Syahrul Q.
Tiba-tiba saja ia terisak menangis di depanku tanpa berkata-kata sambil menutupi wajahnya dengan selembar tisu. Kucoba membelai rambutnya, sambil memegang jemarinya agar bisa sedikit lebih tenang. Tapi isakan tangis itu semakin menjadi. “Ada apa?” bisikku di dekat telinganya.
“Tidak apa-apa…,” jawabnya singkat. Kuraih dagunya, dan mengangkat kepalanya agar ia bisa melihatku, agar menyadari bahwa ada aku didepannya. Tapi mata itu terpejam. Hanya mengeluarkan tetesan air jernih dan sedikit membengkak. Ah, mata itu. Mata yang begitu tajam, yang seakan dapat meluluhkan hati siapapun yang dilihatnya, tapi malam ini, justru mata itu tak berdaya. Ia terkulai dalam duka yang tak kumengerti, apa itu.
“Baiklah. Kalau kamu tidak ingin menceritakannya sekarang, kapan-kapan saja boleh kok. Aku hanya bingung melihatmu seperti ini. Aku jadi merasa bersalah…,”
“Tidak!” sanggahnya. “Kamu tidak salah apa-apa. Ini hanyalah duka yang terkumpul sekian lama. Aku cuma butuh untuk menumpahkannya, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali denganmu.” Ia mencoba untuk tersenyum, meski terlihat getir.
Sesaat kemudian, isakan tangis itu mengeras kembali. Ia mengurut dadanya seolah menahan sakit. Kucoba beranikan diri untuk bertanya…, “Apakah ada yang menyakitimu?” ia terdiam. “Apakah ini ada hubungannya dengan keluargamu?” ia masih terdiam. “Ataukah sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu?” Ia terdiam, dan menunduk dalam.
Akupun semakin bingung. Tak ada yang bisa kulakukan, karena sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya. Aku hanya merasa gelisah karena seakan aku tidak mampu untuk menjadi sesorang tempatnya bersandar. Aku tidak mampu untuk menjadi seseorang tempat ia berbagi duka. Lalu apa fungsinya aku? Di mana rasa kemanusiaanku jika membiarkan seseorang yang aku sayangi merasakan lara, sementara aku tidak bisa menjadi pelipurnya? Betapa tak bergunanya aku.
Tapi harus kuakui, bahwa ia adalah sosok perempuan yang tegar. Selama aku bersamanya, ia jarang sekali mengeluhkan sesuatu, meski tidak jarang pula ia menunjukkan kemanjaannya sekedar mencuri perhatianku. Mungkin ini adalah wujud nyata dari prisnsip yang ia pegang, “… jika aku ingin bangkit, maka aku harus bangkit sendiri, bukan karena orang lain…, karena ketika orang lain itu tidak ada, aku (khwatir) akan jatuh lagi…”
Ya. Dia tidak pernah meminta bantuan apapun saat bekerja, atau mengerjakan tugas-tugasnya. Ia tergolong perempuan yang cerdas. Mandiri. Dan itulah yang membuat laki-laki lain merasa iri denganku, sambil menyatakan kecemburuannya dengan pernyataan betapa beruntungnya aku mendapatkan perempuan seperti dia. Meski demikian, ia selalu mengatakan padaku bahwa aku adalah laki-laki yang memiliki segalanya, sementara dia adalah perempuan yang tidak memiliki apa-apa. Padahal kenyataannya, mungkin justru aku yang lebih kerdil di hadapannya, karena akulah yang jauh lebih sering membutuhkan bantuannya. Aku yang lebih banyak membutuhkan kehadirannya, hingga aku pernah menyatakan bahwa aku tidak bisa jauh darinya. Ia hanya tersenyum mendengar pernyataanku, sambil mengatakan, “…lebay!!!”
* * *
Suasana jingga di senja yang menyejukkan, kunikmati sendiri sambil memainkan biola di teras halaman rumah. Kulantunkan berbagai lagu klasik. Itulah kebiasaanku kini setelah ia pergi.
Tapi tidak seperti biasanya, kenikmatan itu diganggu oleh sebuah pelukan tangan mungil dari belakangku. Tangan itu merangkulku erat, bahkan sampai berusaha naik ke atas punggungku untuk meraih leherku. “Papa…papa…. Ada surat dari mama. Bacakan dong, Pa!” pinta seorang gadis kecil sambil merengek manja.
Kulepas rangkulannya, dan kupangku ia dalam kehangatan kasih sayang. “Kapan terima suratnya, Sayang?” tanyaku sambil membuka amplopnya.
“Tadi siang, Pa.”
“Mas, aku di sini baik-baik saja. Semoga kamu baik-baik saja, juga anak kita. Saat aku menulis surat ini, aku teringat waktu aku pernah menangis di depanmu dulu. Kamu perlu tahu, bahwa saat itu aku hanya bisa menangis di depanmu, meski tak sanggup aku keluhkan apa yang kurasakan saat itu. Maafkan aku karena tidak langsung memberitahukanmu.
Saat itu, aku hanya merasakan kesedihan yang telah lama bergumul di hati, kesedihan akan meninggalnya ibuku, kesedihan akan pahitnya jalan hidupku (sebelum bersamamu), juga kesedihan akan semua kenangan masa lalu. Aku butuh menangis di depanmu, dan perhatianmu, cintamu, kasih sayangmu, membuatku merasa sangat takut kehilanganmu. Aku juga merasa sangat takut jika suatu saat aku menyakiti cintamu yang tulus, takut bila aku harus meninggalkanmu.
Dan kenyataannya, aku memang harus pergi, meski untuk beberapa waktu. Semoga kamu sudi menunggu kepulanganku. Kuharap kamu mengerti, yang kulakukan ini adalah persembahanku untuk cinta kita, terutama untuk masa depan keluarga kita.
Di sini, meski baru beberapa bulan, aku merindukanmu melebihi apa yang bisa aku tanggung. Setiap selesai sholat, aku tak pernah luput berdoa untukmu.
Salam hangat penuh cinta, dariku…”
Kulipat kembali lembaran surat itu sambil melihat selembar foto yang terlampir di dalamnya. Serta merta aku merindukan sosok perempuan yang tergambar di dalam foto itu, sekaligus bangga melihatnya berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang antik bertuliskan Ruprecht-Karls-Universität Heidelberg.“Cita-citamu berhasil…”, gumamku bangga dalam hati.
“Di situ ya mama sekolah, Pa?” tanya gadis kecil yang sedari tadi turut memperhatikan gambar di foto itu. Aku tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata. Aku hanya membelai rambutnya yang bergelombang, sambil mendaratkan sebuah kecupan lembut di keningnya.