuk berbagi. Namun hal ini membuatku berfikir juga tentang diriku, yang hingga kini masih hidup tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa penataan diri, sehingga aku tidak bisa menyebut diriku lebih baik dari perempuan ini.
Kembali kulihat matanya yang kosong. Bulir-bulir kristal bening meluncur lagi dari pelupuknya, membasahi pipinya yang merah merona. Sekali lagi kugenggam tangannya dengan kuat…,
 “Kamu tinggal bersamaku saja ya. Aku janji, tidak akan menodaimu. Tapi aku justru akan menjagamu.”
“Terima kasih, Mas.” Jawabnya sambil mengangguk terharu.


Popular Posts

Ikutan

  • - Ketika Ada Deretan Kata Pilih, Memilih, Pemilihan, Pilihan, dst….
  • 00:04 - *I take my broken heart and turn it into fart*. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton *Carrie*, film karya Brian ...
  • Kebenaran - Di dunia yang kita tempati sekarang ini, ada banyak tipu muslihat yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling kita, dan bisa jadi oleh diri kita sendiri. An...
  • Survey atau Survei? - Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang senantiasa mengalami perkembangan, tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Pengaruh b...
  • Minta kritik sarannya - ini hanya usaha susah payah dari tangan amatir, mohon dengan sangat MASUKAN, KRITIKAN, SARAN untuk semua konsep baik dari cover, isi rubrik, dll (bila perlu ...
jendela indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Syahrul Qodri
Orang merdeka, jadi selayaknyalah bila bersikap dan berperilaku layaknya orang merdeka
Lihat profil lengkapku

About this blog

Blogroll